Setahun Lebih Menyala, Api Bonagung Sragen Berpotensi Jadi Wisata Andalan
Nyala api di Bonagung Sragen yang menunjukkan tanda-tanda keabadian. (Moh Khodiq Duhri/Solopos.com)

Solopos.com, SRAGEN – Semburan api di Dukuh Banyurip, Desa Bonagung, Kecamatan Tanon, Sragen, menunjukkan tanda-tanda keabadian. Sejak ditemukan kali pertama pada 18 Agustus 2019 lalu, hingga kini nyala api tetap konstan.

Meski sudah menyala lebih dari satu tahun, tidak ada tanda-tanda api di Banyurip, Bonagung, Tanon, Sragen, itu akan padam.

“Dulu, nyala api memang sempat padam karena permukaan tanah dipenuhi genangan air hujan. Tapi, setelah itu api nyala kembali. Sampai sekarang, api ini terus menyala tanpa mati,” ujar Sarwoko, warga Dukuh Sendangwuni, Desa Bonagung, Kecamatan Tanon, saat ditemui Solopos.com di lokasi, Minggu (4/10/2020).

Buntut Klaster Kuliner Wonosari Klaten, 20 Warga Dites Swab

Dia menjelaskan semburan api di Desa Bonagung itu muncul dari permukaan tanah milik warga bernama Rebo. Kemunculan api tersebut menghebohkan warga Sragen dan sekitarnya.

Pada saat itu, keberadaan semburan api itu sempat menjadi daya tarik pengunjung. Karang taruna Dukuh Banyurip, Desa Kalikobok, kemudian berinisiatif menata lokasi ditemukannya semburan api tersebut.

Gubuk Melindungi Api dari Hujan

Selain membuka jalan setapak menuju lokasi, mereka juga membuat gubuk untuk melindungi api di Desa Bonagung itu dari hujan.

Banyaknya pengunjung yang datang membuat warga sekitar mendirikan warung tidak jauh dari lokasi. Para pedagang kaki lima (PKL) pun berdatangan untuk menjajakan aneka makanan dan minuman.

11 Ibu Hamil di Wonogiri Positif Covid-19

Seiring berjalannya waktu, pengunjung objek wisata dadakan api Bonagung Sragen pun menurun. Belum adanya dukungan dana dari desa maupun dari pemerintah daerah membuat objek wisata belum dikelola dengan baik oleh warga.

Padahal, dari hasil kotak infak yang dipasang di lokasi, warga bisa mengumpulkan uang untuk merenovasi Musala Al Ikhlas.

“Saat api Mrapen [di Grobogan] padam, api di sini justru menunjukkan keabadiannya. Bila dikelola dengan baik dan didukung oleh anggaran dari dana desa, api ini punya potensi yang sama dengan Mrapen. Tentunya itu tergantung kebijakan dari desa dan Pemkab Sragen,” papar Sarwoko.

Polisi Belum Tetapkan Tersangka Bentrokan 2 Kelompok Massa di Pedan Klaten

Pantauan Solopos.com di lokasi, Minggu, kobaran api terlihat jelas dari cerobong besi yang dibuat oleh warga sekitar. Bagian atas cerobong besi itu terdapat sebuah rantang yang dipakai untuk melindungi api supaya tidak mobat-mabit karena tiupan angin.

Cerobong tempat keluar api itu berada dalam sebuah gubuk mungil berukuran 1,5 x 1,5 meter. Gubuk yang dibangun dengan fondasi beton itu bertujuan melindungi api dari guyuran air hujan. Kerangka gubuk itu terbuat dari batang kayu dan bambu.

Lokasi Pembangunan Sumur Dalam

Dinding gubuk itu berupa tripleks bekas dan anyaman bambu. Sementara bagian atap berupa seng bergelombang. Gubuk itu dibangun warga Dukuh Banyurip, Desa Kalikobok, yang berbatasan langsung dengan Desa Bonagung.

Semburan api itu ditemukan di lokasi pembangunan sumur dalam di lahan milik Rebo. Meski kedalaman sudah mencapai sekitar 50 meter, tidak ada tanda-tanda sumber air di lokasi tersebut. Karena tidak ada sumber air, penggalian sumur itu akhirnya dihentikan.

Lubang sumur itu akhirnya ditutup lagi. Namun, keanehan baru muncul sekitar dua tahun kemudian, yakni munculnya bara api.

“Pada saat itu, pemilik lahan bermaksud istirahat dengan duduk di atas tanah bekas sumur yang pernah digali dua tahun sebelumnya. Saat itu dia merasakan suhu panas dari tanah. Setelah digali, ternyata ada bongkahan tanah yang sudah menjadi bara api. Bara api itu kemudian menyala jadi api yang tak kunjung padam sampai sekarang,” papar Widodo, warga sekitar.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom