Kategori: Internasional

Simpan Mayat Suaminya di Kulkas Setahun Lebih, Wanita 68 Tahun Ditangkap Polisi


Solopos.com/Dewi Munjung Rahayu

Solopos.com, WASHINGTON DC — Barbara Watters, 68, menyimpan mayat suaminya, Paul Barton, yang telah meninggal dunia ke dalam kulkas di rumahnya di Josplin, Missouri, Amerika Serikat. Ia beralasan takut tubuh suaminya digunakan untuk penelitian.

Dikutip dari New York Post, Rabu (18/11/2020), Barbara menyimpan jasad Paul ke dalam lemari es yang ada di rumahnya setelah suaminya itu meninggal karena penyakit langka, yakni Lou Gehring. Dia menyimpan jasad suaminya karena takut dokter akan mengambil organ tubuh Paul untuk dijadikan bahan penelitian.

"Kami percaya bahwa menggunakan organ [orang meninggal] adalah menjijikan dan bertentangan dengan firman Tuhan," kata Barbara.

Pada November 2019, Barbara ditangkap dan didakwa dengan tuduhan pengabaian mayat setelah petugas kepolisian Josplin menemukan tubuh Paul Barton yang disimpan di kulkas di rumah tersebut.

Debat Pilkada Sragen : Soal E-Government, Yuni-Suroto Ungkap Kuncinya ada di ASN

Polisi memperkirakan mayat Paul disimpan di kulkas selama lebih dari setahun setelah dilakukan autopsi. Selain itu, mereka yakin bahwa Paul meninggal di kediamannya karena penyakit yang dideritanya pada 2018 silam.

Pada bulan Januari lalu, hakim membatalkan tuduhan terhadap Barbara karena wanita itu hanya mengawetkan dan menyimpan tubuh suaminya agar selalu dekat dengannya.

Tiga bulan kemudian, Barbara mengajukan gugatan meminta mayat suaminya yang berada di kantor Jasper County Coroner untuk dikembalikan.

Diminta Lagi

Hakim menolak gugatan Barbara yang meminta kembali tubuh suaminya itu. Pemeriksa hukum Rob Chappel mengatakan bahwa dia berharap agar masalah ini dapat diselesaikan dengan cepat dan sesuai dengan hukum yang ada.

"Kami ingin menghormatinya [Paul Barton], kami ingin menghormati [Barbara Watters] juga, tetapi dalam parameter hukum," kata Chappel.

Menurut Chappel, hukum negara memberikan tiga opsi pilihan kepada Barbara terhadap mayat suaminya yang sudah setahun lebih disimpan di kulkas. Opsi itu antara lain menguburkannya, kremasi, atau menyumbangkannya untuk ilmu kedokteran. Melalui Globe, Barbara mengatakan dia menolak opsi tersebut.

"Mereka tidak dapat meminta suami saya dimakamkan, dikremasi atau meminta tubuhnya dijadikan hadiah anatomi," kata Barbara.

Kemenag Klaim Kecolongan, 13 Anggota Jemaah Umrah Indonesia Positif Covid-19

Wanita itu bahkan khawatir jika tubuh suaminya itu dijadikan bahan penelitian. Sementara, Chappel mengatakan tuduhan Barbara itu tidak berdasar, tetapi ia bersikeras bahwa ada seorang dokter yang ingin mengambil otak dan sumsum tulang belakang suaminya untuk penelitian.

Share
Dipublikasikan oleh
Ginanjar Saputra