Singkong Goreng dan Segelas Wine

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 16 April 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI)

Singkong Goreng dan Segelas Wine

SOLOPOS.COM - Maria Y. Benyamin (Istimewa/Dokumen pribadi).

Solopos.com, SOLO -- Mulyati Gozali kaget setengah mati. Harga buah anggur di Buleleng, Bali Utara, dari tangan pertama atau petani hanya Rp500 per kilogram. Oleh pedagang, anggur itu dijual ke pasar dengan harga yang lebih tinggi. Itu sekitar 11 tahun yang lalu.

Ia sedih. Harga yang diterima petani, menurutnya, tidak pantas. Kerja keras menanti hasil panen yang panjang sia-sia. Petani mendapatkan harga yang tidak seberapa. Syukur-syukur buah anggurnya laku dengan harga itu.

Terkadang harga yang ditawar jauh lebih rendah. Mereka harus rela melihat anggur menggantung di pohon hingga membusuk ketimbang dilepas dengan harga tak seberapa.

Lebih apes lagi, rata-rata petani anggur itu menanggung utang pada sebagian penadah. Alhasil, tak ada pilihan lain. Buah anggur itu tak bisa dijual kepada pihak lain. Peluang untuk mendapatkan harga yang lebih tinggi pupus.

Kegundahan ini yang akhirnya membuat dia sedih. Lalu berpikir keras untuk menolong para petani anggur. Singkat cerita, rantai ketergantungan petani anggur kepada satu pihak akibat utang diputus.

Mulyati sepakat mengambil anggur para petani di daerah Buleleng itu dengan harga jauh lebih tinggi, Rp7.500 per kilogram. Sempat galau untuk menjadikannya jus, namun nilainya tak seberapa. Paling tinggi Rp50.000 per botol.

Pilihan jatuh pada wine. Harga minimal bisa mencapai Rp300.000 per botol. Nilai tambah buah anggur meningkat. Petani lebih sejahtera. Banyak pekerja terserap.

Wine bermerek Sababay kini bersanding gagah dengan botol-botol wine dari luar negeri. Di kafe-kafe yang marak dikunjungi wisatawan. Termasuk turis asing.

***

Tur ke pabrik wine Sababay di daerah Gianyar, Bali, terjadi tak sengaja. Mendadak melipir ke daerah itu karena penasaran dengan cerita tentang Sababay. Sababay milik Mulyati Gozali. CEO Sababay kini di tangan sang putri, Evi Gozali. Manajemen Sababay memang membuka pabrik untuk dikunjungi.

”Biar orang bisa melihat langsung produksi wine kami. Anggurnya langsung dari petani Bali,” kata Mulyati. Inilah keunikan Sababay. Bahan baku utama memang berasal dari Buleleng, 100% produk lokal.

Kendati bersumber dari kebun lokal, kualitas anggurnya dijaga betul. Sejak awal sepakat membangun kemitraan, Mulyati langsung membina para petani. Mereka dibekali pengetahuan yang memadai. Mulai dari teknik menanam hingga masa panen yang paling tepat.

Hasilnya, kualitas buah anggur yang dihasilkan tak kalah bersaing dengan anggur impor. Ini pun memengaruhi kualitas wine yang dihasilkan. Mulyati sebetulnya memulai bisnis wine pada 2010.

Gianyar menjadi lokasi kilang wine. Butuh tiga tahun hingga produk wine Sababay meluncur ke pasaran. Tepatnya pada 2013. Sekarang produksi sejumlah jenis wine di pabrik yang berdiri di tanah seluas dua hektare itu baru di bawah satu juta botol per tahun.

Sababay memang memilih tidak terlalu agresif. Ini semata-mata karena alasan ingin menjaga kualitas anggur dan konsistensi produksi. Sababay bukan pemain pertama dan satu-satunya di Bali. Ada beberapa nama yang memang bermain di bisnis ini.

Mereka dalah Bellisimo, Cape Discovery, Hatten Wines, Bali Wein, dan Isola. Tidak semuanya memproduksi wine yang bersumber dari anggur lokal yang benar-benar dihasilkan oleh petani Indonesia. Pasar wine di Indonesia memang terbilang cukup menggiurkan.

Jumlah penduduk dan potensi pariwisata yang besar menjadi sasaran empuk produsen wine dari luar negeri. Tidak ada data yang pasti soal berapa konsumsi wine di negeri ini per tahun. Seberapa besar pasar wine di Indonesia bisa kita lihat dari angka impor wine.

Menurut data Kementerian Perdagangan, wine yang masuk ke pasar dalam negeri mayoritas jenis wine dengan kandungan alkohol tidak melebihi 15%. Pangsa pasar pada 2020 tercatat sebesar 97,87% dengan nilai mencapai US$4,16 juta.

Data yang sama menunjukkan tren impor selama periode 2016-2020 meningkat tipis 0,01%. Pada Januari-Februari tahun ini, impor wine meningkat signifikan hingga 92% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Itu dari sisi nilai. Dari sisi volume, impor wine sepanjang dua bulan pertama tahun ini tercatat melonjak signifikan hingga 385%. Dari sisi negara asal, Indonesia banyak mengimpor wine dari Australia. Pangsa impor dari Negeri Kanguru mencapai 32% dengan nilai US$1,36 juta.

Negara asal impor lainnya adalah Prancis, Chile, Italia, Amerika Serikat, Argentina, Selandia Baru, Afrika Selatan, Spanyol, dan Kanada. Dari data itu terlihat bahwa pasar di dalam negeri cukup menggiurkan.

Tak mengherankan negara lain pun kian agresif memasuki pasar Indonesia. Buktinya, impor terus meningkat. Impor memang tidak sepenuhnya salah. Toh, ada pasar khusus yang memang menggemari wine dari negara tertentu.

Ada orang-orang yang juga fanatik terhadap merek anggur dari negara tertentu, namun ini tidak berarti pasar wine di dalam negeri harus dikuasai oleh wine  impor. Bagaimanapun, produk lokal harus mulai diberi panggung sehingga turut mendapat tempat di pasar lokal.

Bicara pasar lokal tentu targetnya bukan masyarakat Indonesia saja. Sebagai salah satu negara tujuan pariwisata yang potensial, pasar wine memiliki potensi yang sangat besar. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan dalam kondisi normal—sebelum pandemi Covid-19—kunjungan wisatawan mancanegara di Indonesia mencapai lebih dari 16 juta orang pada 2019.

Pemerintah telah menargetkan kunjungan hingga 20 juta orang sebelum pandemi Covid-19 menyerang. Bali menjadi destinasi utama wisatawan mancanegara. Wisatawan mancanegara yang mengunjungi Bali pada 2019 sekitar 6,2 juta orang.

Turis lokal yang berkunjung ke Pulau Dewata mencapai 10,5 juta orang. Jumlah wisatawan sebanyak ini tentu menjadi modal potensial bagi pertumbuhan pasar  wine lokal. Memang tidak mudah bersaing dengan produk impor yang lebih dulu mendapat tempat di hati para konsumen.

Dalam kondisi ini, ketika harus bersaing dengan produk sejenis dari pasar luar negeri, inovasi tentu menjadi kunci untuk bersaing dengan produk impor. Sababay, misalnya, menciptakan wine yang bisa disajikan dengan berbagai makanan asli Indonesia, mulai dari rendang, singkong goreng, dan keripik pisang.

Alih-alih memasangkannya dengan beragam makanan ala kaum bule yang selama ini dikenal paling cocok berpadu dengan wine. Seruan Presiden Joko Widodo belum lama ini untuk mencintai produk dalam negeri menjadi angin segar bagi kalangan dunia usaha yang menghasilkan produk lokal.

Setidaknya mulai ada dukungan dari pemerintah. Dukungan lain lewat kebijakan dan insentif tentu diperlukan agar produk dalam negeri, termasuk wine, bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Bukan justru menjadi tamu.

Hal ini juga tengah menjadi fokus Kementerian Perdagangan. Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi juga melihat potensi yang besar dari buah-buah lokal untuk diolah lebih lanjut menjadi produk bernilai tambah. Tak hanya anggur yang diolah menjadi wine.

Hasil olahan buah lokal yang dihasilkan dari kebun petani tak hanya untuk memenuhi pasar dalam negeri, yang juga diisi oleh produk impor. Potensi ekspor masih terbuka lebar. Ini tentu menjadi harapan kita bersama.

***

Ini soal pilihan. Produk impor atau produk lokal. Namun, jika sasarannya adalah terciptanya multiplier effect bagi Indonesia, tentu saja pilihannya adalah produk lokal. Yang dihasilkan oleh tangan-tangan terampil negeri sendiri. Juga dari kebun milik petani lokal.

Di meja makan Anda nanti, yang tersaji adalah singkong goreng, keripik pisang, atau rendang dengan segelas wine lokal. Keduanya akan menyatu sempurna. Dengan sensasi rasa yang tak kalah nikmat. Dibandingkan dengan steik dan wine impor tentunya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Berita Terkini

Resiliensi Sektor informal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 4 Mei 2021. Esai ini karya Muhammad Taufik Nandito, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyan Surakarta dan aktif di Lingkar Studi Sasadara di Kleco, Kota Solo.

Mitos Kekinian

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 5 Mei 2021. Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Solopos Institute.

Narasi Tunggal Soal Mudik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat. 7 Mei 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Hadiah Lebaran dari Mas Edi

Buat saya, di tengah pandemi seperti saat ini, orang-orang seperti Mas Edi inilah bantalan kuat bagi ketahanan ekonomi Indonesia.

Wajah Pendidikan Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 3 Mei 2021. Esai ini karya Anicetus Windarto, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Realino Sanata Dharma Yogyakarta.

Musnahkan Kebebalan Kawanan!

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 30 April 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Menolak Jalan Impunitas

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 29 April 2021. Esai ini karya St, Tri Guntur Naryawa, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Wantok

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 28 April 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos.

Rumah Tempat Debat dan Mufakat

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 26 April 2021. Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncel Bilik Literasi.

Pelajaran Dari Gawok

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 23 April 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Sinergi Mencegah Perkawinan Anak

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 21 April 2021. Esai ini karya Retno Winarni, guru Bahasa Indonesia di SMAN Kerjo, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Bisnis Monyet Tanaman Hias

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 20 April 2021. Esai ini karya Nadia Aliya Azki, mahasiswa Program Studi Manajamen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta.

(Andai) Demokrasi Tanpa Oligarki

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 19 April 2021. Esai ini karya Siti Farida, Kepala Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jawa Tengah.

Perlawanan Perempuan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 21 April 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Singkong Goreng dan Segelas Wine

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 16 April 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI)

Punden-Punden Kota Solo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 15 April 2021. Esai ini karya Albertus Rusputranto P.A., dosen di Institut Seni Indonesia Surakarta.

Membaca Perempuan Kini

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 24 April 2021. Esai ini karya Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Bukan Cuma Kebaya dan Sanggul

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 22 April 2021. Esai ini karya Elly Jauharah Asriani, guru Matematika di MTsN 7 Klaten, Jawa Tengah.

Menunggu Musikus Jadi Kaya Raya

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 17 April 2021. Esai ini karya Tito Setyo Budi, doktor Kajian Musik, wartawan, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Kabupaten Sragen.

UUD 1945 dan the Living Constitution

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 13 April 2021. Esai ini karya Salma Abiyya, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Menyikapi Waktu Subuh Yang Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 12 April 2021. Esai ini karya Muh. Nursalim, Ketua Komisi Kajian Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Sragen.

Investasi Sosial Wakaf Uang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 9 April 2021. Esai ini karya Wawan Sugiyarto, analis Pusat Analisis dan Harmonisasi Kebijakan Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan dan peraih gelar akademis PhD di Queensland University of Technology, Brisbane, Australia.

Dihantui Masa Lalu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 14 April 2021. Esai ini karya Rini Yustiningsih, jurnalis Solopos.

Teror dan Agama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 6 April 2021. Esai ini karya Arif Yudistira, tuan rumah Pondok Filsafat Solo.

Berolahraga di Atas Bus Berjajar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 5 April 2021. Esai ini karya Agus Kristiyanto, Guru Besar Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga Fakultas Keolahragaan Universitas Sebelas Maret.

Cerita dari Bontang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 7 April 2021. Esai ini karya Suwarmin, wartawan Solopos.

Mencegah Terorisme Lagi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 3 April 2021. Esai ini karya Soleh Amini Yahman, psikolog dan dosen di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Catur dan Uang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 1 April 2021. Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo.

Film sebagai Sumber Sejarah Alternatif

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 31 Maret 2021. Esai ini karya Anicetus Windarto, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Realino Sanata Dharma Yogyakarta.

Harapan Kota Solo Bebas dari Sampah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 29 Maret 2021. Esai ini karya Mochamad Syamsiro, Direktur Center for Waste Management and Bioenergy dan dosen di Jurusan Teknik Mesin Universitas Janabadra Yogyakarta.

Lupakan Saja Swasembada Gula

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 24 Maret 2021. Esai ini karya Jojo, kandidat Doktor Ilmu Ekonomi Pertanian Institut Pertanian Bogor atau IPB University.

Tema dan Kontroversi Lama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 27 Maret 2021. Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi.

Sisi Lain Proyek Mercusuar Presiden Joko Widodo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 27 Maret 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Filantropi Ruwahan Era Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 25 Maret 2021. Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Fakultas Adab dan Bahasa Institut Agama Islam Negeri Surakarta.

Pekerjaan Rumah Mas Wali

Soloraya akan menjadi megapolitan baru. Apalagi bila Mas Wali dapat memimpin langkah sinergi dan kolaborasi dengan pemerintahan lainnya di kawasan Soloraya.

Youtube Lebih daripada Televisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 20 Maret 2021. Esai ini karya Imam Subkhan, pengelola studio dan pembuat konten yang tinggal di Karanganyar.

Aspek Pajak dalam Zakat ASN

Rencana pemerintah untuk memotong gaji Aparatur Sipil Negara (ASN) sebesar 2,5% untuk pungutan zakat kembali naik ke permukaan.

Prospek Cerah Budi Daya Porang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 16 Maret 2021. Esai ini karya Bara Yudhistira, dosen Ilmu Teknologi Pangan dan peneliti di Pusat Pengembangan Kewirausahaan Universita Sebelas Maret.

Irasionalitas Impor Beras

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 15 Maret 2021. Esai ini karya Haris Zaky Mubarak, peneliti sejarah dan Direktur Jaringan Studi Indonesia.

Rekayasa Sosial dan Ubah Laku

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 3 Maret 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Rumah Versus Sekolah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 19 Maret 2021. Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015), tertarik dengan tema-tema filsafat pendidikan, filsafat agama, dan ekonomi politik.

Pencurian Artefak Bersejarah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 18 Maret 2021. Esai ini karya Christianto Dedy Setyawan, guru Sejarah di SMA Regina Pacis Solo dan anggota staf Litbang Soeracarta Heritage Society.

Toleransi Bukan Sekadar Kata-Kata

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 17 Maret 2021. Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Solopos Institute dan Pemimpin Proyek Internalisasi Literasi Keberagaman Melalui Jurnalisme di SMA/SMK di Soloraya yang dikelola Solopos Institute.

Jebakan Wacana Tiga Periode

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 17 Maret 2021. Esai ini karya Ronny P. Sasmita, analis senior di Indonesia Strategic and Economic Action Institution.

Prospek Cerah Budi Daya Porang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 16 Maret 2021. Esai ini karya Bara Yudhistira, dosen Ilmu Teknologi Pangan dan peneliti di Pusat Pengembangan Kewirausahaan Universitas Sebelas Maret.

Irasionalitas Impor Sejuta Ton Beras

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 15 Maret 2021. Esai ini karya Haris Zaky Mubarak, peneliti sejarah dan Direktur Jaringan Studi Indonesia.

Penguatan Demokrasi di Daerah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 13 Maret 2021. Esai ini karya M. Dwi Sugiarto yang tertarik dengan tema-tema demokrasi dan pemilihan umum, pernah menjadi anggota Panitia Pengawas Kecamatan Teras pada pemilihan kepala daerah Kabupaten Boyolali 2020.

Pendidikan Nonformal yang Terlupakan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 9 Maret 2021. Esai ini karya Muhammad Ivan, Sarjana Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Jakarta dan analis kebijakan di Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Macet Itu Menyenangkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 12 Maret 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia atau GrupJaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Prioritas Pembangunan Desa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 6 Maret 2021. Esai ini karya Mulyanto, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret dan Ketua Bidang Kajian dan Publikasi ISEI Solo.

”Ular Besi” Vorstenlanden

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 3 Maret 20201. Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan pelaju KRL dan Prameks Solo-Jogja.

UNS di Sepuluh Besar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 10 Maret 2021. Esai ini karya Tundjung W. Sutirto, dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret Solo.

AHY versus Moeldoko

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 8 Maret 2021. Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo.

Perpisahan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 10 Maret 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos.

Pengadaan Tanah untuk Tol Solo-Jogja

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 2 Maret 2021. Esai ini karya Himawan Pambudi, sosiologi perdesaan yang bekerja sebagai pekerja sosial di Yayasan Satunama dan warga yang tinggal di Kabupaten Klaten dan terdampak pembangunan tol Solo-Jogja.

Media Massa dan Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 1 Maret 2021. Esai ini karya Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Green Wasathiyyah Campus

Green Wasathiyyah Campus adalah kepedulian terhadap sustainability/keberlanjutan, bagaimana manusia tidak hanya sekadar memikirkan cara bertahan hidup di masa sekarang tetapi juga berpikir untuk kehidupan jangka panjang.

Subsidi Agrobisnis Pangan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 22 Februari 2021. Esai ini karya Agus Wariyanto, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah.

Orang Kaya Baru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 23 Februari 2021. Esai ini karya Yohanes Bara, mahasiswa Magister Manajemen Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan pengelola Tobemore Learning Center di Cangkringan, Sleman, DIY.

Clubhouse dan Kesan Pertama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 26 Februari 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Menerka Pesta Demokrasi 2024

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 25 Februari 2021. Esai ini karya Nursahid Agung Wijaya, Kepala Subbagian Keuangan Umum dan Logistik Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Wonogiri.

Keruntuhan Imajinasi Publik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 27 Februari 2021. Esai ini karya Abdul Jalil, jurnalis Solopos dan mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret.

Buzzer, Politik, dan Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 20 Februari 2021. Esai ini karya Dwi Munthaha, peneliti di Bhuminara Institute dan mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta.

The Chinese Way

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 19 Februari 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Sinetron New Normal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 25 Februari 2021. Esai ini karya Rini Yustiningsih, jurnalis Solopos.

Jurnalisme Mesin Pencari

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 8 Februari 2021. Esai ini karya Djoko Subinarto, bloger dan kolumnis.

Mengabaikan Kompetensi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 17 Februari 2021. Esai ini karya Edy Purwo Saputro, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Mengkritik sebagai Kultur

Gagasan ini dimuat Harian Solopos esisi Selasa, 16 Februari 2021. Esai ini karya Damar Tri Afrianto, dosen di Institut Seni dan Budaya Indonesia Sulawesi Selatan.

Larry King dan Komunikasi Efektif

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 15 Februari 2021. Esai ini karya Satrio Wahono, alumnus Magister Filsafat Universitas Indonesia dan dosen di Universitas Pancasila.

Alat Uji PCR Masih Jauh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 5 Februari 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, jurnalis Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Bonus Demografi di Tengah Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 30 Januari 2021. Esai ini karya Sri Hartanti Sulistyaningsih, Statistisi Ahli Muda Badan Pusat Statistik Kabupaten Boyolali.

Akeh Apike

Tentang berfikir positif, ketimbang larut pada racun pikiran negatif. Tentang menebar harapan, ketimbang menabur virus ketakutan, apalagi kecemasan.

Menertawakan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 3 Februari 2021. Esai ini karya Sholahuddin, aktif di Solopos Institute.

Cetak Biru Pemajuan Kesenian

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 6 Februari 2021. Esai ini karya B.R.M. Bambang Irawan, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret dan Ketua Dewan Kesenian Kota Solo periode 2017-2020.

Meneguhkan Komitmen Kebangsaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 1 Februari 2021. Esai ini karya Ajie Najmuddin, Ketua Lembaga Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama Kota Solo.

Politisasi Kesehatan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 20 Januari 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Transformasi Jangan Pergi Kala Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 29 Januari 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Kekuatan (Doa) Perempuan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 27 Januari 2021. Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, lahir di Kota Solo.

Dekonstruksi Makna Bencana

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 26 Januari 2021. Esai ini karya Anicetus Windarto, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Realino Sanata Dharma Yogyakarta.

Rejuvenate

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 27 Januari 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, Jurnalis Solopos.

Apakah Anda Punya Waktu?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 25 Januari 2021. Esai ini karya Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Memberdayakan Batik Solo Trans

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 13 Januari 2021. Esai ini karya Djoko Setijowarno, dosen di Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Katolik Soegijapranata dan Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia.

Stadion Serbaguna Manahan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 12 Januari 2021. Esai ini karya Agus Kristiyanto, guru besar Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga di Fakultas Keolahragaan Universitas Sebelas Maret dan anggota tim ahli Sport Development Index.

Oposisi Simbolis Petani

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 9 Januari 2021. Esai inikarya Tri Rahayu, jurnalis Solopos.

PSBB Setelah Empat Kali Revisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 8 Januari 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Wilayah Bebas dari Korupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 5 Januari 2021. Esai ini karya Raden Hary Sutrasno, pengawas di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Klaten dan alumnus Magister Hukum Universitas Gadjah Mada.

Park Seo-joon dan Boga Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 6 Januari 2021. Esai ini karya Setyaningsing, esais dan penulis buku Kitab Cerita (2019) dan Kaum Novel (2020), penikmat es kacang merah.

Dilema Iklan Pemerintah Daerah di Media Massa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 4 Januari 2021. Esai ini karya Abdul Jalil, mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret.

Wajah Jurnalisme Masa Depan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 2 Januari 2021. Esai ini karya Diah Ayu Candraningrum, dosen Komunikasi Digital di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara, Jakarta, dan mahasiswa Program Doktor Studi Ilmu Komunikasi Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Jakarta.

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 30 Desember 2020. Esai ini karya Mochamad Syamsiro, Direktur Center for Waste Management and Bioenergy dan dosen Jurusan Teknik Universitas Janabdara Yogyakarta.

Game Theory Perombakan Kabinet

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 29 Desember 2020. Esai ini karya Dwi Munthaha, peneliti di Bhuminara Institute dan mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta.

Herry Priyono dan Manusia Ekonomi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 28 Desember 2020. Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo.

Menanti Kinerja Wali Kota Rasa Presiden

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 22 Desember 2020. Esai ini karya Nurmadi H. Sumarta, mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan dan dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

Natal dan Regulasi Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 26 Desember 2020. Esai ini karya Aloys Budi Purnomo, Pastor Kepala Campus Ministry Unika Soegijopranoto Semarang.

Kampus Hijau untuk Siapa?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 19 Desember 2020. Esai ini karya Suryanto, dosen di Fakultas Ekonomi dan Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Sebelas Maret.

Sejarah Terapan dan Sejarawan Solutif

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 16 Desember 2020. Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret.

Ibu dalam Sejarah dan Tulisan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 23 Desember 2020. Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi.

Kapan Keluar dari Resesi Ekonomi?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 14 Desember 2020. Esai ini karya B.R.M. Bambang Irawan, mahasiswa Program Doktor Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

Korupsi Dua Menteri dan Kebangkitan KPK

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 12 Desember 2020. Esai ini karya Mohammad Jamin, dosen Sosiologi Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret.