Ilustrasi bahan baku industri farmasi, pangan fungsional, serta produk nutrisi dan kesehatan. (Bisnis-Dwi Prasetya)

Solopos.com, SEMARANG — Saham emiten PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) mencapai level tertinggi sepanjang sejarahnya sejak menjadi perusahaan terbuka. Rekor Sidomuncul itu dicatatkan pada perdagangan Jumat (16/8/2019), tatkala saham SIDO naik 45 poin atau 3,98 % menjadi Rp1.175. Ini menjadi level tertinggi sepanjang sejarah perseroan tersebut.

Kapitalisasi pasar saham Sido Muncul mencapai Rp17,63 triliun, dengan price to earning ratio (PER) 23,50 kali. PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. resmi menjadi perusahaan terbuka pada 18 Desember 2013. Saat itu, perusahaan menawarkan 1,5 miliar saham di harga Rp580 per lembar. Dengan demikian, total raihan dana IPO mencapai Rp870 miliar.

Sepanjang tahun berjalan, saham Sido Muncul naik 39,88%. Dalam jangka yang lebih panjang, yakni 3 dan 5 tahun terakhir, harga sahamnya masing-masing tumbuh 121,70% dan 38,24%. Pada hari ini, investor asing melakukan net buy saham PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. sebesar Rp383,45 miliar. Namun, sepanjang 2019 investor asing cenderung net sell senilai Rp39,44 miliar.

Kinerja saham Sido Muncul sejalan dengan kinerja fundamental keuangan dan operasional perseroan. Pada semester I/2019, perusahaan membukukan pendapatan Rp1,41 triliun, tumbuh 10,67% year on year (yoy) dari semester I/2018 senilai Rp1,27 triliun. Laba bersih meningkat lebih tajam, yakni 28,22% yoy menjadi Rp374,12 miliar dari sebelumnya Rp291,77 miliar. Marjin laba bersih (Net Profit Margin/ NPM) pun naik menuju 26,53% dari semester I/2018 sebesar 22,89%.

Pertumbuhan NPM Sido Muncul per Juni 2019 terbilang wajar. Pasalnya, beban pokok penjualan pada semester I/2019 hanya naik 2,11% yoy menuju Rp651,92 miliar dari sebelumnya Rp638,46 miliar.

Kepala Bagian Humas Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Bambang Supartoko menyampaikan, setiap sebulan sekali perusahaan mengadakan rapat untuk mengevaluasi kinerja operasional. Salah satu tujuan rapat ialah mengefisienkan pos-pos dalam tahap produksi dan distribusi. Satu pos yang paling memakan banyak biaya operasional ialah energi. Oleh karena itu, SIDO memanfaatkan limbah hasil olahan sebagai bahan bakar Energi Baru Terbarukan (EBT).

“Saat ini, dengan pemanfaatan pengolahan limbah hasil olahan jamu, kita bisa menghemat pemakaian bahan baku energi hingga 50%. Ini sangat signifikan mengefisienkan operasional,” tuturnya saat Bisnis berkunjung ke pabrik SIDO di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Kamis (15/8/2019).

Limbah hasil produksi dapat berupa barang cair dan padat. Yang cair diolah menjadi biomassa, sedangkan yang padat dibentuk menjadi briket dan palet kayu. Hasilnya sangat memuaskan, karena kalori yang dihasilkan briket dan palet kayu mencapai 4.400 Kcal/kg, sedangkan biomassa 3.500—3.700 Kcal/kg. Pembakarannya pun 100% menjadi energi, berbeda dengan batu bara yang hanya 80%.

Sebagai perbandingkan, batu bara untuk PLTU biasanya menggunakan daya 4.200 Kcal/kg. Namun, penggunaan EBT tentunya jauh lebih ramah lingkungan, sehingga diharapkan dapat mendukung PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. mendapatkan penghargaan Proper Emas.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten