Ilustrasi sawah kering saat musim kemarau. (Bisnis-Rahmatullah)

Solopos.com, SUKOHARJO -- Sejumlah petani di -calhaj-sukoharjo-gagal-berangkat-ke-tanah-suci-ini-penyebabnya" title="2 Calhaj Sukoharjo Gagal Berangkat ke Tanah Suci, Ini Penyebabnya">Sukoharjo terpaksa gigit jari karena tak bisa panen pada musim tanam ini. Padi yang mereka tanam di lahan seluas seribuan hektare di empat kecamatan puso atau gagal panen akibat kemarau.

Kerugian yang dialami petani ditaksir mencapai miliaran rupiah. Tak berhenti di situ, ratusan hektare lahan pertanian lainnya kini juga terancam puso karena rusak berat.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian dan Perikanan -legalisasi-kk-di-kantor-disdukcapil-sukoharjo-naik" title="Pemohon Legalisasi KK di Kantor Disdukcapil Sukoharjo Naik">Sukoharjo Dyah Rilawati mengatakan lahan pertanian yang puso tersebar di empat kecamatan, yaitu Bulu, Nguter, Weru, dan Bendosari. Keempat wilayah tersebut merupakan sawah tadah hujan.

"Petani di sawah tadah hujan ini nekat menanam padi meski sudah berulang kali kami sampaikan agar beralih menanam palawija atau lainnya," kata dia ketika berbincang dengan wartawan, Senin (24/6/2019).

Laporan lahan pertanian yang mengalami puso diterima Pemkab sejak April lalu hingga 18 Juni. Rata-rata usia tanaman padi yang puso 30-90 pekan. Penyebab utamanya pasokan air ke sawah kurang.

Secara keseluruhan luas lahan pertanian yang puso tercatat ada 1.193 hektare. Dengan asumsi kerugian Rp3,5 juta per hektare, maka secara total dari 1.000-an hektare yang puso, kerugian total petani mencapai Rp4 miliar.

Selain puso, ada 591 hektare lahan pertanian yang rusak berat dan terancam puso. Saat ini berbagai upaya terus dilakukan Pemkab untuk mengantisipasi dan mengatasi persoalan tersebut. Salah satunya menyiapkan suplai bantuan air dengan memanfaatkan sumur dalam milik Pemkab.

"Ini kami masih mendata dan menginventarisasi upaya penanganannya. Terutama lahan yang terancam puso agar jangan sampai puso," katanya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan -kelezatan-bebek-goreng-taat-pak-udin-kartasura-sukoharjo-" title="Mencicipi Kelezatan Bebek Goreng Taat Pak Udin Kartasura Sukoharjo">Sukoharjo Netty Harjianti mengatakan saat ini ancaman kekeringan diwaspadai pada lahan tadah hujan. Hal ini lantaran rawan mengalami kekurangan air saat musim kemarau.

Sementara itu, hasil pemantauan Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo diketahui sebagian besar sawah tadah hujan sudah ditanami petani berupa tanaman nonpadi. Tanaman yang ditanam sekarang berupa buah seperti semangka dan melon.

Namun ada juga petani menanami lahan pertaniannya dengan tanaman jagung. "Ada sebagian petani tadah hujan yang nekat tanam padi. Akibatnya mengalami puso," katanya.

Berikut data luas lahan puso di empat kecamatan:
Weru: 684 hektare
Bulu : 196 hektare
Nguter: 412 hektare
Bendosari: 783 hektare

Sumber: diolah dari hasil wawancara (isw)

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten