Seorang petani di Kelurahan Kanigoro, Kecamatan Kartoharjo, Kasno, membuka pagar rumah pompa sumur P2T di areal persawahan setempat, Kamis (22/8/2019)./ (Madiunpos.com/AbdulJalil)

Madiunpos.com, MADIUN -- Pemerintah Kota Madiun bakal mengganti sumber daya listrik di tujuh sumur proyek pengembangan air tanah (P2T) di sejumlah kelurahan. Ini supaya sumur tersebut bisa dimanfaatkan para petani untuk memenuhi kebutuhan air untuk sawahnya. 

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Madiun, Muntoro Danardono, mengatakan sumur P2T itu dibangun tahun 2016. Pembiayaannya dari dana alokasi khusus (DAK) Kementerian Pertanian. 

Dia mengaku sudah mengetahui permasalahan tidak terpakainya sumur tersebut karena petani merasa keberatan untuk membayar biaya abonemen listrik saat pompa tidak dipakai. Kemudian meteran listrik dari sebelumnya pascabayar diganti dengan token listrik. 

Namun, selama menggunakan token listrik itu, justru mesin pompa tidak bisa digunakan karena daya listrik dari token tidak kuat. 

Muntoro menyampaikan optimalisasi sumur P2T baru bisa dilakukan pada 2020. Pihaknya akan mengusulkan program optimalisasi sumur tersebut supaya saat musim kemarau bisa dimanfaatkan para petani yang sedang bercocok tanam. 

"Masih kita upayakan. Karena kalau pakai listrik itu petaninya tidak mampu bayar. Petani maunya dibayari pemerintah. Kalau dibayari pemerintah semuanya ya berat. Akan kita ubah di 2020," kata dia, Rabu (28/8/2019). 

Muntoro menyampaikan nantinya ada dua opsi solusi untuk permasalahan ini. Yang pertama mesin pompa air diganti mesin dengan daya lebih kecil sehingga bisa menyala dengan token listrik berkekuatan 16.000 kVa. 

Atau dengan cara menyediakan diesel atau genset sebagai sumber daya listrik. Sehingga petani hanya membayar saat menggunakan sumur tersebut. 

"Makanya di tahun 2020 nanti kita upayakan untuk pengadaan genset atau membeli mesin pompa dengan daya yang lebih rendah," kata dia. (Abdul Jalil/Madiunpos.com)


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten