Suasana diskusi Forum Muda Visioner dengan tema Menggagas Visi Kota menyimak ungkapan harapan dan mimpi peserta diskusi di Warung Cendhana Wangi lantai II Pasar Gede Solo, Jumat (6/9/2019) malam. (Solopos-Kurniawan)

Solopos.com, SOLO -- Kota Solo masih memiliki segudang masalah yang butuh penyelesaian segera. Seperti masalah kemiskinan, pengangguran, kepadatan penduduk, kemacetan, hingga ketergantungan anggaran kepada pusat.

Gencarnya pembangunan fisik dan investasi di Kota Solo beberapa tahun terakhir dirasa belum cukup untuk menjawab tantangan masa depan. Sebagai daerah yang luasannya sangat kecil dan tak punya potensi sumber daya alam, Solo butuh sosok pemimpin visioner dan berani berpikir out of the box.

Demikian inti sari diskusi Forum Muda Visioner dengan tema Menggagas Visi Kota di Warung Cendhana Wangi lantai II Pasar Gede Solo, Jumat (6/9/2019) malam. Diskusi menghadirkan sejumlah pemikir dan aktivis muda sebagai pembicara.

Yakni Rektor Universitas Surakarta (Unsa), Arya Surendra; profesional muda, Respati Ardi; pengusaha muda, M. Syamsul Hadi; pegiat sosial, Diah Warih Anjari; legislator muda DPRD Solo, Antonius Yogo Prabowo dan Ginda Ferachtriawan.

Dalam paparannya, Arya Surendra menilai saat ini Solo mempunyai banyak masalah yang belum terselesaikan. Program yang dijalankan untuk menyelesaikan masalah baru sebatas tambal sulam.

Sayangnya pendekatan solusi tersebut terkadang justru melahirkan persoalan baru bagi masyarakat. Contohnya pembangunan overpass (jalan layang) Manahan untuk mengatasi kemacetan yang justru memicu masalah baru aksesibilitas pesepeda.

Ke depan mestinya pembangunan di Solo sudah melalui perencanaan yang matang dalam kerangka grand design pembangunan yang rigid. “Di era 4.0 saya berharap Solo jadi kota ramah teknologi. Teknolongi untuk perbaiki kehidupan,” urai dia.

Sedangkan Diah Warih Anjari menilai pembangunan Solo beberapa tahun terakhir sudah baik. Tapi ke depan dia menilai Solo bisa dibawa menjadi lebih baik. Salah satunya dengan mengembangkan ekonomi kreatif serta menarik para investor.

“Arahnya untuk mewujudkan Solo yang lebih nyaman bagi semua lapisan masyarakat, baik pejalan kaki, pesepeda, dan masyarakat umum. Pembangunan harus diarahkan dengan sungguh-sungguh untuk meningkatkan kesejahteraan,” terang dia.

Aspek kemandirian kota menurut Warih juga perlu terus didorong. Salah satunya dengan optimalisasi badan-badan usaha milik daerah (BUMD). Para pengusaha (investor) harus ikut dilibatkan mewujudkan Solo yang sejahtera.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten

%d blogger menyukai ini: