Tutup Iklan
Pelajar SMK NU Ma'arif Kudus, Jateng menunjukkan bagian dalam mobil listrik yang masih tahap pengembangan di ruang praktik perbengkelan sekolah mereka, Selasa (15/10/2019). (Antara-Akhmad Nazaruddin Lathif)

Solopos.com, KUDUS — Emoh berkutat pada teknologi lama, SMK NU Ma'arif Kabupaten Kudus, Jawa Tengah memilih mendukung komitmen pemerintah mengembangkan mobil listrik dalam negeri. Pengembangkan mobil listrik itu dianggap lebih jitu menyongsong era Revolusi Industri 4.0.

"Kami ingin menyiapkan siswa didik di SMK NU Ma'arif siap menghadapi era revolusi industri, salah satunya terkait keinginan pemerintah mewujudkan kendaraan bertenaga listrik yang lebih ramah lingkungan," kata Kepala Jurusan Teknik Kendaraan Ringan Otomotif (TKRO) SMK NU Ma'arif, Masrukin, di Kudus, Jawa Tengah, Selasa (15/10/2019).

Bertepatan dengan semakin banyaknya kendaraan listrik pada tahun 2020 mendatang, lulusan SMK NU Ma'arif Kudus diharapkan sudah siap diserap pasar. Terutama yang membutuhkan lulusan yang menguasai kendaraan listrik.

Ia mengungkapkan proyek mobil listrik ini juga sebagai tindak lanjut amanat Direktorat Kementerian Pendidikan untuk mengembangkan pembelajaran sekolah dengan model STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics).

Dalam membuat mobil listrik, katanya, pihaknya melibatkan guru dan siswa dari berbagai jurusan, mulai dari guru matematika, fisika, kimia, dan teknik gambar desain karena model STEM memang melibatkan banyak pihak.

"Kami melibatkan kelas industri, mekanikel, serta elektrikel secara bergiliran yang dibagi per kelompok untuk menyelesaikan proyek pengembangan mobil listrik tersebut," ujarnya sebagaimana dipublikasikan Kantor Berita Antara, Rabu (16/10/2019).

Karena masih dalam tahap riset, kata dia, mobil yang sudah bisa dioperasikan tersebut masih menggunakan baterai basah dan belum menggunakan baterai  kering yang tetap bisa diisi ketika energi listriknya benar-benar habis.

Pergerakan mobil listrik itu dibebankan pada motor listrik bertenaga 75 tenaga kuda. "Untuk sementara kecepatan mobil listrik yang menggunakan bodi mobil hachtback keluaran Eropa tersebut, hanya berkisar 60 km/jam. Namun masih bisa ditingkatkan hingga kecepatan 100 km/jam," ujarnya.

Ia juga tengah merancang mobil tersebut dengan kapasitas baterai yang terpasang nantinya bisa menempuh jarak sekitar 200 km.

Selain membuat mobil listrik, SMK NU Ma'arif Kudus juga akan membuat charging  untuk mobil listrik agar bateranya lebih tahan lama dan awet sehingga daya listriknya tetap stabil. "Untuk merealisaiskannya, tentu berkolaborasi juga dengan berbagai disiplin ilmu," ujarnya.

Selanjutnya, kata dia, pihak sekolah akan membuat beberapa unit mobil listrik guna kepentingan mobilisasi sekolahnya serta tidak menutup kemungkinan untuk masyarakat sekitar.

Terkait biaya perakitan mobil listrik, diperkirakan menghabiskan anggaran hingga Rp60-an juta dengan pemanfaatan baterai kering, sedangkan menggunakan baterai jenis lithium bisa mencapai Rp100 juta. "Jangka panjang juga akan dilengkapi panel surya atau solar cell di atas mobil untuk memenuhi sebagian pengisian baterai," ujarnya.

Untuk memodifikasi mobil berbahan bakar bensin menjadi mobil listrik, dibutuhkan waktu satu bulan, sedangkan untuk risetnya membutuhkan waktu hingga beberapa bulan, demikian Masrukin.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber: Antara


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten