Sepak Terjang Ustaz Ahmad Sukina Pimpin MTA: Disanjung, Dihujat, hingga Dicap Sesat
Ahmad Sukina.(Facebook)

Solopos.com, SOLO – Pimpinan Majlis Tafsir Alquran atau MTA pusat, Ustaz Ahmad Sukina, tutup usia pada Kamis (25/2/2021) dalam usia 73 tahun karena sakit. Dia mengembuskan napas terakhir di RSUD dr Moewardi Solo, Kamis pagi pukul 03.47 WIB.

Semasa hidupnya, pria kelahiran Sukoharjo, 28 Oktober 1948 itu dikenal sebagai sosok ulama kharismatik yang sukses memimpin MTA hingga berkembang pesat di Nusantara. Dia tercatat memimpin MTA sejak 1992, sepeninggal pendirinya, Ustaz Abdullah Thufail Saputra pada 15 September 1992.

MTA didirikan oleh Ustaz Abdullah Thufail Saputra di Solo pada 19 September 1972. Sampai saat ini tercatat ada 132 perwakilan dan 471 cabang MTA yang tersebar di seluruh wilayah di Indonesia. MTA didirikan untuk mengajak umat Islam kembali ke Alquran dan hadis dengan kegiatan utama berupa pengajian.

Baca juga: Ustaz Ahmad Sukina, Ulama Kharismatik Sukses Pimpin MTA Sejak 1992

Strategi Dakwah MTA

Strategi dakwah MTA menjadi pembahasan cukup menarik di kalangan mahasiswa, dosen, maupun para peneliti di bidang kajian dakwah, komunikasi, maupun keislaman. Gaya ceramah Ustaz Ahmad Sukina menjadi salah satu daya tarik bagi masyarakat.

Aktivitas dakwah MTA berkembang ke berbagai kota di Indonesia karena para jemaah di setiap daerah membentuk kelompok pengajian. Kelompok pengajian inilah yang kemudian membentuk cabang-cabang MTA yang baru.

Dedy Susanto dalam penelitian bertajuk Pola Strategi Dakwah MTA di Kota Semarang yang diterbitkan di Jurnal Imu Dakwah pada 2015 lalu mencatat perkembangan MTA di Kota Solo dan sekitarnya cukup pesat, sehingga merambah ke berbagai wilayah lain, termasuk Semarang.

Baca juga: Kulineran di Solo, Ini 5 Spot Tujuan Dimas Beck dan Ncess Nabati

MTA berkembang pesat meski banyak masyarakat yang tidak menyukainya. Hal itu sering kali disampaikan jemaah MTA saat menghadiri pengajian Ahad pagi di Gedung Pusat MTA Solo bersama Ustaz Ahmad Sukina.

Meski demikian, pimpinan MTA itu menanggapi santai. Malahan jumlah anggota MTA terus bertambah yang salah satu alasannya ingin mendalami ajaran Islam.

Banyaknya masyarakat yang masuk ke dalam organisasi ini, menandakan bahwa dakwah yang dilakukan MTA tidak setengah-setengah. Mereka tentunya mempunyai sistem manajemen dan strategi dakwah tertentu serta berbagai pendekatan yang menjadi menjadi keunikan dari dakwah MTA.

Baca juga: Harga Tembus Rp300.000/Kg, Pantas Porang Jadi Idola Petani Wonogiri

Ustaz Ahmad Sukina

Kesuksesan dakwah MTA tidak lepas dari peranan para ustaz, salah satunya Ahmad Sukina. Retorika yang sederhana dan ceplas-ceplos membuat pesan yang disampaikan Ahmad Sukina mudah dipahami, meskipun substansinya acap kali mengundang berbagai kritikan, sampai dicap sebagai aliran sesat.

Sampai-sampai ada buku bertajuk Meluruskan Doktrin MTA yang ditulis oleh Nur Hidayat Muhammad dan diterbitkan pada 2013. Dikutip dari Nu.or.id, buku itu memuat sejumlah fakta penyelewengan ajaran dan praktik MTA ini pertama kali diterbitkan pada bulan Januari lalu. Pada buku ini dijlentrehkan keberadaan MTA, pemikiran, akidah, fikih dan tradisi yang dilakukan mereka.

Sejumlah situs berita online sering memberitakan soal pengajian MTA yang ditentang di berbagai wilayah. Pada 2013 lalu kegiatan MTA di Kabupaten Kerinci, Jambi, dihentikan berdasarkan SK Bupati Kerinci Nomor 730/Kep.332/2013 tentang penghentian kegiatan MTA. Hal ini terjadi karena ajaran organisasi tersebut dianggap menyimpang dan mendapat reaksi negatif dari masyarakat.

Baca juga: Puting Beliung Kembar Muncul di Sragen

MTA Dicap Sesat

Pada 2014 lalu pengajian MTA di Magetan, Jawa Timur, juga ditentang karena dinilai menyimpang dari akidah Islam akibat tidak mengakui tahlilan yang lekat dengan kultur masyarakat. Kemudian pada 2018 lalu giliran pengajian MTA di Kebumen, Jawa Tengah, yang ditolak warga.

Penolakan terjadi karena sejak awal pengajian MTA dianggap sesat oleh sebagian masyarakat. Hal tersebut tertuang dalam artikel jurnal berjudul Penolakan Masyarakat terhadap Gerakan Dakwah MTA di Kebumen karya Laili Alfi Rohmah dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 2019 lalu.

MTA dianggap sebagai aliran sesat karena para jemaah biasanya enggan mengikuti selametan, kenduri, yasinan, dan tahlilan yang lekat dengan kultur masyarakat Indonesia, khususnya budaya Jawa. Kecenderungan pengikut MTA yang bersikap seperti itu melahirkan permasalahan serius di tengah masyarakat.

Akibatnya, organisasi MTA dan jemaahnya dikecam karena bersikap terlalu frontal dengan tradisi lokal masyarakat Jawa. Sampai akhirnya terjadi pergesekan hingga konflik horisontal terjadi antara masyarakat muslim tradisional.

Baca juga: Cemburu Istrinya Ditelepon Terus, Warga Boyolali Tusuk Guru PNS

Radio MTA

Permasalahan tersebut menjadi curhatan klasik jemaah MTA kepada Ustaz Sukina setiap pengajian Ahad Pagi yang juga disiarkan melalui radio MTA FM. Radio ini menjadi salah satu strategi dakwah MTA selain pengajian, pendidikan, kegiatan sosial, serta penerbitan buletin maupun brosur ceramah.

Skripsi Annovika Wahidun Akbar dari UMS Surakarta pada 2019 lalu mengulas soal strategi komunikasi dakwah MTA melalui radio MTA FM. Sejak awal MTA FM mengudara mendapatkan antusias yang signifikan dari pendengar. Dengan menyajikan program-program yang dapat dinikmati oleh semua kalangan, siaran radio MTA FM mendapatkan tempat di hati para pendengarnya.

Baca juga: Legenda Teror Banaspati di Lapangan Kampung Sewu Solo, Ada yang Ngalami?

Berawal dari kebencian, tidak sedikit pendengar radio MTA FM tertarik untuk mendengarkan siaran secara utuh, diikuti dengan bergabung dalam pengajian yang diadakan rutin setiap Ahad di daerah-daerah maupun Gedung Pusat MTA di Solo.

Meski sering dihujat, Ustaz Ahmad Sukina selaku pimpinan MTA pusat menanggapi hal tersebut dengan santai. Dia pun tidak pernah memaksa orang lain mengikuti pengajian MTA. Dia juga mengimbau para jemaah agar tidak memicu konflik di lingkungan masyarakat dalam setiap ceramahnya.



Berita Terkini Lainnya








Kolom