Perajin cangkul di Dukuh Karangpoh, Desa Padas, Kecamatan Karanganom, Klaten, memproduksi cangkul di rumah mereka, Kamis (14/11/2019). (Solopos-Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN – Serbuan cangkul impor membuat para perajin cangkul di Dukuh Karangpoh, Desa Padas, Kecamatan Karanganom, Klaten, menjerit. Perajin khawatir cangkul impor mematikan usaha mereka.

Sebagai informasi, Karangpoh merupakan sentra perajin pandai besi di Klaten. Para perajin memproduksi aneka peralatan pertanian seperti cangkul hingga garu. Cangkul menjadi produk andalan para perajin di kampung tersebut.

Risma, 29, salah satu pande besi di Karangpoh yang hingga kini aktif memproduksi cangkul bersama dua temannya bisa memproduksi 250 cangkul dalam sepekan. Harga cangkul beragam dari Rp30.000/unit hingga Rp38.000/unit tergantung bahan.

“Kalau besi murni harganya lebih murah dibandingkan yang bagian depannya ditambahi baja,” kata Risma saat ditemui solopos.com di tempat usahanya, Kamis (14/11/2019).

Risma mengaku belakangan kerap mendapatkan keluhan dari pedagang yang menampung cangkul hasil produksinya seiring serbuan cangkul impor.

“Bakul yang sudah kontrak dengan saya mengeluh masih ada 100 kodi cangkul yang belum terjual,” jelas Risma.

Risma mengaku harga cangkul impor lebih murah ketimbang cangkul lokal. Namun, dari sisi kualitas dia menjamin cangkul lokal lebih unggul.

“Kalau soal harga cangkul impor saya kurang tahu persis, yang jelas lebih murah. Namun dari sisi kualitas rata-rata cangkul impor itu pada mata cangkulnya tumpul. Sementara, cangkul lokal lebih tajam serta bahannya lebih kuat,” jelas dia.

Risma berharap pemerintah bisa menghentikan serbuan cangkul impor di Indonesia. Dia meyakini kebutuhan cangkul di Indonesia bisa dipenuhi para perajin lokal.

Perajin lainnya, Manto, 58, memastikan perajin lokal bisa memenuhi kebutuhan cangkul di Indonesia.

“Kami dalam sebulan produksi sampai 1.000 biji bisa. Jadi keliru kalau ada alasan serbuan cangkul impor karena perajin lokal tidak bisa memenuhi permintaan pasar,” jelas dia.

Di wilayah Karangpoh ada 50an perajin yang tergabung dalam Koperasi Derap Laju Pandai Besi dan Las (Delapanbelas). Selain perajin asal Padas, perajin juga berasal dari kampung bersebalahan yang berada di Desa Bonyokan, Kecamatan Jatinom.

Ketua II Koperasi Delapanbelas, Misranto, mengatakan menjadi perajin pandai besi sudah berlangsung secara turun temurun.

“Sebaiknya pemerintah menyerap dulu produksi cangkul dari perajin lokal. Kalau memang betul-betul kurang, baru dilakukan impor. Jangan impor dulu baru memikirkan perajin lokal,” kata dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten