Tutup Iklan
Model berpose di catwalk saat mengenakan busana bernuansa batik koleksi Pisalin by Tokosolopos dengan tema Puspa Sembadra dalam acara Solo Batik Fashion (SBF) 11 di halaman Balai Kota Solo, Minggu (20/10). (Solopos/M. Ferri Setiawan)

Solopos.com, SOLO - Melintasi satu dekade, pergelaran busana tahunan Solo Batik Fashion (SBF) 2019 yang digelar di pelataran Balai Kota Solo, Sabtu-Minggu (19/20/2019) malam WIB, melangkah keluar dari zona nyaman.

Desainer Rory Wardana selaku direktur artistik berkolaborasi dengan desainer Joko SSP sebagai penata musik sekaligus koreografi. Beranda dan atap pendapa Balai Kota disolek dengan sorot lampu warna-warni bermotif semarak sebagai latar pertunjukan.

Musik pengiring pembukaan pertunjukan bertema Solo Membatik Dunia itu dibuat segar di kuping pengapresiasi fesyen dengan komposisi gamelan. Sinden dan niyaga membawakan tembang Cublak-cublak Suweng disambung Rujak Uleg berirama cepat laiknya tempo yang biasa digeber di panggung peragaan busana.

Dari balik pintu latar berwarna merah menyala, model dadakan dari kalangan lurah, camat, dan aparat sipil negara dari Dinas Pariwisata dan Dinas Kebudayaan Kota Bengawan bergantian lenggak-lenggok di panggung berbentuk huruf “W” dengan busana kreasi komunitas UMKM setempat.

Ada yang luwes bergaya bak model profesional. Namun ada juga canggung tampil di hadapan penonton. “Segini banyak enggak ada yang jalannya betul [laiknya model profesional],” seloroh Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, mengomentari aksi jajarannya menjadi model dadakan. “Takut jatuh kayaknya,” sambungnya lagi direspons tawa hadirin.

Wali Kota menuturkan eksistensi jajarannya di panggung fesyen punya pesan. Seperti kata batik yang secara harfiah berasal dari ‘mbabar titik’ atau menghubungkan titik-titik dari lelehan malam yang dihangatkan sampai membentuk pola motif. Rudy juga berharap teknik wastra Nusantara yang diakui sebagai warisan tak benda ini berkembang ke arah positif.

“Sekarang produk batik dari luar Indonesia banyak masuk ke sini. Adanya pertunjukan fesyen semacam ini, semoga makin banyak masyarakat pakai batik, terutama produk lokal untuk mengembangkan ekonomi kreatif Kota Solo.”

Salah satu koleksi Pisalin by Toko Solopos yang diperagakan di Solo Batik Fashion (SBF) 2019. (Istimewa)

Pergelaran SBF 2019 kian berwarna ketika Ria Soenaryo mempresentasikan rancangan bertema Seusai Itu. Para model profesional membawakan delapan atasan kebaya langgam modern elegan dengan tampilan bersahaja yang disandingkan dengan bawahan batik pesisiran rancangannya.

Konsep pertunjukan desainer sekaligus makeup artist (MuA) Soloraya ini dikemas unik. Ia mengawinkan peragaan busananya dengan aksi panggung langsung penyanyi pop Egha Latoya membawakan lagu Kamu dan Kenangan.

Spirit kolaborasi dengan seniman batik diwakili desainer Tuty Adib yang menggandeng batik Agung Wibowo. Ia menyolek batik flora rona sogan menjadi tampilan busana santun modern dengan memainkan konsep volume dan layering. “Saya ingin memberikan ruang penghargaan bagi seniman batik,” tutur Tuty Adib.

Sementara itu, semangat mengeksplorasi kreativitas batik mendorong Pisalin by Tokosolopos berpartisipasi di SBF 2019. Eksistensi perdana jenama berumur dua tahun yang telah menjangkau pasar nasional ini ditandai delapan rancangan bertema Puspa Sembadra. Rancangannya merepresentasikan keluwesan perempuan yang bisa tegas, kuat, sekaligus feminin.

Hadir juga rancangan dari Owen Joe, Tiara Oscar, Saje by Anita Sari, Batik Riana Kesuma, Ima Imaza, Deny Joko Novianto, Nasha by Mila, Astuti Karisma, Yunus J. Waluyo, Monica Hadiyanti, dan Batik Agung Wibowo.

Partisipasi lainnya datang dari Haryanto Batik, Cindy Sosrodiningrat Batik Eyang Putri, Nurul Hidayati, Dadang Koesdarto, Kennes Attire by Octaria Kenes, Adijaya by Asri Manikwari, Batik Gunawan Setiawan, Sam Art Fashion, Clara Camici x Batik Denia Noer, Magenta by Shaniaw, Bella Quarta, dan Nitsya Rumah Mode.

“Batik itu unik dan punya daya tarik tersendiri, sehingga diapresiasi publik domestik maupun mancanegara. Ajang ini diharapkan lebih memantik gairah fesyen batik,” harap Rory Wardana, Direktur Artistik SBF 2019.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten