SMKN 2 Wonogiri Hentikan Produksi Thermogun, Kenapa?
SMKN 2 Wonogiri memproduksi thermogun pada Maret 2020 lalu. (Solopos/Rudi Hartono)

Solopos.com, WONOGIRI — SMKN 2 Wonogiri menghentikan produksi termometer digital atau thermogun karena biaya produksi terlalu tinggi. Pada sisi lain, produk pabrikan sekarang ini mudah didapat dan harganya murah. Jika produk siswa dijual di pasaran saat ini harganya bisa jauh lebih tinggi, sehingga kemungkinan kecil laku.

Wakil Kepala SMKN 2 Wonogiri Bidang Kesiswaan, Sapar, menyampaikan produksi thermogun dimulai Maret 2020 dan hanya bisa bertahan lebih kurang empat bulan. Itu karena biaya suku cadang utama thermogun, yakni sensor sinar infra merah pengukur suhu mahal. Harganya lebih dari Rp500.000.

Sementara, sejak pertengahan 2020 lalu thermogun sudah bisa didapat dengan mudah. Harganya pun murah, Rp100.000-Rp200.000. Itu jauh lebih murah dari harga produk SMKN 2 Wonogiri yang dipatok Rp700.000.

Baca Juga: Kegiatan Usaha di Soloraya Meningkat, Ini Penjelasan BI

“Kalau produksi dilanjutkan harga produk kami tidak bisa bersaing dengan produk pabrikan, karena harga produk kami lebih mahal,” kata Sapar saat dihubungi Solopos.com, Senin (8/3/2021).

Selama empat bulan SMKN 2 Wonogiri dapat memproduksi lebih kurang 60 unit thermogun. Saat itu produk dibuat dua siswa Jurusan Teknik Mekatronika (TM), yakni Bagus Adi Saputra, siswa kelas XI TM-B dan teman sekelasnya, Prasetyo Dwi Pamungkas. Mereka dibimbing tiga guru pengajar jurusan tersebut, meliputi Danar Tri Atmojo (pembimbing mekanik), Susanto Febriantoro (pembimbing elektrikal), dan Wisnu Tri Nugroho (pembimbing program).

Themogun hasil karya mereka diberi nama Thermogun Digital Skandatronik. Produk dibeli sejumlah sekolah dan instansi di Wonogiri dan luar Wonogiri. Produk laku karena saat itu thermogun masih cukup sulit didapat dan harganya mencapai Rp1,4 juta/unit.

“Ke depan kami akan membuat produk lain yang juga bisa dijual. Ini sesuai instruksi dari pusat bahwa bahan praktik bisa dipakai untuk memproduksi sesuatu. Kami masih membuat konsepnya,” imbuh Sapar.

Sebelumnya, salah satu guru pembimbing mekanik, Danar Tri Atmojo, mengatakan ide menciptakan karya berawal dari mahalnya harga thermogun di pasaran yang mencapai Rp1,4 juta-Rp1,5 juta/unit. Saat itu sekolah ingin membeli untuk keperluan deteksi dini Covid-19 di sekolah.

Lantaran mahal sekolah memberi tantangan guru pengajar Jurusan TM membuatnya sendiri. Danar dan guru lainnya menyanggupi. Kemudian guru menunjuk dua siswa.

Kompleks

Thermogun buatan timnya terdiri atas casing dan komponen yang cukup kompleks. Casing dibuat dari bahan plastik filamen PLA dengan cara dicetak menggunakan printer 3D. Dimensinya, panjang 14 cm dan tinggi 8 cm. Desain casing dibuat seergonomis mungkin agar nyaman digenggaman dan mudah dioperasikan.

Prosesnya sampai berkonsultasi dengan Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Wonogiri. Selain itu konsultasi dengan guru Program Kewirausahaan agar thermogun dapat dijual.

“Sementara komponennya terdiri atas arduino [prosesor] yang IC-nya diprogram sendiri. Dilengkapi sensor suhu MLX9014, infra merah, dan LCD untuk membaca suhu yang ditangkap,” kata Danar.

Tim menjumpai beberapa kendala, seperti durasi cetak casing yang lama dan lamanya mendapatkan sensor suhu dari luar negeri. Mencetak satu casing menggunakan dua unit printer 3D membutuhkan waktu enam jam. Jika hanya satu unit printer membutuhkan waktu lebih lama.

Baca Juga: 50 Kader Partai Demokrat Sragen Cap Jempol Darah Bukti Loyal Kepada AHY

Mendapatkan sensor suhu juga butuh waktu lama karena harus preorder (PO) secara online. Waktu tunggu order hingga barang datang mencapai dua pekan. Apabila semua bahan sudah tersedia tim bisa menyelesaikan satu unit thermogun kurang dari satu hari.

“Thermogun buatan anak-anak cukup akurat. Kalau dibandingkan dengan termometer di pasaran hasilnya hanya selisih 0,1-0,2 derajat lebih tinggi, lebih rendah, kadang sama. Misal hasil pengukuran termometer di pasaran menunjukkan suhu 36,2 derajat celcius, thermogun buatan mereka menunjukkan 36,1 atau 36,3 derajat celcius. Hasil pengukuran suhu oleh thermogun ini juga bisa diubah menjadi derajat fahrenheit,” terang Danar.



Berita Terkini Lainnya








Kolom