Pegiat teater dari Solo, Yogyakarta, dan Jakarta mengikuti latihan untuk pertunjukan Panembahan Reso di hari kedua latihan di Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Solo, Minggu (18/8/2019). / solopos.com-Ika Yuniati

Solopos.com, SOLO -  Seniman Solo, DIY, dan Jakarta bakal menghidupkan kembali garapan teater monumental karya W.S. Rendra berjudul Panembahan Reso. Lakon kolosal yang melibatkan puluhan pegiat seni berpengaruh asal tiga kota tersebut digelar di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta Desember mendatang. Ini merupakan pentas besar kedua setelah panggung pertama yang digarap langsung oleh Rendra pada 1986 silam di Jakarta.

Setelah proses panjang sejak beberapa bulan lalu, para pemain berkumpul dan mulai berlatih di Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Solo, Sabtu (17/8/2019) sore hingga Minggu (18/8/2019) malam.  Pertemuan pertama diisi dengan koordinasi awal dan proses pembacaan dan studi naskah yang cukup menyita waktu. Pentas ini dikomandoi langsung dua seniman andalan Solo yaitu Hanindawan (sutradara), dan Sosiawan Leak (asisten sutradara).

Latihan akan terus berlanjut dengan jadwal khusus per kelompok hingga menjelang pementasan Desember mendatang. Hanin saat berbincang di sela-sela latihan mengatakan pendukung pentas ini 80 persennya merupakan seniman Solo. Sebut saja Gigok Anurogo, Budi Bodot, Yogiswara Manitis Aji, Sruti Respati, dan Dedek Witranto. Sementara dari Jakarta dan Yogyakarta dipilih aktor senior seperti Ine Febriyanti, Whani Darmawan, dan Ruth Mariani. Sejumlah pemain teater kawakan pendukung Panembahan Reso di era 80-an juga dilibatkan.

Pada awalnya karya ini digubah untuk mengritik masa Orde Baru. Menceritakan tentang suksesi perebutan kekuasaan di salah satu kerajaan. Secara internal, istri-istrinya saling berebut agar anak mereka meneruskan kekuasaan sang raja. Sementara di luar itu orang-orang sekeliling raja juga saling berkompetisi untuk mendapat jabatan tinggi. Semua orang melakukan banyak cara untuk meraih takhta. Termasuk mengorbankan anak-anak mereka demi mencapai tujuan kuasa yang diinginkan.

Saat kali pertama dipentaskan, Rendra menyajikannya selama tujuh jam penuh tanpa jeda. Naskahnya sangat kental dengan drama baca. Tak heran dialog antar pemain sangat lama. Sementara untuk garapan baru ini Hanindawan memadatkan cerita menjadi hanya 2,5 hingga tiga jam. Substansi cerita sama, hanya pengemasan yang dibuat berbeda mengikuti perkembangan jaman.

Teks Panembahan Reso, kata Hanin, memiliki kekuatan bercerita, dan struktur cerita dalam 43 bagian. Ia melakukan penyuntingan dengan hanya menyajikan 30 bagian. “Proses ini bukan semata menghilangkan adegan, tetapi mengurangi dialog atau bagian bagian yang kurang berada pada pergerakan cerita. Ibarat sungai, saya memilih arus atau gelombang yang bergerak mulai dari awal menuju akhir. Sehingga meskipun menjadi 30 bagian tidak menghilangkan, atau membengkokkan cerita, suasana, maupun karakter tokoh,” terangnya.

Hanin melengkapi pertunjukan dengan pentas tari sebagai bumbu cerita. Pentas tari dikomandoi koreografer asal Jakarta,  Hartati. Dramatisasi musik didukung sepenuhnya oleh komposer senior Solo, Dedek Wahyudi.

Panembahan Reso dimotori oleh Borobudur Writers and Cultural Festival society, Genpi.co, dan Ken Zuraida Project. Pentas yang menjadi peringatan satu dekade meninggalnya Rendra ini sebenarnya sudah direncanakan sejak tahun lalu. Namun eksekusi teknis baru dimulai awal 2019.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten