SOLAR LANGKA : Petani Sragen Kelimpungan
Ilustrasi penjualan solar di SPBU (Dok/JIBI/SOLOPOS)
Ilustrasi penjualan solar di SPBU (Dok/JIBI/SOLOPOS)

SRAGEN—Beberapa petani mengeluh karena kesulitan mendapatkan bahan bakar solar bersubsidi di beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Tak hanya itu, beberapa SPBU malah membatasi pembelian solar oleh petani.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Blimbing, Sambirejo, Sukarno, saat dihubungi Solopos.com, Rabu (27/3), menuturkan mengalami kesulitan membeli solar di beberapa SPBU. Padahal solar dibutuhkan untuk mengoperasikan alat-alat pertanian.
Kondisi itu sudah belangsung selama beberapa hari. Tak hanya itu, dia mengaku salah satu SPBU di Karangmalang membatasi pembelian solar. Dia hanya dapat membeli 10 liter solar per hari. Padahal dia membutuhkan sekitar 20 liter solar per hari untuk mengolah tanah miliknya seluas 1,5 hektare (ha).
“Saya kesulitan membeli solar di SPBU di Karangmalang. Padahal saya butuh solar untuk mengoperasikan diesel dan alat-alat pertanian lain. Sekalinya dapat, saya hanya bisa membeli 10 liter per hari di SPBU itu. Tetapi saat saya membeli solar di SPBU lain, malah bisa membeli 35 liter per hari,” kata Sukarno saat dihubungi Solopos.com, Rabu.
Dia menyayangkan kondisi itu karena saat ini petani membutuhkan solar selama satu bulan untuk mengolah tanah. Dia menjelaskan keterlambatan mengolah tanah dapat mempengaruhi proses lain.
Salah satunya adalah pasokan air untuk areal persawahan. Hal senada disampaikan Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Sragen, Suratno. Dia menyayangkan kondisi yang menyebabkan petani kewalahan.
Padahal petani membutuhkan solar untuk mengoperasikan diesel saat menyedot air. Beberapa petani harus menyedot air meskipun hujan sudah turun karena intensitas hujan belum merata di beberapa wilayah.
“Kami berharap pemerintah mengupayakan supaya kebutuhan solar untuk petani tercukupi. Setiap SPBU dapat berpihak pada petani dengan memberikan alokasi solar untuk petani,” ujar Suratno.
Lebih lanjut Sukarno berharap pemerintah tidak mempersulit petani mendapatkan solar. Bahkan dia memilih pemerintah mengambil kebijakan menaikkan harga solar tetapi dengan syarat pasokan solar lancar. Ketimbang harga murah tetapi pasokan terbatas.
“Kondisi sekarang ini mempersulit petani. Kami mengandalkan solar untuk mengoperasikan alat-alat pertanian. Kalau seperti ini lebih baik pemerintah menaikkan harga solar tetapi pasokan lancar. Ketimbang kami dimanjakan dengan harga murah tetapi pasokan tak jelas,” ungkap dia.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho