Kategori: Sragen

Setahun Mati Suri, Pedagang Suvenir Museum Sangiran Tak Sabar Berjualan Lagi


Solopos.com/Muh Khodiq Duhri

Solopos.com, SRAGEN -- Para pedagang suvenir di lingkungan Museum Sangiran tak sabar berjualan lagi setelah setahun tidak membuka usahanya karena pandemi Covid-19.

Sejak Covid-19 melanda pada pertengahan Maret 2020, museum tersebut telah ditutup untuk umum. Padahal, selama ini para pedagang mengandalkan keramaian pengunjung museum untuk mengais rezeki. Praktis, para pedagang kehilangan penghasilan akibat museum ditutup dalam setahun terakhir.

Suwarno, 60, salah seorang pedagang sekaligus pengrajin suvenir batu hias mengaku hanya membuka usahanya di rumah. Sejak kios di kompleks Museum Sangiran telah ditutup, ia memindah daganganya ke dalam rumah. “Sejak museum ditutup, praktis saya menghentikan produksi kerajinan. Daripada menganggur, saya bertani di sawah selama setahun ini,” ucap Suwarno kepada Solopos.com, Jumat (2/4/2021).

Baca Juga: Kaum Milenial Pemalang Diajak Ikut Promosikan Pariwisata Lokal

Di rumah suwarno terdapat berbagai macam kerajinan tangan mulai dari mebel, batu akik, batu hias, replika fosil, kaus dan lain sebagainya. Ia lebih beruntung karena rumahnya berada di tepi jalan menuju gerbang Museum Sangiran. Paling tidak masih mudah terlihat oleh warga yang melintasi jalan itu walau tidak banyak yang datang untuk membeli.

Dia tidak memungkiri cukup banyak pedagang suvenir yang rumahnya cukup sulit dijangkau karena berada di gang sempit. Selama pandemi ini, usaha para pedagang suvenir ini seperti mati suri. Walau tetap buka di luar museum atau di dalam rumah, usaha mereka tetap sepi pembeli. “Kalau rumahnya di bagian dalam, tidak ada yang tahu kalau dia masih jualan suvenir atau tidak,” paparnya.

Suwarno mengaku belum tahu kabar terkait rencana pembukaan Museum Sangiran pada 10 April 2021 mendatang. Menurutnya, belum ada sosialisasi terkait rencana pembukaan museum tersebut. “Kami sudah tak sabar mau jualan lagi. Mudah-mudahan museum segera dibuka sehingga perekonomian kami kembali bangkit. Rezeki datangnya dari Tuhan. Bagi kami, yang penting tetap berusaha entah bagaimana hasilnya,” terang Suwarno.

Sadiman, 60, pemilik Suvenir Subur, mengatakan selain membuka kios di kompleks museum, biasanya ia juga kerap mengikuti pameran yang digelar di berbagai kota. Sejak terjadi pandemi, ia kehilangan pendatapan dari hasil jualan suvenir di kompleks museum atau melalui pameran. “Setahun terakhir tidak ada pemasukan, adanya pengeluaran terus. Jualan online masih jalan, tapi pendapatan dari jualan online itu belum cukup untuk menutup operasional,” paparnya.

Sangiran Dibuka

Sebelumnya diberitakan, Museum Manusia Purba Sangiran bakal dibuka secara terbatas mulai Sabtu (10/4/2021). Adapun jumlah pengunjung maseum yang dinobatkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) itu dibatasi 100 orang perhari.

Rencana pembukaan Museum Sangiran secara terbatas itu diputuskan dalam rapat koordinasi (rakor) yang digelar di Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, Rabu (31/3/2021).

Pamong Budaya Ahli Muda Museum, BPSMP Sangiran, Dody Wiranto, mengatakan sebelum dibuka, digelar simulasi kunjungan wisatawan pada Selasa (6/4/2021). Pembukaan museum menggunakan protokol kesehatan secara ketat di bawah pengawasan Puskesmas Kalijambe. Demi mencegah terjadinya kerumunan, jumlah pengunjung Museum Sangiran dibatasi 100 orang yang terbagi 10 kelompok. Masing-masing kelompok akan didampingi satu guide atau pemandu wisata. Masing-masing kelompok diberi waktu selama 30 menit untuk memasuki museum.

Baca Juga: ASN Selingkuh di Pemkab Kudus Langsung Dijatuhi Sanksi Berat

Demi mencegah potensi penularan Covid-19, BPSMP Sangiran tidak akan membuka Ruang Display II. Alasannya, ruang display ini berbentuk lorong dan tertutup. Jika dibuka, dikhawatirkan Ruang Display II menjadi media penularan Covid-19. Ruang display ini berisi informasi terkait sejarah terbentuknya bumi, makhluk hidup pertama yang tinggal di bumi, jenis fauna pertama dan lain-lain.

“Kami hanya membuka Display I dan III untuk pengunjung. Untuk Klaster Dayu, semua dibuka kecuali bagian ruang ekskavasi karena di sana cukup lembab dan jalannya cuma satu,” papar Dody.

Pada Kamis (8/4/2021), rencana digelar sosialisasi kepada para pelaku usaha seperti pedagang kuliner dan suvenir di sekitar Museum Sangiran. Para pedagang ini diminta menjaga komitmen untuk patuh terhadap protokol kesehatan dalam rangka mencegah penularan Covid-19.

Share
Dipublikasikan oleh
Ahmad Baihaqi