Senjakala Kampung Beton, Saksi Bisu Kesibukan Pelabuhan Terbesar Bengawan Solo

Kawasan Kampung Beton di Kelurahan Sewu, Jebres, Solo, dulu menjadi saksi bisu kesibukan salah satu dermaga pelabuhan terbesar di Sungai Bengawan Solo.

 Pengendara motor melewati jembatan sasak Bengawan Solo dari arah Kampung Beton, Sewu, menuju Gadingan, Mojolaban, Sukoharjo, Senin (26/9/2022). (Solopos/Nicolous Irawan)

SOLOPOS.COM - Pengendara motor melewati jembatan sasak Bengawan Solo dari arah Kampung Beton, Sewu, menuju Gadingan, Mojolaban, Sukoharjo, Senin (26/9/2022). (Solopos/Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO — Kampung Beton, Kelurahan Sewu, Jebres, Solo, belakangan ini sering diperbincangkan terkait adanya jembatan sasak yang menjadi jalur pintas alternatif Jembatan Mojo yang ditutup untuk perbaikan.

Dari Beton, jembatan sasak membentang di atas Sungai Bengawan Solo ke Gadingan, Mojolaban, Sukoharjo. Pemilihan Beton sebagai lokasi penambatan jembatan sasak bukan tanpa latar belakang.

PromosiAngkringan Omah Semar Solo: Spot Nongkrong Unik Punya Menu Wedang Jokowi

Konon, Kampung Beton di Kelurahan Sewu menyimpan banyak cerita sejarah terkait kejayaan Sungai Bengawan Solo yang saat itu menjadi salah satu jalur transportasi paling sibuk di Pulau Jawa. Salah satu pelabuhan terbesar ada di Beton, Kelurahan Sewu.

Nama Beton berasal dari nama pelabuhan bandar yang dulu ada di Kampung Sewu. Di era kejayaannya dermaga pelabuhan Beton dulu menjadi persinggahan kapal-kapal besar yang melalui Sungai Bengawan Solo.

Dermaga ini juga menjadi salah satu kunci bagi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada zaman tersebut untuk keluar masuknya barang-barang kebutuhan pokok.

Baca Juga: Jembatan Sasak Solo-Gadingan Kembali Dibuka, Pengendara Motor Langsung Antre

Daerah Beton juga menjadi salah satu lokasi pergudangan yang cukup besar. Hal itu tertulis dalam buku Djokja En Solo Beeld van De Vorstensteden yang ditulis MP van Bruggen, BB Hering, RS Wassing, RPGA Voskuil, dan CA Heshusius.

Disebutkan dalam buku tersebut bahwa daerah Kampung Sewu dekat Bengawan Solo, terutama Beton, menjadi salah satu lokasi interaksi antara pendatang Arab, China, dan Belanda. Interaksi yang dilakukan adalah melakukan jual beli hingga perjanjian dagang.

Dermaga Beton Mulai Ditinggalkan ketika KA Beroperasi

Rata-rata pemilik gudang tersebut adalah orang-orang Belanda yang menyewakan gudangnya kepada pendatang dari Arab dan China. Banyak dari warga Solo yang mencari nafkah di pergudangan tersebut.

Kejayaan Beton perlahan pudar dan memasuki senjakala pada pertengahan abad ke-19 ketika transportasi darat seperti kereta api sudah mulai digunakan. Hal ini dibenarkan Kepala Program Studi Sejarah Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Susanto.

Baca Juga: Soal Jembatan Sasak Beton-Gadingan, DPUPR Solo Pasrahkan ke Balai Besar Sungai

Ia menjelaskan senjakala dermaga Kampung Beton tepi Bengawan Solo mulai pudar memasuki abad ke-19. “Senjakala dermaga Beton itu memasuki pertengahan hingga akhir abad ke-19, terutama ketika kereta api Solo-Madiun sudah mulai beroperasi,” ujarnya dalam wawancara dengan Solopos.com, Kamis (6/10/2022).

Selain itu kondisi sungai di Solo juga mengalami pendangkalan yang disebabkan sistem tanam paksa tahun 1830 yang banyak melakukan penebangan hutan. Akibatnya hutan-hutan gundul sehingga tanah-tanah daratan longsor dan mengendap di sungai.

Pendangkalan ini mengakibatkan banjir di Kota Solo. Daerah Beton yang awalnya adalah lokasi yang strategis dan menguntungkan secara ekonomi menjadi lokasi kumuh yang kerap dilanda banjir.

Wabah Pes di Kampung Beton Sewu

Bengawan Solo yang awalnya jadi tumpuan transportasi dan distribusi barang digantikan oleh moda transportasi darat yang lebih mudah dan cepat. Beton mulai ditinggalkan dan hanya segelintir orang Belanda, China, dan Arab yang tinggal.

Baca Juga: Antisipasi Hanyut, Jembatan Sasak Gadingan-Beton Solo Ditepikan & Ditutup

Mereka pun kemudian bergeser ke Pasar Gede atau Laweyan yang lebih aman dari banjir, sekaligus meningkatkan citra sebagai masyarakat kelas menengah atas yang sukses dalam bisnis. 

Ironisnya, dermaga di Kampung Beton juga menjadi saksi modernisasi transportasi darat saat Jembatan Jurug A Solo dibangun pada 1913, disusul kemudian Jembatan Bacem pada 1915.

Pemerintah Belanda kala itu bekerja sama dengan Keraton Kasunanan dan Kadipaten Mangkunegaran menanggulangi banjir dengan membuat sungai baru atau membuat tanggul.

Baca Juga: Arus Kencang dan Debit Air Naik, Jembatan Sasak Gadingan-Beton Solo Ditutup

Proyek ini berhasil dan membuat Beton kembali bisa digunakan sebagai lokasi pergudangan dan aktivitas juga kembali normal. Tetapi, pendatang dari Belanda, China, dan Arab sudah enggan tinggal di daerah Beton atau Kampung Sewu.

Penyebabnya, wabah pes yang cukup parah melanda Beton dan Kampung Sewu menjadi salah satu lokasi yang paling banyak memakan korban. Selain itu, status sosial membuat para pendatang tersebut gengsi untuk kembali tinggal di sekitar pesisir Bengawan Solo.

Daftar dan berlangganan Espos Plus sekarang. Cukup dengan Rp99.000/tahun, Anda bisa menikmati berita yang lebih mendalam dan bebas dari iklan dan berkesempatan mendapatkan hadiah utama mobil Daihatsu Rocky, sepeda motor NMax, dan hadiah menarik lainnya. Daftar Espos Plus di sini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Solopos.com - Panduan Informasi dan Inspirasi

Berita Terkait

Berita Lainnya

      Berita Terkini

      Pantai Jujugan Wonogiri, Wisata Tersembunyi di Antara Tebing Karang

      Pantai Jujugan merupakan salah satu dari sekian banyak pantai di Wonogiri yang tersembunyi di antara tebing karang.

      Bukit Sidoguro Klaten, Taman Cantik dengan Pemandangan Rawa Jombor yang Menarik

      Kabupaten Klaten memiliki objek wisata berupa taman cantik seperti di luar negeri, yakni Bukit Sidoguro.

      Transaksi Nontunai di Sragen Tertinggi di Soloraya, Kedelapan Nasional

      Implementasi transaksi nontunai di Sragen di klaim tertinggi di Soloraya. Pemkab Sragen sudah menerapkan transaksi nontunai untuk setiap pembayaran hampir di semua bidang.

      Liga 3 Tak Kunjung Dimulai, Sejumlah Pemain Persiwi Wonogiri Menganggur

      Seluruh kompetisi resmi sepak bola dari Liga 1 hingga Liga 3 di Tanah Air belum kunjung bergulir sejak munculnya tragedi di Stadion Kanjuruhan, Kota Malang, awal Oktober 2022.

      Polres Klaten Serahkan Bantuan 40 Sak Semen ke Masjid Miftahul Jannah Jimbung

      Polres Klaten menyerahkan bantuan guna mendukung renovasi Masjid Miftahul Jannah, Dukuh Ngasinan, Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes.

      Ini Profil Aipda Joko Mudo, Penumpang Helikopter Polisi yang Jatuh asal Sragen

      Aipda Joko Mudo menjadi salah satu korban jatuhnya Helikopter polisi. Ia dikenal sebagai sosok yang baik dan berhasil mengangkat derajat keluarga.

      Gunakan Knalpot Brong di Jl Slamet Riyadi Solo, 5 Sepeda Motor Disita

      Call center tim Sparta Polresta Solo banyak menerima aduan dan keluhan pengguna jalan maupun masyarakat lantaran terganggu suara knalpot brong.

      Filosofi Klepon, Kudapan yang akan Hadir di Pernikahan Kaesang-Erina

      Kue klepon merupakan makanan ringan tradisional yang berasal dari Jawa. Diceritakan, klepon untuk kali pertama diperkenalkan oleh imigran Indonesia kepada masyarakat Belanda pada 1950-an.

      Penumpang Helikopter Jatuh Asal Sragen Ditemukan, Keluarga Korban Bisa Menerima

      Salah satu penumpang helikopter polisi yang jatuh asal Sragen, Aipda Joko Mudo, telah ditemukan namun dalam kondisi meninggal dunia. Keluarga korban ingin almarhum dimakamkan di Sragen.

      Jejak Harta Karun Emas di Musuk Boyolali: Disebut Pripih, Bertulis Huruf Kawi

      Temuan artefak kebudayaan di Boyolali berbentuk pripih yang diyakini sebagai harta karun pada zaman dulu.

      3 Produk Pangan Strategi Ludes dalam 2 Jam di Pasar Murah Sragen

      Pasar murah itu dihelat sebagai rangkaian peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-58 Provinsi Jateng.

      Besok, Instalasi Lampu Meriahkan Natal di Kawasan Pasar Gede Solo Dinyalakan

      Panitia akan menyalakan instalasi lampu perayaan Natal di Jl. Jenderal Sudirman dan Urip Sumoharjo pada Kamis (1/12/2022).

      Fixed! Dewan Pengupahan Sukoharjo Usul UMK 2023 Naik Rp140.121

      Dewan Pengupahan Sukoharjo telah mengusulan kenaikan Upah Minimum Kabupaten (UMK) 2023 sebesar 7,01 persen dari UMK sebelumnya.

      Soal UMK 2023, Diskopnaker Boyolali: Baru Persiapan Pleno Dewan Pengupahan

      Dinas Koperasi dan Tenaga Kerja (Diskopnaker) Boyolali masih menunggu persiapan pleno dewan pengupahan soal UMK Boyolali.

      2.063 Pelari dari 11 Negara akan Ikuti Siksorogo Lawu Ultra di Karanganyar

      Siksorogo Lawu Ultra 2022 hadir dengan kategori 15 K, 30 K, 50 K, dan 80 K dengan batas waktu lari untuk laki-laki 23 jam, perempuan 24 jam.