Simulasi Empati Memanusiakan Manusia
M. Farid Sunarto (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Kali pertama saya mendengar istilah ”memanusiakan manusia” dari Ketua PMI Kota Solo Susanto Tjokrosoekarno. Menurut Pak Santo, begitu saya memanggil dia, kalimat indah itu dia peroleh dari tausiah Pemimpin Pusat Majlis Tafsir Al-Qur’an Al Ustaz Ahmad Sukina dalam forum Musyawarah Kerja Kota PMI Kota Solo.

Selama menjadi Ketua PMI Kota Solo, perhatian utama Pak Santo adalah harus selalu peduli dan berbagi untuk sesama. Sebaik-baik manusia itu bila bermanfaat bagi manusia lain. PMI dijadikan ladang amal untuk menanam kebaikan kepada siapa pun tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras, dan golongan.

Implementasi memanusiakan manusia di PMI Kota Solo adalah program yang diluncurkan pada 2010, yaitu Miskin Sakit Hubungi PMI...! Beberapa pegawai PMI Kota Solo ragu-ragu terhadap ide itu, tetapi Pak Santo selaku ketua tetap kukuh ingin orang-orang miskin dan sakit dibantu pengobatan dan dibantu gizi, lebih-lebih bagi mereka yang saat itu belum tercakup BPJS Kesehatan.

Informasi pasien diperoleh dari berbagai sumber, dari media cetak, media sosial, dan  laporan masyarakat secara langsung. Informasi ditindaklanjuti petugas dan tim medis melakukan asesmen. Kegiatan itu dilakukan rutin tiap pekan, kontinu, dan konsisten.

Secara proaktif tim medis PMI bersama dokter dari Universitas Sebelas Maret ditugasi secara rutin melakukan “susur kampung” di daerah padat penduduk dan pinggiran Kota Solo. Tujuannya menemukan orang yang membutuhkan pengobatan segera dan bantuan gizi.

Dana digalang dari donatur sukarela dengan membuka dompet kemanusiaan, bukan diambil dari dana PMI. Singkat cerita, sampai saat ini program tersebut terus berjalan dengan baik dan sangat membantu ribuan orang yang benar-benar membutuhkan.

Pak Santo yang terinspirasi “Bapak Orang Gila” dari Jombang, Jamiin, kemudian memerhatikan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang masih banyak berada di jalanan. Mereka tidur di emperan toko tanpa alas dan selimut. Mereka mencari makanan dengan mengais tong sampah.

Mobil ambulans PMI Kota Solo pernah menjemput ODGJ yang meninggal dunia dan tergeletak di jalanan. Mereka manusia tetapi hidup tidak seperti layaknya manusia. Pada 2012 Pak Santo menginisiasi program Gila Telantar Hubungi PMI...! PMI Kota Solo membangun Griya PMI Peduli di tanah seluas 500 meter persegi di Mojosongo, Solo, untuk menampung dan merawat mereka.

Kemudian disusul program baru Orang Tua Telantar Hubungi PMI...!” Sebenarnya saya tidak ingin membicarakan Pak Santo karena beliau pasti tidak suka saya menulis hal ini di media. Saya sengaja tidak meminta izin menulis ini. Saya juga tidak ingin mengulas lebih jauh program Gila Telantar Hubungi PMI...! atau Orang Tua Telantar Hubungi PMI...!

Silakan menemukan faktanya dan berkunjung bersama keluarga Anda ke Griya PMI Peduli dan Griya Bahagia yang beralamat di Jl. Sumbing Raya No. 6, Mojosongo, Jebres, Kota Solo, Jawa Tengah.  Saat ini ada 100-an ODGJ di Griya PMI dan 30-an orang tua telantar di Griya Bahagia.

Situasi Terkini

Saya ingin mengaitkan semangat memanusiakan manusia itu dengan situasi terkini ketika kesadaran masyarakat akan toleransi, peduli, dan berbagi dengan sesama sedang diuji  Tuhan dengan cara yang berbeda dari biasanya, yaitu pandemi Covid-19.

Kita tahu virus ini buta mata, bisa menular kepada siapa pun tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan. Yang terinfeksi virus ini ada di berbagai negara tanpa memandang benua. Mereka merupakan penganut agama dan aliran kepercayaan yang berbeda-beda. Virus ini menginfeksi orang dari berbagai suku dan golongan.

Virus ini tak memedulikan latar belakang partai politik, organisasi kemasyarakatan, atau kelompok dan tidak mengenal strata sosial. Intinya Covid-19 bisa menginfeksi siapa pun manusia. Menurut WHO, kunci keberhasilan memutus mata rantai persebaran Covid-19 adalah social and physical distancing.

Masyarakat diminta membatasi interaksi sosial atau menjaga jarak fisik satu orang dengan orang lain. Lebih jelasnya menghindari kerumunan orang banyak, tinggal di rumah, kerja di rumah, agar jika ada orang sakit menularkan kepada orang sehat, dan orang sehat tidak menjadi hidden carrier bagi kelompok rentan, yaitu orang yang berusia di atas 60 tahun, mengidap penyakit kronis lain, dan orang dengan disabilitas.

Saat ini di daerah zona merah kegiatan peribadatan berbagai agama disarankan dilaksanakan di rumah masing-masing. Orang punya hajatan dilarang mengadakan perjamuan besar-besaran, hanya diizinkan kurang dari 10 orang. Itu pun menggunakan protokol pencegahan Covid-19 yang ketat.

Itu semua bukan berarti melarang orang punya hajatan, bukan  menutup atau melarang orang untuk beribadah, bukan pula melarang orang saling berjabat tangan. Jangan salah mengerti! Tujuannya pasti bukan itu.

Yang dilarang adalah berkumpulnya orang-orang dalam jumlah banyak, agar menghindari bersentuhan tangan, karena akan sangat berisiko seseorang yang terinfeksi Covid-19 atau sebagai hidden carrier menularkan kepada orang lain.

Dalam kontek memanusiakan manusia, marilah kita asah empati dan toleransi. Sekadar simulasi empati, marilah kita coba menempatkan diri kita pada posisi seolah-olah sebagai orang yang belum tentu sehat dan belum tentu steril dari Covid-19.

Menjalankan Protokol

Sebenarnya sikap ini sangat wajar karena Covid-19 bisa menginfeksi siapa pun tanpa disadari sebelumnya, bahkan pada masa inkubasi virus hari pertama sampai hari kelima seseorang belum merasakan gejala klinis tetapi tetap berisiko menularkan virus kepada orang lain.

Oleh karena itu, simulasi ini menempatkan diri sebagai manusia yang memiliki risiko menularkan Covid-19 kepada manusia lain, baik sebagai manusia  terpapar atau sebagai hidden carrier, semata-mata untuk meningkatkan kesadaran perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan  konsisten menjalankan protokol social and physical distancing.

Sekali lagi, tentu ini hanya simulasi empati dan saya mendoakan kita semua senantiasa dalam keadaan sehat wal afiat. Menempatkan keselamatan diri kita dan orang lain harus didasari sikap saling mencintai dan menempatkan unsur nyawa manusia melebihi dari pertimbangan lainnya.

Presiden Ghana Nana Akufo Addo berkata,”Kita tahu cara memulihkan ekonomi, tapi tidak dengan menghidupkan orang". Presiden Ghana memandang setiap nyawa manusia tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras, dan golongan harus dimanusiakan dan diselamatkan dari semua risiko meninggal.

Menempatkan unsur menyelamatkan manusia ditempatkan di atas risiko ambruknya perekonomian negara sekalipun. Dalam situasi ini, saya belajar dari Pak Santo bersama Tim PMI Kota Solo, belajar dari Pak Jamiin. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kedalaman hati berempati memanusiakan ODGJ yang tidak termanusiakan karena faktor keadaan.

ODGJ bukanlah sanak kerabat mereka. Mereka tidak mengenal nama orang dan alamatnya. Mereka tahu ODGJ telantar pasti tidak memiliki kemampuan membayar biaya perawatan. Faktor-faktor itu diabaikan semua. ODGJ dan orang tua terlantar ini dikumpulkan di tempat yang layak di Griya PMI Peduli dan Griya Bahagia, dirawat dengan tulus ikhlas dan kasih sayang, dimanusiakan sebagaimana manusia.

Kesadaran kemanusiaan di atas  bisa kita contoh, yakni tentang bagaimana cara memandang seseorang kepada orang lain dari segi kemanusiaan. Saat ini kita tidak sekadar diminta meningkatkan PHBS agar menjaga diri dan orang lain dari risiko terinfeksi Covid-19.

Lebih daripada itu kita diharapkan meningkatkan kesadaran kemanusiaan serta meminimalkan sikap egois dan tidak manusiawi. Jangan lagi ada pemberitaan media yang kurang manusiawi, seperti pasiden dalam pengawasan (PDP) yang tetap keluyuran keluar rumah, ada yang menolak pemakaman jenazah pasien Covid-19, masyarakat yang memberi stigma kepada orang dalam pemantauan (ODP) dan PDP, juga ada pemberitaan tenaga medis yang dikucilkan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya dan sebagainya.

Belajar dari pengalaman di atas, simulasi empati memanusiakan manusia cukuplah sederhana.  Tingkatkan kewaspadaan untuk saling menjaga satu dengan lainnya. Semangat menempatkan orang lain agar tetap aman dari kelalaian kita.

Kuncinya adalah tetap tenang dan jangan panik menghadapi pandemi Covid-19. Selalu jaga kesehatan dan  melakukan kegiatan bekerja, belajar dan beribadah dari rumah. Social and physical distancing hanyalah sarana belajar empati dan menghargai sebagai sesama manusia agar saling menjaga satu sama lain.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho