Susi Prasetyaningtyas/Istimewa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (8/5/2019). Esai ini karya Susi Prasetyaningtyas, guru Ilmu Pengetahuan Alam di SMPN 1 Semin, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah susiprasetya@rocketmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Ujian nasional (UN) baru saja dilaksanakan. Akhir Maret lalu UN jenjang SMA dan April untuk jenjang SMP dan SMK. UN diselenggarakan un­tuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik jenjang satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah seb­agai hasil proses kegiatan pembelaja­ran sesuai dengan standar kom­petensi lulusan.

UN juga digunakan untuk memetakan tingkat pencapaian hasil belajar siswa pada satuan pendidikan. Salah satu upaya mewujudkan pendidi­kan berkualitas adalah sistem penilaian yang dapat di­percaya (credible), dapat diterima (acceptable), dan dapat dipertang­gunggugatkan (accountable).

Dalam situs unbk.kemdikbud.go.id dijelaskan pada 2019 ini 91% sekolah menerapkan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) atau computer based test (CBT). Sistem ini merupakan sistem UN dengan menggunakan komputer sebagai media ujian.

UNBK adalah pengganti ujian nasional berbasis kertas atau paper based test (PBT) yang sudah lama dilaksanakan. Penyelenggaraan UNBK menggunakan sistem dalam jaringan atau online, soal dikirim dari pusat secara online melalui jaringan ke server lokal (sekolah).

Siswa dilayani secara di luar jaringan atau offline oleh peladen atau server lokal. Hasil ujian dikirim secara online (upload) ke peladen pusat. Penyelenggaraan UNBK kali pertama dilaksanakan pada 2014 secara online dan terbatas di SMP Indonesia Singapura dan SMP Indonesia Kuala Lumpur.

Hasil UNBK di dua negara tersebut mendorong pemerintah Indonesia menyelenggarakan UNBK mulai 2015. Jumlah peserta UNBK semakin meningkat dari tahun ke tahun sampai 2019 ini.  Jumlah peserta UNBK pada 2015 dari jenjang SMP/MTs serta SMA dan SMK sebanyak 170.578 orang, pada 2016 sebanyak 922.447 orang, pada 2017 sebanyak 3.659.696 orang, pada 2018 sebanyak 5.967.237 orang, dan pada 2019 sebanyak 7.072.442 orang.

Pelestarian Alam

UNBK ini terkait erat dengan isu pelestarian lingkungan atau go green. Frasa go green berasal dari bahasa Inggris yang jika diartikan per kata berarti ”menuju kehijauan”. Lambang go green adalah pohon yang berwarna hijau.

Go green merupakan upaya masyarakat menyelamatkan bumi dari pemanasan global dengan cara melakukan kegiatan yang ramah lingkungan. Manfaat gerakan ini adalah menyadarkan kita untuk menjaga dan melestarikan alam.

Go green bertujuan mencegah perusakan lingkungan supaya bumi lebih indah, bersih, sehat, nyaman, dan hijau. Gerakan go green sekarang sedang gencar  dikampanyekan di seluruh lapisan masyarakat dan berbagai sektor kehidupan.

Sesuai dengan data peserta UNBK di situs unbk.kemdikbud.go.id, jumlah peserta UNBK sejak 2015 sampai 2019 adalah 17.792.400 siswa. Bisa kita hitung jika dari 2015 sampai dengan 2019 masih menggunakan sistem PBT, berapa lembar jumlah kertas yang digunakan?

Di jenjang SMP dan SMK/SMA ada empat mata pelajaran. Tiap mata pelajaran membutuhkan kertas kira-kira 12 lembar untuk soal dan administrasi ujian lainnya. Kalau dikalikan jumlah peserta UNBK maka jumlah kertas yang dibutuhkan adalah 17.792.400 x 12 lembar x 4 = 854.035.200 lembar kertas atau 1.708.070,4 rim (satu rim=500 lembar kertas).

Bahan baku utama kertas adalah pohon/kayu yang diolah menjadi pulp (bubur kertas) dan akhirnya dicetak menjadi kertas. Pembuatan kertas dalam jumlah 15 rim ukuran A4 membutuhkan satu batang pohon sebagai bahan baku utama kertas dengan umur pohon lima tahun hingga 10 tahun. Jadi, 1.708.070,4 lembar kertas itu membutuhkan 113.871 batang pohon yang ditebang. Jumlah yang sangat fantastis, bukan?

Dengan perubahan media ujian nasional dari berbasis kertas menjadi berbasis komputer berarti mengurangi jumlah lembar kertas yang digunakan dan berimbas juga dengan jumlah pohon yang ditebang (deforestasi).

Mudah Dilakukan

Pengurangan penggunaan kertas dalam berbagai sektor kehidupan merupakan salah satu bentuk kegiatan go green yang paling mudah dilakukan.  Langkah ini memberikan peranan yang cukup besar dalam rangka menjaga bumi agar tetap hijau.

Setiap hari kertas diproduksi dan digunakan, sementara penanaman pohon belum tentu setiap hari dilakukan. Selain itu, jangka waktu penanaman, pemeliharaan, sampai dengan tanaman siap ditebang memakan waktu puluhan tahun.

Deforestasi yang gencar dilakukan mengurangi jumlah tumbuhan yang dapat mengikat emisi karbondioksida hasil kegiatan manusia. Karbondioksida yang tak terserap oleh tumbuhan membentuk lapisan di atmosfer yang mengakibatkan pemanasan global (global warming).

Pemanasan global ini akan menimbulkan bencana alam dan berdampak pada perubahan iklim secara global (Setiawan, 1999). Jika penggunaan kertas berkurang, kegiatan deforestasi pun akan menurun dan menimbulkan dampak yang positif bagi lingkungan. Oksigen yang dihasilkan melalui proses fotosintesis dapat mengurangi pemanasan global.

Akar pohon berfungsi mengikat air yang masuk ke tanah sehingga berimbas pada berkurangnya risiko kerusakan lingkungan berupa bencana alam banjir dan tanah longsor. Jumlah air tanah yang tersimpan pun semakin banyak sehingga bisa mencegah kekeringan.

Terlepas dari pro dan kontra atas pelaksanaan UNBK di Indonesia, sistem ujian dengan menggunakan komputer perlu dipertahankan sebagai salah satu langkah menjaga kelestarian alam. UNBK merupakan salah satu penerapan go green di sektor pendidikan, walaupun memang masih perlu pembenahan dan penyempurnaan dalam pelaksanaannya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten