Sejumlah ibu-ibu memotong bulu entok yang digunakan sebagai bahan pembuatan shuttlecock di Dukuh Ngentak, Desa Gadingan, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, Kamis (7/3/2013). (Farid Syafrodhi/JIBI/SOLOPOS)
[caption id="attachment_386006" align="alignleft" width="370"]
Sejumlah ibu-ibu memotong bulu entok yang digunakan sebagai bahan pembuatan shuttlecock di Dukuh Ngentak, Desa Gadingan, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, Kamis (7/3/2013). (Farid Syafrodhi/JIBI/SOLOPOS)[/caption] SUKOHARJO--Permintaan shuttlecock yang diproduksi di Desa Gadingan, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Guna menjaga pelanggan, sejumlah perajin tetap menjaga kualitas produknya. Salah satu produsen shuttlecock, Marjoko Kompas & Domas (MKD), misalnya menjaga kualitas produknya dengan memilih bahan baku berupa bulu ayam dan bulu entok yang terbaik. “Bulu yang digunakan harus berasal dari ayam yang bobotnya lebih dari dua kilogram. Kami lebih baik menolak bulu dari ayam yang bobotnya kurang dari dua kilogram karena bisa dipastikan kualitasnya juga berkurang,” ujar salah satu karyawan MKD, Yuli Trihanto, saat ditemui Solopos.com di pabrik shuttlecock, Kamis (7/3/2013). Menurut Yuli, untuk satu ekor ayam, biasanya yang digunakan hanya empat helai bulu, yakni bulu nomor dua dan tiga pada sayap ayam.  “Kalau sayap nomor satu terlalu kecil,” kata Yuli. Sedangkan untuk bulu entok, kata dia, dapat digunakan semua. Namun untuk shuttlecock kualitas super, pihaknya menggunakan bulu ekor entok. Bulu-bulu tersebut didapat dari rumah pemotongan ayam di Jakarta. Seunting bulu yang lebih kurang berisi 100 bulu, dihargai Rp120.000. Ia mengambil bulu antara 2,5 kilogram-3 kilogram. 3 Merek Shuttlecock yang diproduksi di MKD, imbuh Yuli, dibagi menjadi tiga merek, yakni Kompas Merah, Kompas Coklat dan Domas. Khusus untuk merek Domas dipasarkan di Jawa Barat. Sedangkan Kompas Merah dan Kompas Coklat dipasarkan di kawasan Soloraya, Tegal, Purwodadi dan daerah lainnya. Yang membedakan ketiga merek tersebut adalah kualitas bahan baku. Selain bulu, dop atau tatakan bulu pada shuttlecock yang digunakan pada ketiga merek tersebut juga berbeda. Domas mengunakan bahan dop sintetis, sedangkan merek Kompas menggunakan bahan kulit. Kualitas terbaik, yakni Domas, ungkapnya, hanya dipasarkan di Jawa Barat dengan harga Rp37.000 per dus. Satu dus berisi 12 shuttlecock. Sedangkan Kompas Merah dihargai Rp20.000 dan Kompas Coklat Rp32.000. Rata-rata produksi di pabrik tersebut mencapai 500 shuttlecock. Hampir setiap bulan, kata dia, permintaan selalu naik. Namun untuk menjaga kualitas, MKD hanya membatasi produksi shuttlecock sekitar 7.000 dalam sebulan. “Bisa saja kami menambah produksi sesuai permintaan konsumen dengan menggunakan bulu yang kualitasnya tidak standar. Tapi itu tidak kami lakukan, karena untuk menjaga kualitas,” papar Yuli.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten