Sering Dicari di Wonogiri, Ini Ciri-Ciri Luweng yang Hilang: Tertutup Tanah Hitam & Sampah
Proses pencarian luweng di Dusun Pakem, Desa Sumberagung, Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri. (istimewa)

Solopos.com, WONOGIRI – Bagi sukarelawan, pencarian luweng untuk mencegah banjir di Wonogiri, Jawa Tengah, merupakan kegiatan baru. Meski demikian mereka sudah mulai mengenali ciri-ciri lokasi atau keberadaan mulut luweng yang hilang.

Diketahui, di Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri saat ini tengah dilakukan pencarian luweng di beberapa lokasi. Pencarian itu bertujuan untuk mengatasi banjir yang setiap tahun melanda di beberapa daerah di Pracimantoro.

Salah satu sukarelawan Desa Sumberagung, Pracimantoro, yang juga mengikuti pencarian luweng, Saryono, mengatakan sebelum melakukan pencarian, ia bersama sukarelawan lain menemui sesepuh di desa setempat. Hal itu dilakukan untuk mengetahui keberadaan luweng yang dulu ada namun sekarang hilang.

"Keterangan dari para sesepuh desa itu kami kumpulkan. Kesimpulannya dicocokkan ke lokasi yang diyakini dulu ada luwengnya," kata dia saat dihubungi Solopos.com, (2/3/2021).

Baca juga: Ngeri! Ini Deretan Makhluk Penghuni Luweng dan Gua Karst

Ciri-Ciri Luweng

Saryono menjelaskan, berdasarkan pencarian yang sudah dilalukakan di beberapa lokasi, ia dan tim sudah bisa mengamati lokasi atau titik mana yang di dalamnya ada mulut luweng. Ada dua ciri utama yang di dalam tanah terdapat luweng, yakni adanya tumpukan bebatuan dan tanah hitam bercampur sampah.

"Setelah diberitahu sesepuh, tanah itu dikeruk atau digali menggunakan alat berat. Di kedalama tiga hingga lima meter itu ditemukan tanda-tanda adanya tanah hitam bekas sampah dan adanya tumpukan bebatuan atau tidak. Kalau ada ciri-ciri tersebut, proses pencarian dilakukan di titik itu," ungkap dia.

Baca juga: Gibran Pengin Berantas Prostitusi Online, Ini Jumlah PSK di Solo

Ciri-ciri itu, kata dia, sudah terbukti. Saat mencari luweng di Dusun Joho Kidul, Desa Joho dan Dusun Pakem, Desa Sumberagung, dilokasi ada tumpukan batu dan tanah hitam. Pada akhirnya mulut luweng ditemukan.

Berbeda dengan pencarian di Dusun Dompol, Desa Petirsari. Karena tidak ditemukan tanda-tanda itu, mulut luweng tidak ditemukan.

"Mulut luweng itukan bentuknya lubang atau rongga. Dulu mungkin ditutup pakai batu sehingga ditemukan tumpukan batu. Kalau tanah hitam bekas sampah itu mungkin karena lubang banyak sampah yang masuk ke situ," ujar dia.

Baca juga: Bisnis Prostitusi di Kota Solo: Dari Jalanan Merambah ke Online

Ia mengatakan, pencarian luweng untuk menanggulangi banjir merupakan kegiatan baru bagi sukarelawan. Sebelumnya belum pernah melakukan penarian luweng. Biasanya, sukarelawan mencari luweng untuk mendapatkan air bersih. Maka dibutuhkan langkah khusus untuk mengenali ciri-ciri keberadaan luweng.

"Saya tanya ke senior sukarelawan dan BPBD, memang belum ada rumus dan tata cara pencarian luweng yang pasti. Maka kami mencari hal-hal baru serta mengandalkan feeling. Dan buktinya ciri-ciri yang kami kenali bisa berhasil mendapat luweng yang hilang," kata dia.

Baca juga: Spesial! Ini Menu Makan Siang Presiden Jokowi di Klaten

Pencarian Luweng

Ia mengatakan, ada beberapa hal tersulit dalam pencarian luweng. Pertama, menentukan titik lokasi pencarian luweng. Kedua, jika sudah ditemukan, hal tersulit selanjutnya melakukan pelebaran terhadap mulut luweng.

"Pelebaran itu manual. Kalau alat berat hanya mengeruk hingga ditemumannya rongga luweng. Saat kami melebarkan rongga luweng menggunakan linggis, palu dan alat lainnya. Tentunya juga menggunakan alat safety," ungkap dia.

Ia menuturkan, jumlah orang yang berada di dalam tim inti pencarian luweng sebanyak sepuluh orang. Selebihnya, para sukarelawan bergantian dalam mencari luweng.

"Setelah dikeruk alat berat, kami kan memperlebar rongga atau mulut luweng. Itu dilakukan secara manual. Kami bawa alat-alat panjat tebing dan alat untuk safety," kata dia.

Baca juga: Ditemukan, Ini Isi Dompet Sekdes Serenan Klaten Yang Terjun Ke Sungai Grogol Sukoharjo 

Ia mengatakan, pencarian luweng untuj mengatasi banjir di Pracimantoro itu atas inisiatif beberapa pihak diantaranya anggota DPRD Wonogiri, Irwan Hari Purnomo dan Camat Pracimantoro, Warsito serta para Kepala Desa yang daerahnya dijadikan lokasi pencarian luweng.

"Peralatan kami, alat berat dan logistik sudah ditanggung beliau-beliau. Kami juga memasak di lokasi sendiri, jadi tidak menyusahkan masyarakat," kata Saryono.



Berita Terkini Lainnya








Kolom