Skenario Setelah Purnomo Mundur
Suharno (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Sempat timbul ketegangan di akar rumput masyarakat Kota Solo saat ada dua calon wali Kota Solo mendaftar melalui PDIP. Hal ini wajar karena PDIP merupakan partai politik yang memiliki kursi mayoritas di DPRD Kota Solo.

Achmad Purnomo diusung DPC PDIP Kota Solo sedangkan Gibran Rakabuming Raka mendaftar melalui struktur PDIP yang lebih atas. Terjadi pro dan kontra, saling mendukung dan saling adu kekuatan, untuk menarik dukungan masyarakat Kota Solo.

Suasana Kota Solo sedikit bersitegang dan agak memanas. Antara para pengurus dan simpatisan PDIP saling sindir dan saling mengunggulkan calon yang diusung dan menjatuhkan calon lawan yang tidak sejalan dengan pilihan mereka.

Benturan antargenerasi pun tidak dapat dihindari. Sebagian generasi milenial menginginkan perubahan, namun sebagian generasi X ingin tetap mempertahankan dan melanjutkan kepemimpinan  lama.

Ada juga yang menentang pencalonan Gibran karena berarti akan melanggengkan politik dinasti. Kita semua tahu Gibran adalah putra Presiden Joko Widodo. Selama ini sikap sebagai politikus banyak diapresiasi masyarakat karena tidak mau melibatkan anak-anak, keluarga, dan kerabatnya dalam lingkaran kekuasaan.

Banyak yang terkejut dan menyayangkan saat ia mendukung putranya maju sebagai calon wali Kota Solo. Untung suasana yang tidak nyaman tersebut tidak berlangsung lama. Pandemi Covid-19 mengalihkan perhatian warga dari masalah politik ke masalah kesehatan dan ekonomi. Pembahasan pemilihan kepala daerah seolah -olah terkubur.

Kedua belah kubu menahan diri, tidak proaktif mencari dukungan kepada warga masyarakat. Tiba-tiba kita dikejutkan dengan isu yang beredar bahwa Achmad Purnomo menyatakan mengundurkan diri dari bursa pemilihan kepala daerah Kota Solo.

Alasannya tidak tega, tidak sampai hati, bila dalam kondisi pandemi  seperti saat ini, ketika masyarakat sedang kesusahan menghadapi musibah dan menghadapi kesulitan ekonomi, memaksakan diri untuk  tetap mengejar kekuasaan meraih jabatan sebagai orang nomor satu di Kota Solo.

Achmad Purnomo secara resmi telah menyerahkan surat pengunduran diri sebagai calon wali Kota Kota Solo (Solopos, 29 Mei 2020). DPC PDIP Kota Solo menolak surat pengunduran diri Achmad Purnomo itu. Sampai hari ini belum ada kepastian apakah pemilihan kepala daerah akan tetap dilaksanakan sesuai jadwal pada 9 Desember 2020 atau akan diundur pada 2021.

Tampaknya drama hiruk pikuk pemilihan kepala daerah Kota Solo segera berakhir sepanjang keputusan Achmad Purnomo dilaksanakan, bukan sekadar strategi politik. Bila keputusan tersebut final, bukan karena pekewuh menghadapi Gibran  atau ada tekanan politik dari pihak luar, maka peta dan suasana psikologis perpolitikan di Kota Solo akan berubah 180 derajat.

Tidak Pasti

Kota Solo akan kembali adem ayem. Pemilihan kepala daerah akan bergulir aman tanpa gesekan sosial yang berarti, tetapi siapa yang menjamin? Politik penuh ketidakpastian. Tidak bisa ditebak, bahkan tidak masuk nalar. Orang Jawa mengatakan esok tempe sore dhele. Tidak ada yang pasti.

Tidak mengherankan ada beberapa pengamat yang mempertanyakan dan meragukan keputusan tersebut. Pihak yang meragukan menduga Achmad Purnomo mundur karena ewuh pekewuh. Dilematis menghadapi situasi internal PDIP yang serba sulit.

Agar keberadaan dirinya tidak menimbulkan keretakan dalam partai, lebih baik mundur. Mumpung ada situasi yang memungkinkan untuk dasar mengundurkan diri, yaitu pandemi Covid-19. Ada yang menganalisis pernyataan dan sikap Achmad Purnomo sebatas strategi meraih simpati masyarakat.

Pendapat tersebut memang tidak salah dan sah-sah saja. Tinggal waktu nanti yang membuktikan. Dalam politik segala sesuatu bisa terjadi. Semula kawan jadi lawan. Semula lawan jadi kawan. Tidak ada yang abadi dalam politik, yang abadi hanya  kepentingan.

Skenario yang mungkin terjadi, setelah Achmad Purnomo menyatakan mengundurkan diri dari pencalonan sebagai wali kota lewat jalur PDIP akan ada beberapa partai politik atau organisasi kemasyarakatan yang mengatasnamakan masyarakat  yang menyatakan simpati.

Mereka kemudian mendorong Achmad Purnomo tetap maju sebagai calon wali kota. Segudang argument disiapkan untuk menyakinkan agar dia bersedia. Argumentasi yang diajukan masuk nalar dan logis. Agar pembangunan Kota Solo bisa berkelanjutan maka harus dipimpin yang sudah senior dan berpengalaman.

Generasi milenial dianggap masih labil dan belum siap menjadi pemimpin. Kebetulan saat ini ada contoh nyata. Staf khusus presiden dari generasi milenial menggunakan aji mumpung dan menggunakan jabatan untuk mendapatkan proyek demi kepentingan perusahaannya.

Argumen lain yang saat ini sering digunakan adalah dengan pendekatan sentimen dan isu keagamaan seperti yang diusung di berbagai daerah. Isu yang diembuskan adalah Kota Solo harus dipimpin oleh pemimpin dari kalangan agamis, bukan dari kalangan abangan.

Argumentasi seperti itu sering mampu menggoyahkan keputusan seseorang untuk berubah pikiran. Dalam skenario ini bisa jadi akhirnya Achmad Purnomo berpindah haluan dan diusung oleh organisasi kemasyarakatan atau partai politik tertentu untuk tetap maju dalam gelanggang pemilihan kepala daerah Kota Solo.

Tentu kita masih ingat beberapa peristiwa yang hampir mirip, baik dalam skala lokal, regional, maupun nasional sejak bangsa ini menerapkan pemilihan pemimpin secara langsung. Kita sering mendapat tontonan dan akrobat perpolitikan yang terkadang menggelikan, menggelitik, dan tidak masuk nalar, namun benar-benar terjadi.

Saling memukul dan saling merangkul. Hari ini elite politik saling pukul, besok saling merangkul. Celakanya di arus bawah telanjur terjadi benturan dan tawuran karena beda pilihan. Dampaknya bisa kita rasakan saat ini.

Banyak orang yang akhirnya tidak peduli masalah politik. Apatis dan skeptis bila diajak memikirkan kepentingan bangsa dan negara. Mereka berpandangan pragmatis. Ambil mana yang menguntungkan bagi dirinya atau kelompoknya. Idealisme  mati suri.

Mundur Tulus

Menurut pendapat saya pribadi, yang disampaikan oleh Achmad Purnomo adalah pernyataan yang tulus dan ikhlas. Pernyataan yang tanpa rekayasa, apalagi hanya sekadar untuk pencitraan. Apa alasan saya?

Saya melihat dari rekam jejak. Sebelum masuk ke dalam arena pemilihan kepala daerah Kota Solo, dia tidak pernah aktif di  politik praktis. Dia berlatar belakang akademisi dan pengusaha sukses yang dermawan.

Kalaupun berkecimpung dalam oganisasi, lebih banyak di organisasi sosial dan keagamaan. Kali pertama masuk ke dunia politik pada 2007 saat pemilihan kepala daerah kali pertama digelar di Kota Solo. Salah satu rivalnya adalah Joko Widodo yang saat ini menjadi presiden.

Mengapa ikut masuk bursa pemilihan wali Kota Solo? Semata-mata karena desakan dan dukungan beberapa pihak, tokoh organisasi sosial dan keagamaan. Argumentasinya agar Kota  Solo memiliki wali kota yang relegius dan nasionalis.

Pada pemilihan kepala daerah kali pertama di Kota Solo itu  pasangan Joko Widodo dan F.X. Hadi Rudyatmo diusung oleh PDIP yang oleh sebagian orang dipersepsikan sebagai partai politik yang kurang relegius dan tidak membela kepentingan umat Islam.

Achmad Purnomo bersedia diusung menjadi calon wali kota maupun calon wakil wali kota bukan karena masalah jabatan, apalagi uang. Justru saat menjabat sebagai wakil wali kota sampai sekarang dia sangat peduli dengan kegiatan sosial dan keagamaan.

Dalam satu kesempatan ia pernah mengatakan sering tombok dan mengeluarkan uang pribadi untuk mendukung kegiatan sosial dan keagamaan. Sungguh tidak tepat bila ada tuduhan dia ingin mengejar jabatan dan kekuasaan.

Warga Kota Solo tahu dia adalah pengusaha sukses. Selama menjabat sebagai wakil wali kota tidak pernah terdengar dia menyalahgunakan jabatan untuk memperkaya diri dan keluarganya. Tidak aneh banyak orang yang berkomentar Achmad Purnomo  mencalonkan diri sebagai wali Kota Solo pada 2007 dan 2020 sebenarnya legan golek momongan.

Achmad Purnomo sangat berempati terhadap sesama, tanpa pernah pandang bulu. Hal ini bisa kita saksikan dari kiprahnya di berbagai aktivitas sosial. Setiap memasuki Lebaran membagikan ribuan paket bahan pokok untuk kalangan duafa.

Integritasnya tidak perlu diragukan lagi, sehingga sangat tidak beralasan pernyataan mundur dari pencalonan wali kota ini hanya sebatas retorika politik. Saya berpandangan bahwa pernyataan itu betul-betul tulus dan ikhlas.

Rasa kemanusiaan yang terpanggil. Dia mampu menempatkan diri sebagai orang tua dan yang dituakan. Ingin tercatat dalam sejarah kehidupan orang Solo bahwa ang dilakukan selama ini memang ebatas pengabdian yang terbaik untuk warga Kota Solo. Tidak sekadar mengejar kekuasaan dan kedudukan.

Ini pandangan pribadi saya. Bisa jadi benar dan bisa jadi salah. Bila benar, Gibran akan melaju menjadi calon tunggal. Apalagi bila pemilihan kepala daerah digelar awal Desember 2020. Sangat tidak memungkinkan ada calon baru yang muncul. Sekalipun itu calon boneka. Ini pandangan saya pribadi.

 

 

 

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho