Solidaritas untuk Gilang Meluas, Mahasiswa UMS Gelar Aksi Siang Ini

Gerakan solidaritas untuk Gilang Endi Saputra, seorang peserta diklat Resimen Mahasiswa Menwa (Menwa) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo yang meninggal dunia akhir pekan lalu terus meluas.

Chrisna Chaniscara/Muh Khodiq Duhri - Solopos.com
Kamis, 28 Oktober 2021 - 11:30 WIB

SOLOPOS.COM - Poster bernada kecaman dan tuntutan pembubaran Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Resimen Mahasiswa (Menwa) terpasang di Mako Menwa Jagal Abilawa, kompleks Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, Rabu (27/10/2021). (Solopos/Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO Gerakan solidaritas untuk Gilang Endi Saputra, seorang peserta diklat Resimen Mahasiswa Menwa (Menwa) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo yang meninggal dunia akhir pekan lalu terus meluas. Tidak hanya di UNS, mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) juga menggelar aksi untuk menuntut kasus kematian mahasiswa saat ikut diklat Menwa itu diusut untas.

Aliansi Mahasiswa UMS berencana menggelar aksi di Hall Fakultas Hukum UMS, Kamis (28/10/2021) siang. Selain menuntut pengusutan kasus Gilang, Aliansi bersolidaritas pada NI, mahasiswi Fakultas Hukum (FH) UMS yang meninggal dunia seusai mengikuti diklat Menwa Batalion 916 UMS April 2021 lalu.

Saat mengikuti longmarch, NI tiba-tiba tak sadarkan diri. Diduga ia mengalami kelelahan karena tenaganya terkuras saat mengikuti longmarch. Hingga akhirnya mahasiswa itu mengembuskan napas terakhir.

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Justissica Fakultas Hukum UMS melalui laman lpmjustissica.wordpress.com menjelaskan  kegiatan Diklat Menwa UMS itu berlangsung pada 1-4 April 2021. Di hari terakhir ketika mengikuti longmarch, NI tak sadarkan diri hingga akhirnya meninggal dunia.

Baca Juga: Ada Petisi Bubarkan Menwa UNS Solo, Lebih 13.000 Orang Tanda Tangan

NI sempat mengeluhkan kapalan di kakinya yang sudah pecah sebelum mengikuti longmarch di hari terakhir diksar. Di sana pun dijelaskan, pihak Menwa telah memberikan penawaran kepada almarhumah untuk tetap mengikuti kegiatan longmarch atau tidak. Karena melihat semangat teman-temannya untuk mengikuti kegiatan tersebut, ia memilih untuk tetap melangkahkan kakinya.

Ketika NI kembali mengikuti longmarch dan belum genap sampai 100 meter, ia sudah berjalan sangat pelan. Melihat itu, pihak Menwa berinisiatif untuk menyusulkan NI ke barisan paling depan menggunakan sepeda motor. Mereka juga memberikan NI minum sebelum ia melanjutkan perjalanannya. Namun, baru melanjutkan beberapa langkah saja, NI berhenti. Ia meminta pembalut untuk dijadikan bantalan kaki.

Tak berselang lama setelah rentetan kejadian itu, NI pun tak sadarkan diri. Pihak Menwa langsung membawanya ke puskesmas menggunakan mobil. Berhubung peralatan di puskesmas sangat minim, mereka akhirnya dirujuk untuk membawa NI ke Rumah Sakit UNS. NI  sempat ditangani oleh dokter di Unit Gawat Darurat (UGD), tetapi kurang lebih tiga puluh menit kemudian, dokter mengabarkan bahwa NI meninggal dunia.

Baca Juga: Solopos Hari Ini: Menwa UNS di Titik Nadir

Tidak hanya di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, kasus mahasiswa meninggal dunia setelah mengikuti diklat Resimen Mahasiswa (Menwa) juga pernah terjadi di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada April 2021 lalu.

Bedanya, mahasiswi bernama Nailah Khalishah itu meninggal dunia setelah mengikuti longmarch yang menjadi bagian dari diklat Menwa Batalion 916 UMS April 2021 lalu.

Baca Juga: Mahasiswa UNS Meninggal, Mako Menwa Ditempel Poster Desakan Pembubaran

Presiden BEM UNS Solo, Zakky Musthofa Zuhad, menyayangkan belum ada ucapan belasungkawa sama sekali dari Menwa untuk keluarga korban. “Gilang masih semester III, datang ke kampus membawa harapan dari keluarga, membawa cita-cita. Tapi apa, nyawanya malah hilang dengan sejumlah kejanggalan,” ujarnya dalam orasi. Zakky berjanji BEM UNS bakal terus mengawal kasus sampai keluarga korban mendapatkan keadilan.

Baca Juga: Solopos Hari Ini: Menwa UNS di Titik Nadir

Sebelumnya, ratusan mahasiswa Universitas Sebelas Maret atau UNS Solo memberikan ultimatum kepada pejabat kampus untuk segera bubarkan Korps Mahasiswa Siaga (KMS) Batalion 906 Jagal Abilawa atau Menwa (Resimen Mahasiswa). Keberadaan Menwa dinilai tak memiliki urgensi di kampus yang menyemai iklim akademik.

Kematian Gilang Endi Saputra, seorang peserta diklat Menwa UNS Solo, akhir pekan lalu, diharapkan membuka mata kampus agar bersikap tegas kepada Menwa. Ultimatum tersebut disampaikan dalam aksi solidaritas “100 Lilin untuk GE” di Boulevard UNS, Selasa (26/10/2021) malam.

Selain menyampaikan pernyataan sikap, para mahasiswa berorasi dan membentangkan poster yang mendesak pembubaran Menwa. “Ini bukan hanya soal Menwa, tapi soal militerisme. Adanya Menwa membuat budaya militerisme tetap tumbuh dalam kampus. Kampus tak lagi ilmiah,” ujar Faiz, seorang peserta aksi, dalam orasinya.

Baca Juga: Diklat Menwa UNS Telan Korban Jiwa, Pelaku Terancam 7 Tahun Penjara

Peserta aksi lain, Pius, mengatakan kasus kematian Gilang Endi mestinya menjadi pelajaran bagi Rektorat untuk meninjau ulang keberadaan Menwa. Menurutnya, bukan tak mungkin ada kasus serupa di kemudian hari apabila kampus tak serius menangani masalah tersebut.

“Jika Menwa UNS Solo tak dibubarkan, akan ada Gilang-Gilang selanjutnya. Kita semua di sini adalah manusia yang menghargai nyawa orang lain,” tuturnya.

Lebih jauh, Pius menyayangkan Rektor Jamal Wiwoho yang seakan menghilang saat kasus Gilang. Pernyataan kampus sejauh ini hanya melalui Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Ahmad Yunus dan Direktur Reputasi Akademik dan Kemahasiswaan UNS Sutanto. “Bapak Jamal sebagai penjaga marwah kampus malah tidak hadir,” sesalnya.

Baca Juga: Awas! Curah Hujan Jateng Diprediksi Sangat Tinggi pada Akhir Tahun

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif