Tutup Iklan
SENSUS PERTANIAN : BPS Solo Hanya Bidik 1.600 Rumah Tangga
Petani mengolah sawahnya di daerah Banyuanyar, Solo, beberapa waktu lalu. Luas lahan pertanian produktif di Kota Solo terus mengalami penyusutan dari tahun ke tahun, bila sebelumnya luas lahan pertanian sekitar 103 hektare, saat ini hanya tersisa lebih kurang 100 hektare. (JIBI/SOLOPOS/Agoes Rudianto)

Petani mengolah sawahnya di daerah Banyuanyar, Solo, beberapa waktu lalu. Luas lahan pertanian produktif di Kota Solo terus mengalami penyusutan dari tahun ke tahun, bila sebelumnya luas lahan pertanian sekitar 103 hektare, saat ini hanya tersisa lebih kurang 100 hektare. (JIBI/SOLOPOS/Agoes Rudianto)
Petani mengolah sawahnya di daerah Banyuanyar, Solo, beberapa waktu lalu. Luas lahan pertanian produktif di Kota Solo terus mengalami penyusutan dari tahun ke tahun, bila sebelumnya luas lahan pertanian sekitar 103 hektare, saat ini hanya tersisa lebih kurang 100 hektare. (JIBI/SOLOPOS/Agoes Rudianto)
SOLO — Badan Pusat Statistik (BPS) bakal menggelar sensus pertanian yang berlangsung 1-31 Mei mendatang di seluruh wilayah Indonesia. Khusus untuk wilayah Kota Solo yang bukan daerah konsentrasi pertanian, BPS Solo hanya akan membidik 1.600 rumah tangga yang memperoleh penghasilan dari pertanian atau jasa pertanian.

Kepala BPS Solo, Toto Desanto, menyampaikan sensus pertanian merupakan sensus dasar yang harus dilaksanakan BPS selain sensus penduduk dan sensus ekonomi. Tujuan dilaksanakannya sensus pertanian adalah mendapatkan data statistik pertanian terkini yang lengkap, akurat sebagai gambaran struktur pertanian di Indonesia. Data tersebut diperlukan untuk mengevaluasi kinerja dan menyusun rencana pembangunan pertanian di Indonesia.

Di Kota Solo, metode survei yang akan digunakan adalah snow ball. Dengan metode ini, petugas sensus tidak perlu mendatangi setiap rumah penduduk. Petugas hanya mendatangi rumah tangga yang pendapatan utamanya dari sektor pertanian, baik yang mengusahakan pertanian dan jasa pertanian. Dan jumlah rumah tangga yang disensus juga bisa bertambah tergantung informasi yang berkembang di lapangan. “Kami sudah punya basis data berdasarkan sensus penduduk 2010,” kata Toto kepada Solopos.com.

Toto menjelaskan, subsektor yang disensus adalah tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan. Tidak semua wilayah di Solo jadi target sensus. “Hanya ada enam kelurahan yang menjadi pusat kegiatan sensus dari 51 kelurahan yang ada. Di antaranya Mojosongo, Kadipiro, dan Sumber,” katanya. BPS mengerahkan sekitar 84 petugas untuk melakukan sensus pertanian.

Kepala Dinas Pertanian Kota Solo, Weni Ekayanti, menyampaikan Solo memang bukan daerah penghasil pertanian. Luas lahan pertanian di Solo kurang dari 100 hektare. Tetapi, sensus pertanian ini tidak hanya ditujukan bagi produksi tanaman pangan saja. Melainkan kepada pelaku usaha peternakan, perikanan, hortikulutura.

Weni menegaskan, hasil sensus pertanian ini nantinya akan menjamin bahkan ketersediaan lahan pertanian di Solo yang tinggal 100 hektare itu akan dipertahankan. Seiring pertumbuhan kota dan aturan mengenai tata ruang yang ada, bisa jadi lahan pertanian akan terus berkurang.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho