Setop Perundungan Anak, Para Orang Tua Sebaiknya Lakukan Ini
ilustrasi perundungan (freepik)

Solopos.com, SOLO– Kasus perundungan anak masih saja terjadi dalam dunia pendidikan. Belum lama ini jagad maya dihebohkan dengan video berisi kasus perundungan anak yang bikin miris. Dalam video tersebut, tampak seorang siswi SMP yang mengenakan hijab tengah duduk sendiri sambil menundukkan kepala karena tak kuasa melawan serangan dari ketiga teman laki-lakinya.

Dilansir dari Suara.com, Jumat (14/2/2020), siswi tersebut mendapat serangan dari para pelaku berupa pukulan, tendangan bahkan tamparan. Video dengan durasi 29 detik itu beredar di Twitter dan telah ditonton lebih dari 1 juta tayangan. Warganet yang menonton video tersebut seketika langsung merasa geram akibat perlakuan ketiga pelaku perundungan itu. Atas tindakan ini, ketiga siswa laki-laki pelaku perundungan itu terpaksa berurusan dengan polisi.

Penyebab Anak Melakukan Perundungan

Perilaku perundungan jelas merugikan banyak orang, tidak hanya korban, tetapi juga pelaku. Apalagi jika perundungan terjadi pada usia anak dan remaja. Sangat disayangkan jika usia-usia emas dalam pembentukan jati diri dilewati dengan merundung atau dirundung. Psikolog anak dari RS Pondok Indah Jakarta, Jane Cindy Linardy mengatakan bahwa ada tiga syarat suatu perilaku didefinisikan sebagai perundungan.

Pertama, ada niat dari pelaku untuk menyakiti korban alias perilaku yang disengaja. Kedua, adanya ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban sehingga korban pasti tertindas. Ketiga, perilaku tersebut terjadi secara berulang atau berkali-kali. “Jadi perundungan itu berbeda dengan konflik, perilakunya berbeda,” ujar Jane belum lama ini seperti dilansir dari bisnis.com.

Berdasarkan data yang diperoleh dari website Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kasus perundungan terhadap anak-anak paling banyak didominasi oleh siswa (SD). Tercatat ada 25 kasus atau 67% yang tercatat oleh KPAI baik dari kasus yang disampaikan melalui pengaduan langsung maupun online sepanjang Januari sampai April 2019. Kasus perundungan terjadi karena berbagai macam sebab. Berikut beberapa penyebab anak melakukan perundungan seperti dilansir dari berbagai macam sumber.

Gara-Gara Mimpi, Pria Ini Sembah Donald Trump

1. Kurangnya Peran Orang Tua

Penyebab utama yang kerap mendasari anak untuk menyakiti seseorang adalah karena memiliki masalah internal baik di keluarga maupun di masyarakat. Retaknya rumah tangga atau hubungan keluarga yang kurang harmonis atau permasalahan ekonomi dapat membentuk sikap buruk pada anak. Hal-hal tersebut dapat mengganggu psikis anak karena mengalami tekanan batin akibat masalah tersebut. Kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tua juga dapat membuat anak cenderung kurang memiliki empati kepada sesama.

2. Pernah Menjadi Korban

Psikolog klinis Kasandra Putranto menilai bahwa latar belakang perundung terkait juga dengan faktor genetik, pola asuh, dan pengalaman menyaksikan kekerasan. Pengalaman tersebut tersimpan dalam memori dan mendorong seseorang untuk melakukan kekerasan juga, terutama jika nilai cinta dan kasih sayang diabaikan. Beberapa kasus menunjukkan pelaku perundungan ternyata dulunya adalah seorang korban.

Mungkin di lingkungan rumah, ia kerap di-bully oleh saudara-saudara atau tetangga-tetangganya. Sehingga ketika di sekolah ia seolah ingin melampiaskan amarahnya dengan cara mem-bully teman yang ia anggap lemah di sekolah. Ada kemungkinan pula, jika tidak berani melampiaskannya secara langsung, ia akan memilih menggunakan media online untuk melakukan perundungan.

3. Iri Pada Korban

Rasa iri dapat muncul akibat korban memiliki keistimewaan lebih dari pelaku. Pelaku mengintimidasi korban agar korban tidak lebih menonjol dari dirinya. Selain tidak ingin ada orang lain yang lebih menonjol dari dia, sang pelaku juga mungkin melakukan perundungan untuk menutupi jati dirinya.

4. Mencari Kepuasan

Ada kalanya seorang anak melakukan perundungan karena ingin dianggap paling berkuasa. Dia lantas melakukan kekerasan kepada kaum lemah untuk mendapatkan popularitas. Ia merasa senang jika dianggap kuat. Justru ketika melihat korban kesakitan, pelaku akan semakin senang.

Perempuan Di Petilasan Mangkubumi Sragen Ini Mengklaim Berusia 123 Tahun

Mendampingi Anak Korban Bullying

Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan seperti kasus perundungan, peran orang tua sangat diperlukan. Orang tua sebaiknya ikut mengawasi pergaulan anak dan mengetahui siapa saja yang menjadi teman anak Anda. Berikan kesan perhatian kepada anak, agar ia merasa bahwa Anda peduli dengannya.

Jika anak menjadi korban perundungan, orang tua harus hadir sebagai penyemangat di dalam keterpurukannya. Seorang anak yang mengalami kekerasan, akan merasa tidak percaya diri. Pada saat inilah, peran orang tua amat diperlukan. Ketika anak sudah mengalami trauma, hadirlah sebagai orang yang dapat dipercaya. Berikan nasihat serta pelukan kepadanya agar ia tidak merasa menderita. Jadilah orang tua yang selalu ada saat anak diterpa masalah.

Ketika Anak Jadi Pelaku Perundungan

Lantas bagaimana jika anak kita justru yang menjadi pelaku perundungan? Orang tua tentunya tidak menginginkan anak jadi korban atau pelaku perundungan. Menurut psikolog Patricia Yuannita, M.Psi, pelaku perundungan sudah pasti akan menjadi korban baru yang dicap buruk oleh masyarakat luas. Bila ini terjadi di media sosial dan viral, respons negatif adalah hal yang otomatis dialami.

"Ini namanya negative autonegative thought. Cara kerja otak kita memang begitu, jangankan ke orang lain ke diri sendiri aja kita bisa berpikir buruk," kata wanita yang akrab disapa Yoan ini seperti dilansir haibunda.com.

Yoan menambahkan pentingnya orang tua menganggap anak bukan sebagai pelaku bullying, melainkan sebagai anak. Kaitannya adalah tentang hubungan keluarga dan parenting. Bagaimanapun, dukungan juga dibutuhkan oleh anak pelaku perundungan. Tentunya dukungan ini berupa hal positif yang membantu anak berubah jadi lebih baik.

Sementara itu, Daisy Indira Yasmine, M.Si, dosen sosiologi Universitas Indonesia, mengatakan orang tua harus memberikan suasana yang kondusif agar anak bisa bertanggung jawab. Agar anak bisa berbicara jujur tentang apa yang dilakukannya. Menurutnya orang tua harus membantu dan mendampingi anak agar bisa diterima di masyarakat. Penting juga untuk menanamkan rasa kepedulian pada anak.

Menurut Daisy, orang tua sebaiknya tidak membenarkan tindakan anak yang salah dengan cara melindungi. Yang harus dipikirkan orang tua adalah bagaimana anak bisa kembali lagi ke masyarakat. Orang tua harus ikut menegakkan nilai yang benar, mengevaluasi nilai-nilai yang sudah diajarkan.

Langkah Pencegahan

Untuk melakukan pencegahan para orang tua bisa berdiskusi dengan anak tentang berbagai macam hal. Orang tua bisa memberi pengertian tentang permasalahan dari sudut pandang orang lain, terutama ketika teman sebayanya sedang berperilaku tidak terpuji bahkan sudah masuk dalam kategori kekerasan.

Gunakanlah bahasa yang mudah dimengerti anak, beri penjelasan kepada anak bahwa perilaku kekerasan seperti menendang, memukul, mengejek bukanlah perbuatan terpuji. Jika ada teman sebaya yang menjadi korban dari perundungan, mintalah anak Anda untuk tidak ikut melakukan kekerasan kepada korban tersebut.

Biasanya, anak cenderung akan mudah untuk meniru atau mengikuti hal yang dia lihat. Sebagai orang tua, Anda merupakan panutan bagi sang anak. Maka dari itu, berikan contoh perilaku yang baik kepada anak di dalam kehidupan sehari-hari agar anak bisa meniru perilaku baik tersebut.

Sebagai orang tua yang pernah mengalami masa muda, tentu anda punya beberapa pengalaman di masa remaja. Ceritakanlah pengalaman Anda yang penuh inspirasi dan bagikan kepada anak Anda. Jadilah sosok inspiratif baginya agar dia bisa menerapkan hal tersebut di dalam pergaulannya.

Perundungan Online

Di masa kini, anak-anak sudah terbiasa dengan gadget dan Internet. Seolah-olah anak tidak mampu lepas dari media sosial. Menurut data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna Internet terbanyak di posisi teratas adalah usia 15 tahun hingga 19 tahun.

Sementara itu, pengguna terbanyak kedua berusia 20 tahun hingga 24 tahun. Anak-anak berumur 5 tahun hingga 9 tahun pun juga sudah mulai terpapara Internet, bahkan angkanya mencapai 25,2 persen dari keseluruhan sampel yang berada pada umur tersebut. Sementara pengguna media sosial paling banyak yakni kalangan anak muda.

Perundungan tidak hanya dapat terjadi secara langsung, melalui media online pun perundungan bisa terjadi yang dikenal sebagai cyberbullying. Untuk itu orang tua harus bisa memantau anak dalam menggunakan gadget termasuk dalam media sosial. Jangan sampai akan menjadi pelaku atau korban cyberbullying.

Peran Guru

Peran guru adalah sebagai pengganti orang tua murid ketika di sekolah. Untuk mengantisipasi kasus perundungan yang kerap terjadi di sekolah, guru harus mengawasi ekstra murid-murid. Guru harus bisa menjadi teladan yang baik agar dapat dicontoh para murid-muridnya.

Melalui mata pelajaran seperti budi pekerti dan agama, guru dapat menyelipkan nasihat-nasihat kepada murid-murid agar tidak melakukan perundungan terhadap sesama. Guru juga bisa menjadi tempat mengadu tentang segala permasalahan yang dialami oleh murid-muridnya. Ciptakan suasana yang akrab antara guru dengan murid agar murid tidak malu untuk berkeluh kesah kepada guru. (Bunga Oktavia)


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho