SOLO MENARI- Wakil Walikota, FX Hadi Rudyatmo, menari disaksikan warga di Car Free Day Jl Slamet Riyadi Solo, Minggu (29/4/2012). Acara tersebut merupakan bagian dari rangkaian Solo Menari 24 Jam untuk memperingati Hari Tari Dunia. (JIBI/SOLOPOS/Dwi Prasetya)
SOLO MENARI- Wakil Walikota, FX Hadi Rudyatmo, menari disaksikan warga di Car Free Day Jl Slamet Riyadi Solo, Minggu (29/4/2012). Acara tersebut merupakan bagian dari rangkaian Solo Menari 24 Jam untuk memperingati Hari Tari Dunia. (JIBI/SOLOPOS/Dwi Prasetya)

SOLO--Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Solo Widdi Srihanto mengatakan bahwa kesuksesan Solo Menari 24 Jam sulit diukur, apalagi jika dikaitkan dengan berapa wisatawan yang datang.

“Sebetulnya substansi acara ini adalah melestarikan budaya tari. Ketika acara meriah, diharapkan branding Kota Solo semakin kuat sehingga pariwisata bisa berjalan,” katanya.

Data wisatawan yang hadir dalam gelaran Solo Menari 24 Jam sulit dihimpun karena Disbudpar mengaku tak bisa bekerja sendirian. Widdi menganggap bahwa peran pihak swasta untuk ikut memanfaatkan acara ini sangat penting. Dari promosi dan paket wisata yang ditawarkan hotel atau agen travel misal, Disbudpar sebetulnya bisa memprediksi peningkatan jumlah wisatawan ketika acara-acara seni besar digelar.

“Tapi saya kira acara kali ini belum dimanfaatkan secara optimal oleh pihak swasta jadi kita tidak bisa memperoleh data tersebut,” tambah Widdi saat ditemui JIBI, Senin (30/4/2012).

Di sisi lain, Ketua Badan Promosi Pariwisata Indonesia Kota Solo (BPPIS) Hidayatullah Al Banjari berpendapat tugas terbesar ke depan adalah melakukan sinergi antara banyak pihak agar pariwisata Solo dapat maju lebih signifikan.

“Saya pikir tantangan terbesar saat ini adalah meningkatkan jumlah wisatawan sehingga dapat menaikkan tingkat okupansi hotel-hotel di Kota Solo. Tentu ini jadi tugas bersama karena kita tidak bisa jualan sendiri-sendiri,” kata Hidayat dalam kesempatan yang sama.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten