SKD Ketahuan Bermasalah, 10 Calon Siswa SMAN 1 Wonogiri Cabut Pendaftaran
Tim memverifikasi dokumen dan meminta klarifikasi calon siswa atau orang tua/wali di SMAN 1 Wonogiri, Selasa (23/6/2020). (Solopos/Rudi Hartono)

Solopos.com, WONOGIRI -- SMAN 1 Wonogiri menemukan 10 surat keterangan domisili atau SKD calon siswa yang mendaftar pada Penerimaan Peserta Didik Baru atau PPDB 2020/2021 bermasalah dan tak sesuai fakta.

Calon siswa bersangkutan kini sudah mencabut pendaftaran agar bisa mendaftar ke sekolah lain. Ada juga yang tetap mendaftar di SMAN 1 Wonogiri tapi beralih lewat jalur prestasi.

Fakta itu ditemukan pada hari pertama verifikasi dan klarifikasi oleh panitia PPDB sekolah, Senin (22/6/2020). Proses tersebut berlangsung hingga Rabu (24/6/2020) sore.

Pantauan Solopos.com, kegiatan hari kedua di sekolah setempat, Selasa (23/6/2020), verifikasi dilaksanakan dengan mengecek kartu keluarga (KK) dan SKD calon siswa di SMAN 1 Wonogiri. Kedua dokumen itu dicocokkan.

Periksakan Mata Buram, Pria Tua Asal Karanganyar Dinyatakan Positif Covid-19

Tim verifikator juga meminta klarifikasi kepada calon siswa dan orang tua/wali yang mendampingi. Kegiatan dilakukan dengan menerapkan protokol pencegahan penularan virus corona (Covid-19).

Kepala SMAN 1 Wonogiri, Endang Sunarsih, saat ditemui di kantornya, Selasa, menginformasikan terdapat 87 calon siswa yang mendaftarkan di SMAN 1 Wonogiri melalui jalur zonasi menggunakan SKD.

Meminta Klarifikasi

Verifikasi dokumen dan klarifikasi kepada calon siswa SMAN 1 Wonogiri dilaksanakan tiga hari, Senin-Rabu. Pada hari pertama tim memverifikasi dokumen dan meminta klarifikasi 13 calon siswa.

Partai Gerindra Sodorkan 2 Nama Pendamping Gibran di Pilkada Solo, Siapa Saja?

Sebanyak 10 calon siswa dinyatakan tak lolos verifikasi karena SKD yang digunakan tak sesuai fakta. Mantan Kepala SMAN 2 Wonogiri itu menjelaskan SKD dinyatakan tak berlaku untuk memenuhi syarat jika datanya tak sesuai KK.

Dia mencontohkan ada calon siswa yang berdomisili di Kaloran, Kelurahan Giritirto, Kecamatan Wonogiri. Namun, calon siswa tersebut menggunakan SKD di Kelurahan Giripurwo yang masuk satu kelurahan dengan lokasi SMAN 1 Wonogiri.

Contoh kasus lainnya, calon siswa menggunakan SKD di kelurahan tempat saudaranya seperti paman, nenek, kakek atau orang selain orang tua lainnya yang tinggal di satu zonasi SMAN 1 Wonogiri.

3 Bulan Isolasi, 10 Kali Swab, Pasien Positif Covid-19 Grogol Sukoharjo Belum Juga Sembuh

Faktanya, calon siswa bersangkutan masih tercatat dalam KK sebagai penduduk daerah lain tempat orang tuanya tinggal. Pada konteks itu, meski calon siswa sudah hidup bersama saudaranya selama bertahun-tahun, SKD dinyatakan tidak berlaku.

Endang melanjutkan SKD dijadikan syarat pendaftaran untuk mendukung/memperkuat KK. Bagi calon siswa yang SKD-nya tak lolos verifikasi diarahkan mendaftar melalui jalur lain.

Jalur Afirmasi

Jalur lain dimaksud yakni afirmasi jika keluarganya penerima bantuan sosial (bansos) pemerintah, prestasi apabila prestasinya memungkinkan, atau pindahan tugas orang tua jika memenuhi kriteria. Apabila jalur-jalur lain itu tak memungkinkan diakses, calon siswa diarahkan mendaftar ke sekolah lain.

Pemohon Rapid Test Mandiri di Sukoharjo Didominasi Pekerja, Berapa Biayanya?

“Kebanyakan yang SKD-nya tak lolos verifikasi akhirnya mendaftar ke sekolah lain,” ucap Endang.

Orang tua salah satu calon siswa SMAN 1 Wonogiri, Hartono, mengaku diminta ke sekolah untuk dimintai klarifikasi terkait SKD yang digunakan anaknya. Dia mengaku anaknya tercatat di KK sebagai penduduk Kelurahan Wonoboyo dekat lokasi SMAN 1 Wonogiri di Giripurwo.

Namun, anaknya tinggal bersamanya sejak lama. Lantaran KK dibuat baru delapan bulan lalu, anaknya memutuskan menggunakan SKD Wonoboyo. Seperti diketahui, KK yang bisa digunakan untuk mendaftar penerbitannya minimal setahun dari proses pendaftaran.

“Alhamdulillah SKD dinyatakan enggak masalah karena kami tinggal di Wonoboyo memang sudah lama,” kata Hartono.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho