Serapan Naker Anjlok, Pakar: Investor Hindari Kerumitan Pasar Naker

Direktur Riset Center of Reform Economic (CORE) Piter Abdullah menuturkan menyusutnya serapan tenaga kerja di tengah kenaikan investasi disebabkan karena peralihan pada modal padat karya.

I Nyoman Ary Wahyudi - Solopos.com
Jumat, 26 November 2021 - 05:44 WIB

SOLOPOS.COM - Ilustrasi pemantauan ke pabrik untuk mengetahui penerapan protokol kesehatan. (Istimewa)

Solopos.com, JAKARTA — Direktur Riset Center of Reform Economic (CORE) Piter Abdullah menuturkan menyusutnya serapan tenaga kerja di tengah kenaikan investasi disebabkan karena peralihan pada modal padat karya selama enam tahun terakhir. Peralihan itu disinyalir karena kompleksitas isu ketenagakerjaan di Tanah Air.

“Salah satu hambatan investasi yang dihindari investor adalah kompleksnya isu ketenagakerjaan di Indonesia,” kata Piter melalui pesan WhatsApp, Kamis (25/11/2021) seperti dilansir Bisnis.com.

Dengan demikian, kata Piter, investor cenderung menghindari investasi yang banyak berhubungan dengan pekerja atau industri padat karya.

“Permasalahan ini kemudian yang dicoba diatasi dengan UU Cipta Kerja yang baru saja diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi untuk harus dilakukan perubahan,” kata dia.

Baca Juga: Kenaikan Cukai Rokok, Kemenperin Usul Tak Terlalu Tinggi Tahun Depan

Sebelumnya, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menerangkan terjadi penyusutan serapan tenaga kerja hingga 70 persen setiap tahunnya di tengah tren kenaikan investasi selama enam tahun terakhir.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan kenaikan investasi itu bersifat padat modal dan mengarah pada digitalisasi industri padat karya.

“Investasi naik dua kali lipat tapi jumlah penyerapannya menyusut 70 persen, dengan demikian Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia tidak efisien, banyak investasi yang masuk itu hanya dinikmati oleh sedikit orang,” kata Hariyadi saat menggelar konferensi pers, Jakarta, Kamis (25/11/2021).

Menurut dia, investasi saat ini dihadapkan pada biaya investasi yang tinggi hingga lemahnya daya saing Indonesia terkait dengan penyerapan modal yang masuk. Hal itu bisa dilihat dari tingginya ICOR dalam negeri. ICOR menjadi salah satu parameter untuk menunjukkan tingkat efisien investasi di suatu negara.

Baca Juga: Portal SMEsta.id Kemenkop Dorong UKM Berjaya dengan Cara Ini

“Pada era 2015 hingga 2019, rerata ICOR Indonesia tercatat sebesar 6,5 persen atau lebih besar dari periode sebelumnya yang berada di kisaran 4,3 persen,” kata Hariyadi saat menggelar konferensi pers, Jakarta, Kamis (25/11/2021).

Dia menambahkan ICOR Indonesia pada tahun 2019 berada di posisi 6,77 persen atau naik dari capaian 2018 sebesar 6,44 persen. ICOR itu relatif tinggi dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam yang mendekati kisaran angka ideal sebesar 3.

Selain itu, dia mengatakan, kondisi ketenagakerjaan Indonesia belum menunjukkan tren perbaikan. Menurut dia, penciptaan lapangan kerja relatif berat di tengah pandemi Covid-19. Misalkan tahun 2013, setiap Rp1 triliun investasi dapat menyerap mencapai 4.594 tenaga kerja. Akan tetapi, investasi setiap Rp1 triliun pada tahun 2019 hanya menyerap 1.438 orang.

“Dikarenakan investasi lebih bersifat padat modal dan penggunaan teknologi yang menggantikan tenaga kerja di sektor manufaktur,” tuturnya.

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif