Setya Novanto Akui Terima Uang US$3,8 Juta
Terdakwa kasus korupsi KTP Elektronik Setya Novanto (kiri) mengikuti sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (19/3/2018). Sidang mantan ketua DPR itu beragenda mendengarkan keterangan saksi. (Antara-Rivan Awal Lingga)

Solopos.com, JAKARTA -- Mantan Ketua DPR Setya Novanto akhirnya mengakui adanya pemberian senilai US$3,8 juta. Dia mengaku US$3,8 juta itu berasal dari pemilik OEM Investment Pte Ltd Made Oka Masagung dan membantah berasal dari keponakannya, Irvanto Hendra Pambudi.

"Kalau saya hitung-hitung, yang diberikan oleh Oka adalah US$2 juta dan US$1,8 juta dari JM [Johannes Marliem] jadi total US$3,8 juta," kata Setya Novanto dalam sidang di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Selasa (18/9/2018).

Setnov menjadi saksi untuk dua terdakwa yaitu mantan Direktur Operasional PT Murakabi Sejahtera Irvanto Hendra Pambudi Cahyo yang juga keponakan Setnov serta pemilik OEM Investment Pte Ltd Made Oka Masagung. Keduanya didakwa menjadi perantara pemberian uang US$7,3 juta kepada Setnov dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi e-KTP.

"Dan US$2 juta ini untuk investasi di mana Oka memang pernah datang ke tempat saya mengatakan bahwa dia itu punya rencana dengan Anang [Sugiana] untuk investasi yang berkaitan dengan perusahaannya Neuraltus Pharmaceutical, tapi tidak disebut jumlahnya. Saya baru sadar di sidang saya, US$2 juta yang diberikan Saudara Anang tadi dikembalikan lagi US$1,8 juta oleh Oka," ungkap Setnov.

Anang yang dimaksud adalah Direktur Utama PT Quadra Solution yang mengurus software e-KTP. Dalam dakwaan disebutkan PT Quadra Solution bertanggung jawab untuk Setya Novanto dan anggota DPR lainnya sebesar 5 persen.

"Jadi US$3,8 juta itu kenyatannya, tapi karena [US$7,3 juta] itu sudah menjadi keputusan hakim saya hormat," tambah Setnov.

Setya Novanto juga mengakui ada pertemuan di rumahnya, Jl Wijaya Kebayoran, antara pengusaha Andi Narogong bersama Anang S Sudihardjo dan Direktur Utama PT Sandipala Arthaputra Paulus Tannos. Pertemuan itu terjadi karena konsorsium PNRI sebagai pemenang pekerjaan KTP-e tidak mendapatkan uang muka pekerjaan dan meminta petunjuk kepada Setnov. Setnov lalu memperkenalkan rekannya Made Oka Masagung yang punya relasi ke banyak bank.

"Pak Oka sama Pak Paulus pernah datang ke tempat saya, jadi Pak Oka dan Paulus menyampaikan \'Paulus ini orangnya pak menteri, Pak Gamawan\', tapi saya kesulitan uang. Oka berusaha untuk pinjam ke bank Artha Graha, dia beberapa kali mengenalkan saya dengan Jack Budiman. Malah Pak Oka mengatakan \'Saya sudah berikan ke Azmin Aulia, adiknya [Gamawan], ruko sama rumah senilai US$2 juta di Brawijaya 3," jelas Setnov.

Meski Paulus Tannos mengaku sudah memberikan rumah dan ruko ke Azmin Aulia yang merupakan adik tiri Gamawan, Kemendagri tetap tidak memberikan uang muka untuk memulai pekerjaan e-KTP kepada konsorsium PNRI. Dari jumlah US$3,8 juta yang diakui diberikan Made Oka itu, Setnov mengaku tidak menikmatinya.

"Saya baru tahu dalam sidang US$1,8 juta dan baru tahu US$2 juta diinvestasikan, yang mana US$3,8 juta dibebankan ke saya. Terus terang saya tidak tahu nama saya dipakai-pakai dan disampaikan ke JM [Johannes Marliem]," ucap Setnov.

Dalam dakwaan disebutkan fee untuk Setnov total berjumlah US$7,3 juta. Dari jumlah itu, US$3,5 juta di antaranya berasal dari Direktur PT Biomorf Lane Indonesia Johannes Marliem lewat Irvanto Hendra Pambudi Cahyo. Setelah Johanes mengirimkan uang tersebut, Irvanto menerima uang tunainya dari Riswan secara bertahap seluruhnya berjumlah 3,5 juta dolar AS.

Selain US$3,5 juta, fee untuk Setnov juga dikirimkan melalui Made Oka Masagung. Pemberian dilakukan secara bertahap yaitu pada 14 Juni 2012 Made Oka menerima fee untuk Setnov sejumlah US$1,8 juta dari Johannes Marliem. Pemberian dilakukan melalui rekening OEM Investment, Pte. Ltd pada OCBC Center Branch dengan underlying transaction software development final payment.

Pada 10 Desember 2012, Made Oka masagung kembali menerima fee untuk Setya Novanto dari Anang sejumlah US$2 juta melalui rekening di Bank DBS Singapura atas nama Delta Energy Pte Ltd. Perusahaan ini dimiliki Made Oka yang disamarkan dengan perjanjian penjualan saham sebanyak 100.000 lembar milik Delta Energy di Neuraltus Pharmaceutical Incorporation -- sebuah perusahaan yang berdiri berdasarkan hukum negara bagian Delware Amerika Serikat.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya








Kolom