Si Covid-19 dan Tubuh Kita
Wakil Direktur Pendidikan dan Penelitian Juru Bicara Satuan Tugas Covid-19 Rumah Sakit UNS, Tonang Dwi Ardyanto. (Istmewa)

Tulisan ini ditulis oleh Wakil Direktur Pendidikan dan Penelitian Juru Bicara Satuan Tugas Covid-19 Rumah Sakit UNS, Tonang Dwi Ardyanto. Tulisan ini juga dimuat di Harian Umum Solopos Edisi 17 April 2020.

Jumlah pasien positif Covid-19 semakin banyak. Jumlah yang meninggal dan yang sembuh saling menyusul.

Dalam hal pasien yang meninggal, dilaporkan perburukan yang cepat. Dalam hal pasien sembuh, bervariasi laporannya. Ada yang cukup cepat, ada yang setelah melewati fase kritis yang lama. Tapi kemudian ada juga yang dilaporkan positif meski tanpa ada gejala.

Sebenarnya apa yang terjadi?

Ketika menginfeksi tubuh, virus corona akan masuk ke sel. Untuk bisa masuk, ada proses pengikatan. Semacam kunci untuk membuka pintu. Dilaporkan namanya reseptor ACE 2. Tempatnya banyak di sepanjang saluran pernafasan, tapi juga ke saluran cerna.

Pada Covid-19, tempatnya adalah di bagian belakang rongga hidung dan mulut (nasofaring dan orofaring). Atau sampai ke pembuluh napas di bagian dalam paru. Titik tempat virus memiliki kunci masuk ke sel inilah menjadi tempat pengambilan sampel. Diharapkan akan maksimal ada di tempat itu.

Setelah berhasil masuk sel, selanjutnya virus akan "menguasai" sel. Dengan cara itu, virus akan mampu berkembang biak menggunakan perangkat sel yang dikuasainya.

Dalam waktu singkat, jumlah virus berlipat. Dalam beberapa laporan, puncak perlipatan jumlah sel adalah hari ke 5-6. Saat itulah, puncaknya virus membutuhkan tempat baru untuk kembali berkembang biak. Virus harus keluar dari sel menuju ke sel yang baru.

Saat virus menguasai dalam sel, sebenarnya sel inang tersebut memberi tanda. Anggaplah semacam bendera merah, tanda telah terinfeksi virus. Sistem imun tubuh merespons dengan berusaha membersihkannya.

Sifat respons ini umum, belum spesifik seperti antibodi karena masih fase awal infeksi. Senjata yang digunakan terutama adalah sitokin. Untuk mudahnya ini semacam senjata multi fungsi tapi tidak spesifik. Prinsipnya secepatnya membersihkan benda asing.

Karena sifatnya umum, maka caranya dengan "menghancurkan" sel yang terlanjur jadi inang. Jadilah banyak sel-sel berisi virus yang mati. Proses ini menimbulkan gejala-gejala awal seperti batuk.

Selanjutnya sel-sel mati itu ditangkap silia (rambut-rambut halus) di saluran nafas. Respon selanjutnya akan diproduksi banyak lendir untuk membungkus sel-sel mati tersebut.

Jadilah batuknya bercampur dahak. Adanya perlawanan imun sifat umum ini juga menimbulkan demam karena demam itu memicu respon imun lebih intensif.

Jarak waktu antara masuknya virus sampai ada respons imun sehingga timbul gejala disebut masa inkubasi. Bila respons imun sanggup menghancurkan virus, maka gejala akan ringan, mungkin sampai tidak terasa.

Seberapa berat gejala ini menggambarkan seberapa kuat sistem imun berusaha "menghancurkan" virus. Juga menggambarkan seberapa banyak virus yang sudah berhasil memasuki sel tubuh. Semakin banyak jumlah virus, dan semakin kuat sistem imun tubuh, maka semakin terasa gejalanya, tetapi juga semakin cepat membersihkannya.

Dengan demikian, tubuh dalam kondisi aman karena virus tidak sempat sampai masuk terlalu jauh ke dalam paru-paru.

Saat terjadi penghancuran tersebut, virus ikut dihancurkan. Pada titik inilah sebenarnya muncul antigen virus. Sayangnya, biasanya kemunculan antigen ini tidak mudah dideteksi karena berlangsung relatif singkat.

Selanjutnya terhadap antigen tersebut, tubuh merespons membentuk antibodi. Dalam beberapa laporan, antibodi terhdap virus covid-19 muncul pada hari ke 6-7.

Tidak seperti sitokin, antibodi ini semacam peluru yang masing-masing spesifik untuk "musuh tertentu". Mungkin mirip pelurunya sniper atau penembak jitu.

Setelah antibodi muncul pun, sebenarnya virus tidak langsung benar-benar bersih. Sejak hari ke 5-6, jumlah virus dalam tubuh (viral load), mulai menurun perlahan.

Pada hari ke 10, dilaporkan virus mulai menurun secara signifikan. Hal ini diduga terkat kematangan antibodi, yang mulai efektif pada hari ke 10. Tapi baru hari ke-14 diduga antibodi sudah benar-benar matang dan efektif.

Maka pada hari ke 14, penurunan itu semakin signifikan sampai sangat rendah jumlahnya. Perlu waktu untuk virus benar-benar bersih. Hanya kadarnya sudah rendah sekali, kemungkinan tinggal partikel-partikel genetiknya.

Pada hari ke 21, secara alamiah, semua virus maupun partikel-partikelnya sudah dibersihkan oleh antibodi. Tahapan ini pada respons imun yang adekuat (normal).

Selain membentuk antibodi, sistem imun juga membentuk sel memori. Sel ini menyimpan data lengkap dan spesifik tentang antigen virus corona. Sel memori dan antibodi ini mirip prajurit intelijen dan penembak jitu.

Sel memori menyimpan data dan mampu segera mengenali bila musuh tertentu kembali datang. Sedangkan antibodi menjadi penembak jitu terhadap musuh tertentu tersebut. Keduanya menjadi bagian penting dari kekebalan tubuh.

Setelah virus bersih pada sekitar hari ke 21, maka perlahan-lahan antibodi akan berkurang titer (kadarnya). Saat kemudian ada paparan virus lagi, maka sel memori segera mengenali. Dengan demikian, segera pula antibodi diaktifkan kembali produksinya dan segera "membersihkan" virus tersebut.

Itu respon secara umum yang berhasil. Namun, ada kalanya, respon imun tidak sekuat itu. Atau, responnya tidak setajam itu dalam melawan virus. Bisa juga, justru respon itu terlalu hebat.

Kok bisa?

Walau sudah ada virus masuk tubuh, tetapi sistem imun gagal melakukan respon awal yang tepat. Akibatnya virus sempat berkembang biak. Setelah virus berkembang biak, kemudian keluar dari satu sel dan mencari sel lain.

Dengan proses ini, jumlah virus semakin banyak. Karena sistem imun tidak segera merespons dengan baik, jadilah sel-sel di saluran napas menjadi tempat berkembang biak virus yang semakin banyak .

Akhirnya, virus bisa mencapai paru-paru, bahkan sampai ke kantong alveoli. Kantong ini tempat pertukaran antara udara kotor (CO2) dari dalam tubuh dengan udara bersih (O2) dari tarikan pernafasan. Infeksi ke alveoli ini yang disebut pneumonia.

Adanya virus di alveoli, memancing respons keluarnya lendir pekat. Maksudnya untuk melawan virus. Tapi akibatnya, menutupi tempat pertukaran udara kotor dan bersih tadi. Jadilah tubuh mengalami gagal nafas. Tidak bisa mendapatkan oksigen.

Kegagalan fungsi di salah satu organ ini, kemudian merambat dan menjalar, meluas ke banyak organ lain. Terutama ke organ-organ penting tubuh seperti otak, ginjal, jantung, liver dan saluran pencernaan.

Terjadilah kegagalan fungsi multi organ. Inilah kondisi kritis yang dapat terjadi pada infeksi Covid-19. Bahkan bisa sampai mengakibatkan kematian.

Sebenarnya, sistem imun juga bukannya diam. Setelah virus meluas dan menimbulkan masalah di paru-paru, sistem imun juga merespons. Tapi situasi terlanjur berat. Akibatnya sistem imun terpicu bereaksi sekuat-kuatnya.

Sitokin-sitokin dilepaskan seolah membabi buta. Ini yang kemudian disebut badai sitokin.

Pelepasan sitokin membabi buta itu menimbulkan perang dahsyat dengan virus. Banyak sekali virus mati, tapi juga merusak banyak sekali sel tubuh kita sendiri.

Selama tubuh masih merasa ada "benda asing", maka sitokin terus dilepaskan. Semakin lama semakin banyak. Sampai akhirnya sistem imun yang kehabisan daya atau kerusakan yang ditimbulkan semakin luas.

Karena itu, bila terjadi kondisi kritis itulah, harus diberikan perawatan secara intensif. Untuk menjaga tubuh tetap mendapat oksigen, dijaga dengan ventilator, juga untuk menjaga tubuh dalam kendali badai sitokin sampai mereda.

Berbagai terapi harus diberikan, tapi juga harus sangat hati-hati. Salah-salah, bukan meredakan tapi bisa menambah berat badai sitokin yang terjadi. Inilah masa-masa kritis.

Melewati fase kritis tersebut, masih dapat diharapkan pasien dapat sembuh. Setelah sembuh, tetap akan terbentuk antibodi meskipun tentu memakan waktu.

Ada juga yang akhirnya terpaksa meninggal karena tidak sanggup melewati fase kritis tersebut. Maka memang ada variasi cukup lebar pada infeksi Covid-19. Ada yang ringan bahkan tidak sampai timbul gejala yang dirasakan. Tapi bisa juga berat bahkan kritis dan akhirnya meninggal.

Yang perlu mendapat perhatian juga adalah potensi atau risiko seseorang yang terinfeksi itu, menularkan kepada pihak lain. Selama masa inkubasi itu, bila diperiksa swab (usap) rongga belakang hidung dan mulutnya secara PCR, akan memberikan hasil positif.

Selama masa itu sampai saatnya antibodi sudah bisa mematikan virus, maka masih ada potensi menularkan.

Masa inkubasi dilaporkan rata-rata 5,8 hari setelah infeksi. Tapi variasinya bisa antara 2,5 hari sampai 14 hari pasca-infeksi.

Karena itulah, masa pemantauan Orang Tanpa Gejala (OTG) ditetapkan selama 14 hari. Harapannya, bila sampai 14 hari setelah risiko infeksi akibat kontak, tidak timbul gejala, dianggap tidak terbukti ada infeksi.

Tentu saja langkah yang lebih tepat pada OTG adalah dilakukan pemeriksaan swab. Tentang hal ini, akan dibahas tersendiri.

Begitu juga pada yang dengan gejala ringan sampai sedang. Masa untuk berpotensi menularkan akan lebih lama karena terbentuknya antibodi juga membutuhkan waktu lebih lama.

Maka masa pemantauan Orang dalam Pemantauan (ODP) juga ditetapkan 14 hari. Itu sebenarnya minimal. Seharusnya tetap dibuktikan dulu dengan pemeriksaan laboratorium.

Pada pasien terinfeksi covid yang gejalanya berat dan kritis, tentu masa penularan akan makin panjang potensinya. Ketika pasien dipulangkan karena sembuh, maka syaratnya adalah sudah terbukti bebas virus. Caranya melalui pemerikasan laboratorium. Hal ini untuk menjaga benar agar setelah dipulangkan, tidak lagi berpotensi menularkan.

Pada pasien dalam pengawasan (PDP atau sering disebut suspect) dan pasien konfirmasi (istilahnya pasien positif) yang meninggal, maka untuk menjaga potensi penularan, dilakukan proses penanganan jenazah dengan sangat hati-hati.

Ada standar pembungkusan jenazah berlapis antara plastik-kain kafan-plastik-kantong jenazah-peti-plastik. Setiap lapis dilakukan desinfeksi sebelum diberi lapisan berikutnya. Dengan demikian, aman ketika dikeluarkan dari rumah sakit.

Kondisi lain, setelah seseorang sembuh, virus sudah tidak ada (pemeriksaan sudah negatif), tapi kok masih bisa terinfeksi lagi?

Kondisi tersebut, dinamakan re-infeksi. Atau infeksi berulang. Hal ini bisa terjadi karena beberapa hal.

Pertama, ada perubahan pada virus (mutasi) sehingga data-datanya tidak sesuai lagi dengan catatan di sel memori. Akibatnya, pasukan intelijen itu gagal mengenali ketika virus mutan memauski tubuh.

Kedua, kondisi tubuh menurun sehingga respons imun tidak berjalan sesuai seharusnya. Walau sel memori mengenali, tapi pasukan tempur beramunisi antibodi, gagal beraksi.

Ketiga, ada paparan virus dalam jumlah sangat banyak sehingga respons imun tidak sanggup membersihkan dengan cepat. Walau sel memori mampu mengenali, pasukan tempur beramunisi antibodi juga beraksi, tapi musuhnya terlalu banyak jumlahnya.

Meski demikian, sistem imun tubuh tidak tinggal diam. Karena sudah pernah ada infeksi sebelumnya yang virusnya sama atau hampir sama (karena mutasi), maka dalam waktu cepat tubuh merespons. Produksi amunisi antibodi segera digenjot.

Pengenalan tentang fase-fase keberadaan virus dalam tubuh kita ini, menentukan pula apa pemeriksaan laboratorium yang tepat pada saat yang tepat. Bila tidak tepat, maka risikonya, bisa salah target.

Alih-alih memberi informasi lengkap, bisa-bisa malah menimbulkan kebingungan menentukan sikap. Perlu pembahasan tersendiri tentang hal ini.

Semoga episode wabah Covid-19 ini dapat segera kita lewati. Aaminn..


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho