Ravik Karsidi (Dok/JIBI/Solopos)

Solopos.com, SOLO—Universitas Sebelas Maret (UNS) tengah mengkaji pelaksanaan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Hasil pelaksanan SNMPTN untuk menyaring input berkualitas akan disandingkan dengan hasil pelaksanaan Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) lalu.

Rektor UNS, Ravik Karsidi, mengatakan pihaknya akan menyarankan kepada pemerintah pusat untuk mengembalikan PMDK, jika jalur tersebut dinilai lebih baik daripada SNMPTN.

“Kalau penelitian tentang jalur-jalur [penerimaan mahasiswa baru] dulu memang pernah kami lakukan bertahap. Untuk PMDK, tingkat keberhasilannya memang dinilai lebih bagus dibandingkan yang ujian tulis. Kemudian di bawahnya lagi adalah jalur swadana,” terang dia saat ditemui di kantornya, Rabu (21/5/2014).

Tapi persoalannya, sambung Ravik, sistem PMDK dulu berbeda dengan sistem undangan yang disebut sekarang SNMPTN. Dimana semua orang boleh mendaftar SNMPTN. “Karena SNMPTN baru dilakukan setahun yang lalu maka kami belum punya hasil penelitiannya. Tapi tetap akan kami lakukan penelitian. Jelas itu,” lanjut dia.

Ravik mengatakan saat ini penelitian terkait pelaksanaan SNMPTN sedang dilakukan. Jika hasilnya membuktikan SNMPTN tidak lebih baik dari PMDK maka pihaknya akan mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk mengembalikan PMDK.

“Kami akan menyarankan sekiranya nanti hasil penelitian kami tahun ini mendukung kesimpulan penelitian kami yang dulu. Jadi hendaknya SNMPTN tidak untuk semua. Dibatasi seperti PMDK,” jelas Ravik.

Calon Mahasiswa UNS
Menurutnya, penilitian tersebut sangat penting, mengingat UNS memiliki beberapa kriteria yang ditujukan kepada calon mahasiswa baru yang mendaftar untuk diterima di UNS. Ravik mengatakan nilai UN memang sangat menentukan dalam penilaian untuk memutuskan penerimaan mahasiswa baru.

“Tapi UN tidak satu-satunya. Kesuksesan kakak kelasnya di SMA yang telah diterima di UNS juga menjadi pertimbangan. Dengan begitu kami dapat mengetahui sejauh mana kualitas SMA asal mereka. Untuk menunjang salah satu kriteria itu maka setiap tahun kami adakan penelitian itu,” terang dia.

Melalui penelitian tersebut pihaknya berharap dapat mengetahui tingkat kejujuran dan keterbukaan sekolah asal peserta SNMPTN. “Begitu kami tahu sekolah tertentu curang dalam menyajikan data nilai siswanya, maka akan kami beri catatan, kalau perlu kami blacklist,” terang dia.

Ravik mengatakan, terkait sanksi blacklist tersebut sebelumnya banyak sekolah yang sudah mengalami. Meskipun dirinya tidak menyebut sekolah mana saja yang terkena sanksi itu.

“Bukan kapasitas saya untuk menyebutkan mana saja sekolah itu. Yang tahu ya SMA yang bersangkutan. Dua tahun lalu pernah ada yang di rayon UNS,” kata dia


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten