Solo Bikin Film Mitologi Pria Jawa di Viu Shorts Musim Kedua
SVP Marketing Viu, Myra Suraryo (kiri) beserta tim dan Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Solo Budi Sartono (tengah) saat jumpa pers di Bengawan Solo Park, Selasa (28/1/2020). (Solopos/Ika Yuniati).

Solopos.com, SOLO – Program pengembangan dunia sinema remaja dalam bentuk workshop dan pembuatan film pendek bertajuk Viu Shorts! kembali digelar. Memasuki musim kedua, mereka menambah jumlah kota kunjungan, dari 17 pada 2018 menjadi 20 titik se-Indonesia.

Salah satu daerah yang menjadi sasaran produksi adalah Kota Solo. Disusul 19 tempat lain seperti Klungkung, Atambua, Mataram, Cilacap, dan Majalengka. Kegiatan pada musim kedua ini dimulai Agustus 2019, dan terus berlanjut hingga Maret 2020.

Di Solo, tim Viu Shorts! sudah melakukan proses seleksi hingga kelas workshop beberapa pekan lalu dengan jumlah peserta 40 remaja pegiat sinema. Agenda dilanjutkan dengan pembuatan film pendek.

Syuting perdana dilakukan, Selasa (28/1/2020) pagi di wilayah Polokarto-Sukoharjo, Pasar Burung Depok, Banjarsari-Solo, dan wilayah lain. Kegiatan ini akan dilakukan selama lima hari dengan didampingi tiga mentor profesional.

Selanjutnya, materi gambar akan diedit tim Viu Shorts! di markas mereka kawasan Magelang, Jawa Tengah. Publikasi film rencananya dilakukan awal Mei 2020 di layanan streaming Viu.

Proses syuting yang dilakukan tim Viu Shorts Solo. (Istimewa/Viu Shorts)
Proses syuting yang dilakukan tim Viu Shorts Solo. (Istimewa/Viu Shorts)

Produser Viu Shorts!, Edo Sitanggang, dalam jumpa pers di Bengawan Solo Park, mengatakan tim Viu Shorts! Solo mengambil tema tentang konsep Lima Wasta. Genrenya fiksi dengan durasi maksimal 10 menit.

Lima Wasta adalah mitologi Jawa yang menyoal soal karakter wajib pria Jawa. Konstruksi gender ini mengharuskan laki-laki memiliki lima hal agar disebut sempurna yaitu Wisma, Wanita, Turangga, Kukila, dan Curiga.

Wisma berarti rumah, wanita yaitu perempuan atau istri, turonggo adalah kuda atau kendaraan, kukilo berarti hobi yang menunjukkan karakter seseorang, dan terakhir adalah curigo sebagai simbol pusaka atau pekerjaan mapan.

Edo mengatakan, tema tersebut dipilih setelah diskusi panjang. Sebelumnya ada beberapa usulan lain terkait Solo dan mitologi Jawa. Namun, akhirnya memilih Lima Wasta karena dianggap cukup menarik, serta terkait di banyak negara.

Kualitas Internasional

Senior Vice President Marketing Viu, Myra Suraryo, menambahkan Viu Shorts! musim pertama sukses menghasilkan 17 karya film pendek dengan tema mitos lokal. Namun, eksekusi karyanya dibuat dengan kualitas global.

Mengingat jangkauan publikasi Viu yang dioperasikan oleh PCCW Media Grup ini tak hanya Indonesia, tapi tersebar di 16 negara. Harapan besarnya, karya anak muda ini menjadi media promosi budaya daerah. Sekaligus jadi awal regenerasi sineas muda.

Sehingga ke depan, pusat kreativitas film tak hanya di ibukota, tapi juga kota-kota kedua seperti Solo dan lainnya. Lebih lanjut, Myra, mengatakan semua kegiatan mulai proses produksi, distribusi, hingga promosi didukung oleh Viu.

Karya terbaik versi penonton yang dilihat berdasarkan jumlah penonton terbanyak bakal dianugerahi penghargaan. Sementara satu sineas muda berbakat akan diberi beasiswa pendidikan di salah satu kampus seni Jakarta.

Beberapa judul legenda daerah yang diusung Viu Shorts tahun lalu cukup menarik. Misalnya cerita tentang Abu Ajaib di Bojonegoro, Tiga Batu di Kupang, Kalambu sebagai mitos Banjarmasin, dan Kue Kasidah sebagai mitos Siak. Genrenya beragam sesuai dengan karakter setiap daerah. Ada yang mengusung genre horor, drama, komedi, hingga film musikal.

Mitos Siak mendapat predikat terbaik berdasarkan penilaian jumlah penonton terbanyak. Sementara Viu Shorts! Maumere berjudul Miu Mai terpilih sebagai best of short from content dari Indonesia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho