Kru film dan pemain Last Leg seusai menyelesaikan proses pengambilan gambar beberapa waktu lalu. / Istimewa

Solopos.com, SOLO - Seniman Solo yang dikomandoi penari dan desainer Retno Tan serta sineas Amerika Serikat, Paradox Pollack, baru saja menyelesaikan proyek kolaborasi bertajuk Last Leg. Film pendek garapan Respect Film (AS), didukung Pelangi Samudera, dan Don’t to Milk Production ini selesai awal Agustus 2019 lalu. Mereka melakukan pengambilan gambar di Pasar Gawanan, Colomadu, Karanganyar, selama hampir 13 jam dan di Waduk Cengklik, Boyolali.

Semua kru dan pemain merupakan pegiat seni Solo didukung anggota tiga organisasi bela diri yaitu Perisai Diri, Dojo Shojiku Aikido, dan Eagle Eyes MMA. Retno sebagai pencetus Pelangi Samudera menjadi produser sekaligus penata busana, sementara naskah ditulis sendiri oleh Paradox dan Sidney Kurniawan, warga Indonesia/Jerman.

Paradox mengatakan film bakal tayang maksimal tiga bulan setelah shooting di penyedia layanan media streaming digital Amerika, Amazon Prime. Berdurasi sekitar 15 menit, karya pertamanya dengan latar Solo ini digabungkan dengan tiga serial lain dengan tema yang sama yaitu tentang akhir jaman. “Antologinya ada empat judul. Dengan set waktu satu tahun sebelum kiamat. Ada yang 364 hari sebelum kiamat, 50 hari sebelum kiamat, yang di Solo paling terakhir yaitu satu hari sebelum kiamat,” terangnya

Film ini mengawinkan pandangan akhir zaman menurut budaya Indonesia dengan Amerika. Mengisahkan tujuh anak jalanan usia empat tahun hingga 16 tahun. Mereka menerjemahkan akhir zaman berdasarkan pandangan masing-masing. Paradox memasukkan simbol-simbol Jawa dalam film singkat tersebut. Ia menggunakan gunungan dalam wayang, sosok Semar, dan beberapa motif kain batik lawasan sebagai properti. Gunungan disebut sebagai simbol alam semesta yang menghubungkan manusia dengan Tuhan dan sekitar, sementara pemakaian  Semar  karena dianggap sebagai sosok bijaksana.

Tak hanya membawa kultur Jawa, Last Leg juga punya misi mulia penyelamatan lingkungan dengan kampanye tanpa plastik. Selama shooting mereka sangat membatasi penggunaan plastik. “Termasuk soal makanan, ibu-ibu setempat yang mendukung pengambilan gambar menggunakan daun,” terang Retno.

Retno mengenal Paradox sejak lama. Kali pertama kerja bareng dalam sebuah film di Amerika dan Kanada pada 2017 lalu. Retno, tertarik diajak bekerja sama karena Paradox mau ikut kampanye tanpa plastik di film. “Kami ajak teman-teman Pelangi Samudera yang kebetulan semua seniman murni,” terangnya. 

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten