SKANDAL KERATON SOLO : Aktivis Anggap Korban PB XIII Dieksploitasi
Korban pencabulan, At, 16, membuat kerajinan tangan dari kain di rumah budenya di Baki, Sukoharjo, Minggu (28/9/2014). Kegiatan itu dilakukan remaja itu untuk mengisi waktu luang setelah putus sekolah. (Rudi Hartono/JIBI/Solopos)

Solopos.com, SUKOHARJO — Sejumlah aktivis yang mengkalim peduli dengan nasib anak-anak mengkritik model pendampingan Asri Purwanti terhadap At alias Pt, korban tindak kejahatan seksual yang diduga dilakukan PB XIII. Mereka menilai pendamping terhadap At itu belum berpihak kepada korban melainkan lebih ke eksploitasi korban dan kepentingan publikasi.

Salah seorang aktivis peduli anak, Adi Cahyo, mengatakan pendampingan korban kejahatan seksual oleh tim yang diketuai Asri Purwanti itu hanya memakai pendekatan hukum. Hal itu terlihat dari gencarnya pemberitaan tentang korban di ranah hukum. Padahal, tegasnya, korban membutuhkan perlindungan dari aspek psikologi, pendidikan, kesehatan, serta bermain.

“Saya melihat pendampingan kepada korban selama ini justru mengesankan adanya eksploitasi untuk kepentingan tertentu,” papar Adi, ketika dihubungi Solopos.com, Minggu (19/10/2014).

Adi yang juga pegiat Lembaga Bantuan Hukum (LBH) ATMA dan Masyarakat Peduli Pendidikan Surakarta (MPPS) itu memberikan gambaran tentang gencarnya pemberitaan di media massa atas nasib korban. Padahal, korban yang masih di bawah umur itu semestinya mendapatkan perlindungan esktra ketat dan dijauhkan dari media massa.

“Ingat, dia itu korban, kenapa justru dipublikasikan secara massif di media massa? Pendampingan model seperti ini justru membahayakan korban,” tuduh dia.

Seperti diketahui, At diduga menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh Raja Keraton Solo, Paku Buwono (PB) XIII.

Adi bersama jaringan aktivis peduli anak lainnya saat ini masih terus mengamati perkembangan kondisi korban bersama tim pendampingnya. Jika kondisi korban kian memburuk lantaran adanya eksploitasi, dia mengancam tak akan segan-segan merebut paksa korban dari tangan Asri dan kawan-kawan yang kini bertindak asebagai tim pendamping.

“Kami akan memakai tangan negara untuk mengambil alih pendampingan korban. Kami sudah berkoordinasi dengan [pemerintah] provinsi untuk upaya pendampingan korban,” ujar dia.

Adi bersama kawan-kawannya mengaku pernah mencoba menemui keluarga korban dalam rangka memantau dan meminta informasi tentang perkembangan korban. Namun, upayanya itu dihalang-halangi dengan berbagai alasan. “Kami heran ada apa ini? Kami terus dipersulit bertemu keluarganya.”

Terpisah, Asri Purwanti mengatakan, pihaknya memang pernah ditemui sejumlah orang yang ingin menemui keluarga korban. Namun, Asri mengaku melihat ada gelagat kurang baik dari kedatangan tim yang mengaku aktivis peduli anak dari Solo itu. “Mereka ngotot ingin ketemu keluarga korban. Kami curiga, jangan-jangan mereka ini ingin numpang popularitas dengan kasus ini,” ujar dia, saat ditemui Solopos.com, Jumat (17/10/2014).

Asri menegaskan upaya dia menolak kehadiran sejumlah aktivis tersebut dalam rangka melindungi korban dari pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. “Bisa saja ada orang mengaku-ngaku peduli anak-anak, namun justru orang suruhan pihak tertentu untuk menggangu proses hukum yang kini tengah berlangsung. Mereka juga meninggalkan nomor kontak kepada kami. Mereka mengaku juga dari tim kami, kami kan heran,” paparnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho