Ilustrasi sarang tawon (bbc.co.uk)

Solopos.com, SEMARANG — Serangan tawon jenis vespa affinis atau yang karib disebut tawon ndas di sejumlah wilayah Soloraya, rupanya menyita perhatian Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo.

Ganjar pun mengaku sudah melakukan langkah percepatan mengatasi serangan tawon ndas itu, salah satunya dengan menginstruksikan kepala daerah untuk menggelar patroli.

Serangan tawon berukuran besar itu memang cukup meresahkan. Bahkan di Klaten, serangan tawon ndas mengakibatkan dua korban meninggal dunia, pekan lalu.

Catatan Pemprov Jateng menyebutkan sejak 2016, sudah ada 667 kasus serangan tawon ndas dan mengakibatkan 10 orang meninggal dunia di Klaten.

Selain Klaten, serangan tawon ndas juga terjadi di Kabupaten Pemalang dan menyebabkan 9 orang meninggal pada 2018.

Selain Klaten dan Pemalang, tawon ndas juga meresahkan warga Kudus, Sukoharjo, dan Boyolali. Dalam setahun sudah ada empat kasus serangan tawon ndas di Kudus. Sementara di Sukoharo, 400 saran tawon ndas telah dimusnahkan dalam satu tahun terakhir. Pun demikian, dengan di Kabupaten Boyolali.

"Tindakan paling gampang sekarang harus ada patroli. Dan saya coba kontak dengan bupati agar ada patroli, tawon-tawon ini ada di mana dan apa yang terjadi," kata Ganjar, Rabu (27/11/2019).

Jika sudah dilakukan patroli dan ternyata pemerintah di daerah tak sanggup mengatasi, pihaknya siap menerjunkan tim untuk membantu.

"Saya butuh dari inisiatif dari Pemkab. Kalaulah kemudian diperlukan, kita siap turun tangan. Beberapa dinas sudah saya sampaikan secara lisan untuk membantu. Tapi, belum ada permintaan,” ujarnya.

Gerak cepat tersebut minimal dengan menetapkan apakah kondisi sudah darurat atau belum. Dengan penetapan kondisi tersebut, pihak-pihak lain baru bisa turut terjun membantu termasuk para ilmuwan.

"Saya sebenarnya sudah menyampaikan ke bupati kalau seandainya segera diambil yang sifatnya mendekati darurat ya segera diambil dan segera dicarikan pakar," katanya.

Yang di Klaten misalnya, Ganjar mengatakan ilmuan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) siap membantu. Minimal menghubungkan Pemkab dengan ahli biologi agar bisa ditelaah secara ilmiah, hingga dilakukan cara yang tepat untuk penanganan.

Pararel dengan itu, lanjut Ganjar, ilmuwan bisa menganalisa ada apa dengan fenomena ini. Apakah manusia sudah mengganggu ataukah alam yang sekarang sudah berubah agar kita bisa mengantisipasi.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten