Tutup Iklan
Ilsutrasi skizofrenia/antaranews.com

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (20/4/2019). Esai ini karya Eeng Nurhaeni, pengasuh Pondok Pesantren al-Bayan di Rangkasbitung, Lebak, Banten. Alamat e-mail penulis adalah aponpesalbayan@yahoo.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Tembok-tembok imajiner dibangun sedemikian kuat dalam pikiran para pengidap skizofrenia. Mereka seakan-akan menciptakan gelembung kebenaran yang ada dalam penafsiran mereka semata.

Gelembung kebenaran yang terus membesar identik dengan perspektif tunggal yang dipelihara hingga membuat pengidapnya hanya peduli pada fakta dan argumentasi yang mendukung hipotesisnya.

Fakta-fakta yang berlaku di alam semesta harus selaras dengan argumentasinya. Dari waktu ke waktu mereka semakin yakin bahwa hanya argumentasinyalah yang paling benar.

Kondisi itu kemudian melahirkan mentalitas pasca-kebenaran. Mereka tidak lagi memedulikan kualitas kebenaran dari sebuah informasi apa pun karena yang dikehendaki bukan lagi kebenaran melainkan pembenaran.

Dijelaskan dalam ilmu neurosains–seperti yang dipaparkan Taufiq Pasiak (Ketua Masyarakat Neurosains Indonesia)–bahwa setiap pengidap skizofrenia tidak mahir membandingkan dan mengukur realitas yang ada di pikirannya dengan fakta riil atau kondisi faktual.

Otak bagian depan (korteks prefrontalis) tidak bekerja secara optimal. Pikiran mereka seakan diberdayakan hanya untuk menerima fakta yang sesuai dengan sikap dan tindakannya, betapa pun rendah kualitasnya.

Pada saat yang sama, pikiran itu mengembangkan mekanisme pertahanan untuk menolak fakta lain yang mengancam pendapatnya, betapa pun validnya realitas fakta tersebut. Di negeri ini, khususnya menjelang pemilihan umum beberapa waktu lalu, dapat dikatakan sebagai wabah atau ”delusi massal” karena gejala skizofrenia merasuk ke segenap lapisan masyarakat, tak terkecuali kaum akademisi yang terpelajar.

Performa Gaya Bahasa

Menurut Taufiq Pasiak selaku dosen kedokteran di Universitas Sam Ratulangi, sistem perpolitikan kita telah menciptakan delusi bukan hanya pada satu dua orang, tetapi pada sebagian masyarakat bangsa. Kita bisa melihat dari performa gaya bahasa yang dipakai sebagian masyarakat di media sosial.

Pikiran dan perasaan mereka seakan-akan melompat-lompat dari gatra satu ke dimensi yang lebih buruk dan rendah. Informasi apa pun yang diserap hanya dikelola untuk memperkuat asumsi semata.

Para psikiater di rumah sakit jiwa umumnya mendiagnosis pengidap skizofrenia melalui fitur-fitur kebahasaan. Bagi mereka, bahasa merupakan alat utama resepsi dan ekspresi. Melalui bahasa, seorang pasien mengumpulkan simbol-simbol sekaligus mengungkapkan gagasan.

Dapat dideteksi ketika memiliki kecenderungan menilai sesuatu secara biner. Objek yang tak disukai dianggap sesuatu yang jahat dan cenderung mencelakakan dirinya. Pikiran yang menjurus pada tindakan teror dan anarkis itu membuat pengidap skizofrenia akut tidak lagi mampu melihat segala sesuatu secara objektif, bahwa realitas kehidupan ini begitu kompleks, dinamis, bahkan kadang penuh paradoks.

Segala sesuatu seakan-akan sudah final, mandek, statis, dan pintu ijtihad tertutup. Tak ada penafsiran lain dalam pandangan beragama karena yang dianggap sah dan legitimate adalah penafsirannya atau penafsiran dari orang yang dianggap guru sucinya.

Mudah Terjerumus

Perspektif tunggal seperti itu membuat seorang pengidap skizofrenia mudah terjerumus ke aksi-aksi terorisme. Di samping mudah terhasut dan terbawa arus, dari dalam dirinya sudah terpateri suatu pandangan dan paham yang bersifat hitam-putih belaka.

Terhadap objek yang dicintai, ia cenderung memuji bahkan mengultuskan secara berlebihan. Sementara itu, terhadap objek yang tak disukai, hujatan dan caci maki terus-menerus berhamburan.

Tentu saja penyakit sosial ini cukup membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara. Bagi kalangan awam yang tak terdidik, kecenderungan pada tindakan teror dan anarkis mungkin sangat minim.

Bagi kaum terdidik, perpaduan antara sentimen identitas diri dengan gelembung kebenaran yang semakin membesar di pikiran inilah yang bisa menimbulkan bom waktu yang mesti diantisipasi oleh semua pihak, baik para pendidik di tingkat rumah tangga hingga teladan yang baik dari pihak pemerintah kita.

Ketika Academy Awards memutuskan Birdman sebagai pemenang Oscar pada 2015, kritik berhamburan mengenai keabsahan film tersebut sebagai pemenang. Film itu disutradarai Alejandro Gonzalez, seniman dan sineas kelahiran Meksiko dengan menghadirkan Michael Keaton yang beberapa tahun sebelumnya memerankan tokoh superhero Batman yang disutradarai Tim Burton.

Kali ini, tokoh yang diperankan Keaton justru sebaliknya, yakni seorang superhero yang menderita post-power syndrome, sejenis gejala kejiwaan yang membuat pengidapnya serbatakut dihantui masa tua dan masa akhir kesuksesan dalam perjalanan hidup.

Birdman mengajarkan kita bahwa pada era transformasi global ini bukan zaman mengumbar propaganda kepahlawanan kosong. Semua pihak–khususnya politikus dan penguasa–dituntut pertanggungjawaban agar bersikap jujur kepada diri sendiri. Bukan zaman mengunggulkan kebanggaan diri, heroisme dan keangkuhan kekuasaan, yang diumbar dalam beragam pencitraan yang dipublikasikan.

Kedalaman Psikologi Manusia

Propaganda kepahlawanan kosong harus disingkap hingga menelusuri kedalaman psikologi manusia tentang siapakah dirinya. Tema inilah yang diungkap dalam Birdman, yakni keterpurukan hari-hari seorang Superman maupun Batman, yang sering kali dibanggakan selaku superhero dalam pentas perfilman dunia.

Film itu diangkat dari biografi kehidupan Riggan Thomson yang pernah mengalami puncak kejayaan saat menjadi seniman terkenal di seni pertunjukan Broadway. Pada usia senja ia mengalami post-power syndrome, seakan-akan kodrat kehidupan manusia menghindar dari ruang waktu yang terus berproses menuju suatu kehidupan duniawi yang serbasemu dan nisbi.

Ia mengira bahwa kenikmatan hidup itu adalah abadi, padahal segala puncak kemewahan dan kebahagiaan yang diberikan Tuhan di dunia ini hanyalah fana dan sementara. Film Birdman mendekati pengungkapan gaya sastra Dostoyevski, Maxim Gorky, maupun Franz Kafka dalam menelusuri relung-relung batin manusia hipermodern, sebuah deformasi jiwa yang tak bisa menghindar dari segala keangkuhan dan kebanggaan diri.

Bagaikan sikap frustrasi seorang politikus yang uzur dan gagal total, meskipun pernah mengalami kejayaan pada masa lalu. Ia dibayang-bayangi popularitas yang pernah disandang. Sampai kemudian membuat dia bertindak dan berulah di luar nalar dan akal sehat manusia. 

Masyarakat yang masih terperangkap dalam dunia bawah sadar, yang mudah terhasut oleh isu maupun aksi-aksi provokasi, perlu banyak berkaca dari film ini. Juga mereka yang keranjingan kekayaan dan hasrat kekuasaan secara membabi buta.

Meninjau Identitas Ke-Indonesia-an

Kini sang superhero alias jawara itu dipaksa menerima dan menghadapi realitas hidup pada masa tua. Tak ada kekuatan apa pun yang dapat menolong dan memuliakan manusia apabila ia terjatuh ke dalam keangkuhan dan kesombongan.

Kiranya kita perlu mengadakan rethinking, meninjau kembali identitas ke-Indonesia-an yang selama ini kita bangga-banggakan. Selayaknya kita mendengar ajaran universal yang disampaikan para pemikir dan sastrawan dunia, namun berinti religius yang sangat mendalam.

Pearl S. Buck pernah menyatakan gugatan mengapa bangsa-bangsa Asia begitu mudah menganut ajaran yang didakwahkan oleh para politikus dan penguasa Amerika dan Eropa?

Buck berkata,”Bukankah tidak sedikit dari orang-orang seperti kami, para eksplorator Barat yang merasakan keterpurukan manusia-manusia Faust sebagai pahlawan dan kesatria menyedihkan, dengan hati dan jiwa-jiwa muram dan gersang?”

Dalam film Birdman, keterpurukan manusia-manusia hedonis yang keranjingan kekuasaan dan popularitas itu telah disingkap secara gamblang bahwa hakikat kesuksesan duniawi harus memberi nilai kebahagiaan dan ketenteraman batin.

Sastrawan John Steinbeck ketika sampai pada puncak keletihan berkata,”Untuk apa manusia modern bersusah payah memburu-buru kebahagiaan dalam hidupnya, padahal kebahagiaan itu sudah ada pada diri kita, jika kita mau melihatnya?”

 

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten