Seribuan Pasang Ibu-Anak Nangis Bareng di Alun-alun Klaten
Sejumlah ibu menangis saat dipeluk anak mereka seusai aksi membasuh kaki ibu di Alun-alun Klaten, Minggu (23/12/2018). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN -- Air mata para ibu menetes ketika anak-anak mereka berjongkok sembari membasuh kaki mereka di dalam baskom plastik. Kisah perjuangan seorang ibu terdengar melalui pengeras suara membuat suasana kawasan Alun-alun Klaten, Minggu (23/12/2018) pagi, berubah haru.

Hujan tangis ibu dan anak kian menjadi ketika mereka saling berpelukan. Mujiyarti, 45, dan Riza, 16, warga Desa Jogosetran, Kecamatan Kalikotes, terlihat di tengah kerumunan pasangan ibu-anak yang pagi itu berpelukan. Dengan suara lirih, Mujiyarti menyelipkan pesan kepada putra sulungnya tersebut.

“Jangan bandel, jangan bikin orang tua susah, jangan lupa beribadah,” kata Mujiyarti mengulang kembali pesan yang ia sampaikan kepada Riza saat ditemui Solopos.com.

Bagi Mujiyarti dan Riza, aksi membasuh kaki hingga berpelukan baru kali pertama mereka lakukan. Apalagi aksi itu dilakukan secara massal di ruang terbuka.

“Rasanya terharu. Saya hanya ingin menyampaikan maaf kepada ibu dan berjanji jadi anak yang lebih baik lagi,” kata Riza.

Sekitar 1.000 pasang ibu dan anak dari keluarga penerima manfaat (KPM) program keluarga harapan (PKH) di Klaten mengikuti aksi membasuh kaki ibu pagi itu. Tak hanya KPM PKH, aksi membasuh kaki ibu juga dilakukan Bupati Klaten, Sri Mulyani, bersama salah satu anaknya, Anggoro.

Aksi tersebut menjadi tontonan warga yang memadati alun-alun ketika digelar car free day (CFD). Tak sedikit pengunjung CFD yang meneteskan air mata terbawa suasana ibu dan anak di alun-alun.

Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB) Klaten, M. Nasir, mengatakan aksi membasuh kaki ibu digelar untuk memperingati Hari Ibu. Aksi dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada ibu yang selama ini sudah mengasuh anak-anak mereka.

“Kegiatan dilakukan mengingat ada ungkapan surga berada di bawah kaki ibu. Pesannya adalah sudah menjadi kewajiban anak untuk berbakti kepada orang tua mereka,” kata Nasir.

Bupati Klaten, Sri Mulyani, berharap kegiatan tersebut memberikan pendidikan untuk mengingat kembali perjuangan orang tua mereka.

“Kami harapkan bisa memberikan pendidikan kepada putra-putri untuk berbakti kepada orang tua. Tentunya ketika mereka menjadi seorang ibu atau ayah bisa memberikan pendidikan yang baik dan positif,” ungkapnya.

Koordinator PKH Klaten, Theo Markis, mengatakan pada 2018 ada sekitar 9.564 KPM PKH di Klaten. Mayoritas penerima program merupakan para ibu. Sejak bergulir sekitar 2013 silam, sebanyak 700 KPM mengundurkan diri dari PKH lantaran sudah merasa mampu.

Soal kegiatan pagi itu, aksi membasuh kaki ibu merupakan rangkaian kegiatan gebyar PKH. “Kegiatan disinergikan dengan peringatan Hari Ibu. Kebetulan penerima manfaat PKH merupakan ibu-ibu,” tutur dia.

Avatar
Editor:
Suharsih


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom