Pasoepati merayakan kemenangan Persis Solo (Solopos-Sunaryo Haryo Bayu)

Solopos.com, SOLO — Keputusan Persis Solo menggelar peluncuran tim di Stadion Wilis, Madiun, memantik reaksi keras suporter. Sejumlah elemen suporter dari Pasoepati maupun Surakartans tak sepakat dengan pemilihan Madiun sebagai lokasi launching Laskar Sambernyawa. Pasoepati Korwil Klaten bahkan siap mengambil sikap boikot terhadap acara tersebut.

Dalam pernyataan sikapnya, Pasoepati Korwil Klaten menolak keras launching Persis Solo di Kota Madiun. Pasoepati Korwil Klaten juga siap memboikot rangkaian acara peluncuran tim di Stadion Wilis. Selanjutnya, mereka mendesak manajemen Persis berkaca karena seakan lupa dengan rumahnya di Solo. 

Koordinator Pasoepati Korwil Klaten, Nugroho Torcida, mengatakan pernyataan tersebut dibuat dengan dasar rasa kebersamaan. “Kami hanya mengakui Persis Solo, bukan Persis Madiun. Marwah Persis itu di Solo,” ujar Nugroho saat dihubungi Solopos.com, Kamis (13/6/2019).

Di jagat media sosial, mayoritas pendukung Persis memberi tanggapan miring terhadap rencana launching Persis di Madiun. Mereka menegaskan Persis adalah tim kebanggaan Kota Solo dan sudah selayaknya diperkenalkan di kota asalnya. Sejumlah pendukung kecewa karena merasa kesetiaannya terhadap Persis tak dihargai manajemen. Bahkan ada yang mengajak para suporter memboikot penuh laga Persis musim ini agar manajemen segera menyadari arti suara suporter untuk kemajuan klub.

Namun ada pula suporter yang masih berkomitmen mendukung sekalipun launching digelar di Madiun. Mereka melihat peluncuran Persis di Kota Gadis sebagai bentuk kulanuwun dan menghormati tuan rumah. Mereka juga merasa Persis bakal kesulitan menggelar izin laga ekshibisi di Solo seperti yang sudah-sudah. Dalam launching, Minggu (16/6/2019), Persis memang sekaligus menggelar uji coba melawan PSM untuk persiapan jelang Liga 2 2019.

Kelompok suporter yang tergabung dalam Surakartans menyatakan menolak rencana launching tim di Madiun. Mereka menganggap manajemen tak menghargai jerih payah suporter yang bekerja keras mempromosikan Persis dengan pemasangan bendera di banyak titik dua bulan terakhir. 

Namun demikian, Surakartans menilai aksi boikot bukan cara terbaik untuk mendapatkan solusi. Perwakilan Surakartans, Adith, mengatakan pembentukan wadah komunikasi antarstakeholder Persis lebih penting untuk diinisiasi saat ini. “Kami melihat hubungan antarstakeholder selama ini belum bisa menyatu. Untuk itu perlu forum untuk menyamakan visi,” kata dia.

Akhir pekan ini Surakartans berencana memantik upaya tersebut dengan menggelar diskusi yang melibatkan pihak berkepentingan di Persis. Namun dalam pertemuan itu Surakartans belum akan mengundang manajemen Persis. “Kami ingin menyatukan arah pergerakan dari teman-teman pecinta Persis dulu. Habis itu baru ke manajemen,” ujar Adith.

Sementara itu, Presiden Pasoepati, Aulia Haryo Suryo, mengaku sudah menyusun penyikapan resmi terkait launching Persis di Madiun. Pihaknya mengklaim semua korwil telah mengamini arahan DPP. Namun pihaknya masih enggan membeberkan poin-poin dalam pernyataan resmi tersebut. “Sebelum [Kamis] sore kami rilis,” ujarnya. 

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten