Pengacara Tukinu (kiri) dan sejumlah kiai pondok pesantren Tahfizul Quran menggelar konferensi pers terkait kasus dugaan pelecehan dua santri F dan Z, Rabu (29/5/2019). (Solopos/Nadia Lutfiana Mawarni)

Solopos.com, BOYOLALI -- Pondok Pesantren Tahfizul Quran, Dukuh Jetis, Desa Manggis, Kecamatan Mojosongo, Boyolali, menyebut ada pemelintiran fakta terkait laporan dugaan https://soloraya.solopos.com/read/20190503/492/989511/pimpinan-ponpes-di-boyolali-diadukan-ke-polisi-atas-tuduhan-lecehkan-santri" title="Pimpinan Ponpes di Boyolali Diadukan ke Polisi Atas Dugaan Pelecehan Santri">pelecehan oleh seorang kiai, AZ, kepada dua santri, F, 18, dan Z, 16.

Pengurus ponpes tersebut mengungkapkan F merupakan santri yang sering sakit-sakitan, sementara Z pernah kabur dari pondok.

Seperti diberitakan sebelumnya, F dan Z mendatangi Mapolres Boyolali, Kamis (2/5/2019), untuk mengaduan dugaan pelecehan tersebut. Keduanya datang bersama orang tua masing-masing serta Koordinator Aliansi Peduli Perempuan Sukowati (APPS), Sugiarsi.

Sugiarsi mengatakan F bercerita dirinya dicegat AZ saat keluar dari kamar mandi putri dan masih mengenakan handuk. Sementara Z berujar AZ pernah melakukan tindakan tidak senonoh dengan memegang bokongnya.

Menanggapi hal tersebut, pengacara Ponpes Tahfizul Quran, Tukinu, menyebutkan https://soloraya.solopos.com/read/20190514/491/992038/2-santri-korban-dugaan-pelecehan-pimpinan-ponpes-di-boyolali-ogah-cabut-laporan" title="2 Santri Korban Dugaan Pelecehan Pimpinan Ponpes di Boyolali Ogah Cabut Laporan">pelaporan kedua santri tersebut terlalu berlebihan. “Tidak ada yang namanya kiai melakukan tindakan tidak senonoh kepada santrinya,” ujar Tukinu saat konferensi pers di Boyolali, Rabu (29/5/2019).

Turut hadir dalam konferensi pers tersebut empat kiai pondok pesantren termasuk AZ. Perwakilan pondok, Abdul Arif, bercerita F kali pertama masuk pondok saat duduk di kelas VII SMP, kemudian lulus dan kembali lagi ke pondok saat kelas XI SMA.

Saat masuk untuk kali kedua, calon suami F yang berinisial K juga mengikutinya. Mereka berdua kerap tepergok mojok berdua sehingga sejumlah ustaz memberikan teguran. Soal memegang anggota tubuh, Abdul mengatakan beberapa kiai memang pernah melakukannya.

Hanya, hal itu dalam konteks sedang melakukan pengobatan tradisional lantaran F sering sakit-sakitan ketika berada di pondok. Bagian tubuh yang dipegang pun masih dalam koridor kesopanan.

“Karena sebelumnya beberapa kali ditegur akhirnya terjadi pemelintiran [dalam pelaporan F],” imbuh Abdul.

Abdul menyebutkan Z yang merupakan warga Gemolong dan satu kampung dengan F pernah kabur dari pondok selama dua malam. Saat kembali, Z menuturkan alasannya kabur lantaran pernah beberapa kali menangis karena merasa tidak diperhatikan pengelola pondok pesantren.

AZ kemudian memegang tangan dan leher Z dengan maksud menenangkan dan bukannya pelecehan. Meski kasus AZ sempat menggegerkan pondok, hingga Rabu (29/5/2019), kegiatan pembelajaran masih berlangsung seperti biasanya bersama ratusan santri laki-laki dan perempuan.

Abdul tak memungkiri pada tahun ajaran 2019-2020 terjadi penurunan jumlah pendaftar sebanyak 10%. “Namun kami tidak tahu alasan penurunan itu karena ada https://soloraya.solopos.com/read/20190515/492/992201/polisi-pastikan-penyelidikan-dugaan-pelecehan-santri-ponpes-di-boyolali-masih-jalan-" title="Polisi Pastikan Penyelidikan Dugaan Pelecehan Santri Ponpes di Boyolali Masih Jalan">kasus ini atau memang keberhasilan program KB,” kata dia.

Hingga kini pondok hanya menerapkan sistem sumbangan sukarela dan tidak mematok biaya tertentu untuk masing-masing santri. Pondok Pesantren Tahfizul Quran masih mencampur lokasi belajar antara santri laki-laki dan perempuan.

Namun pondok menerapkan pengawasan ketat secara struktural untuk pelanggaran dan izin keluar masuk para santri.

Terkait permintaan kepada APPS agar mencabut aduan di Polres Boyolali, Abdul mengatakan sebenarnya telah terjadi kesepakatan antara Koordinator APPS Sugiarsi dan pondok pesantren untuk menyelesaikan masalah secara kekeluargaan. Mereka melakukan mediasi lima kali dengan kesepakatan kedua pihak datang ke Polres Boyolali untuk mencabut aduan.

“Malam setelah mediasi dan kesepakatan, Sugiarsi meminta kami membawa materai untuk tanda tangan perjanjian bersama orang tua F dan Z, namun orang tua mereka tidak datang sehingga kesepakatan pencabutan itu batal,” imbuh dia.

Terpisah, Kasatreskrim Polres Boyolali, Iptu Mulyanto, mewakili Kapolres Boyolali, AKBP Kusumo Wahyu Bintoro, menyebutkan hingga Rabu kasus itu masih ditangani dengan meminta klarifikasi pihak-pihak yang terlibat.

“Namun karena proses klarifikasi belum selesai kami belum bisa memutuskan akan ditingkatkan ke penyidikan atau tidak,” kata dia.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten