Reza Ginandha Sakti/Istimewa

Solopos.com, SOLO -- Setiap mendengar perbincangan atau pidato yang melibatkan pejabat pemerintahan, kita jamak menangkap frasa ”revolusi industri 4.0”. Pemerintah melalui berbagai elemen sangat gencar menggerakkan dan mengarahkan hampir segala aspek kehidupan untuk beradaptasi dengan revolusi industri 4.0.

Revolusi industri adalah perubahan tata cara hidup dan teknologi secara dramatis yang terjadi dalam waktu cepat. Revolusi industri 1.0 ditandai penemuan mesin uap yang dilanjutkan menjamurnya mekanisasi berbasis mesin uap.

Pada era ini tenaga manusia dan hewan digantikan mesin. Revolusi ini sangat berpengaruh terhadap perekonomian dunia. Revolusi industri 2.0 ditandai berkembangnya energi listrik dan motor penggerak. Produksi pesawat telepon, mobil, dan pesawat terbang secara massal adalah contohnya.

Perkembangan selanjutnya adalah revolusi industri 3.0. Era ini ditandai semakin banyaknya industri berbasis elektronika, sistem yang otomatis, serta pemanfaatan teknologi informasi. Contoh pencapaian era ini adalah mesin otomatis semirobotik serta Internet.

Setelah tiga era revolusi tersebut di atas, dunia memasuki babak baru, yaitu revolusi industri 4.0. Istilah ini diperkenalkan kali pertama oleh Klaus Martin Schwab, seorang ekonom Jerman yang juga pendiri World Economic Forum dalam buku The Fourth Industrial Revolution (2017).

Dia menyebut pada era ini manusia berada pada sebuah revolusi yang mengubah elemen dasar sosial manusia, yaitu cara hidup, bekerja, dan berhubungan antarmanusia. Era revolusi industri 4.0 mempunyai salah satu elemen dasar terkuat yaitu Internet.

Dari Imajinasi Menjadi Nyata

Internet telah membuat hal yang sebelumnya belum pernah kita pikirkan, atau hal yang pernah menjadi imajinasi kita, menjadi sesuatu yang nyata. Sebagai contoh, munculnya ojek online menjadikan lapangan kerja baru dan sistem interaksi sosial baru.

Berkembangnya teknologi ini tidak serta-merta tanpa masalah. Konflik antara pengemudi ojek online dan ojek pangkalan adalah salah satu yang paling sering terjadi. Sisi negatif lain adalah tereduksinya interaksi sosial dalam masyarakat.

Hal tersebut bisa dilihat saat dua orang yang naik kendaraan umum berdampingan, masing-masing hanya tertarik dengan layar telepon genggam tanpa berbicara sedikit pun. Revolusi industri 4.0 telah mencakup hampir semua bidang, tidak terkecuali seni.

Seni yang dalam esensinya adalah hasil dari cipta, rasa, dan karsa manusia, sebagian besar telah merambah menuju komersial. Sebenarnya  seni bersifat imajinatif, subjek kerohanian manusia yang kemudian dituangkan ke dunia nyata menjadi sesuatu yang baru dan belum pernah ada sebelumnya.

Dengan semakin berkembangnya kegiatan berkesenian di masyarakat, bidang ini menjadi salah satu jenis industri kreatif yang mempunyai pangsa pasar amat luas dan menjadi industri raksasa, terutama film, musik, dan kriya.

Di Indonesia, 200 film bioskop telah diproduksi oleh sineas dalam negeri sepanjang 2018 dengan penonton lebih dari 50 juta orang. Jumlah tersebut belum termasuk film independen atau film televisi. Musik juga memperlihatkan grafik yang luar biasa.

Ribuan lagu telah diproduksi musikus Indonesia sepanjang tahun 2018 dengan berbagai macam genre dan target pasar. Hal ini menunjukkan seni film dan musik telah menjadi industri raksasa yang tidak bisa dianggap remeh, terutama dari sisi perekonomian.

Seni kriya adalah suatu fenomena. Sebelum musik dan film berkembang dengan pesat, seni kriya terlebih dahulu ada di berbagai budaya masyarakat seluruh dunia. Pernik-pernik rumah tangga, perhiasan, dan mebel menjadi salah satu tolok ukur.

Komersialisasi

Hal yang berbeda terjadi di bidang seni lain, yaitu teater, seni rupa, dan seni tari. Ketiga cabang seni ini belum bisa menyamai hegemoni film, musik, dan kriya dari segi komersialisasi industri. Sebenarnya modernisasi teknik dan manajemen banyak terjadi di tiga bidang seni ini.

Seni tari kini menggunakan teknologi pencahayaan serta pertunjukan laser, namun hal tersebut belum signifikan terhadap posisi di mata industri. Era musik dan film telah mengalami pergeseran. Karya musik yang dulu sering disajikan di piringan hitam, kaset, atau CD telah beralih ke platform digital semacam Spotify, langit musik, dan portal musik lain.

Film pun demikian. Sekarang jamak melihat film dengan streaming melalui laman penyedia resmi semacam HOOQ dan Netflix. Pelaku seni yang masih berkutat dengan sistem kuno tidak akan berkembang secara industri.

Hampir semua bidang seni menggunakan teknologi dan Internet untuk dapat lebih masuk ke sendi kehidupan bermasyarakat (promosi). Sama dengan yang terjadi pada teknologi informasi lain, revolusi industri juga memberi pengaruh positif dalam seni.

Hal positif tersebut salah satunya adalah seniman dapat dengan mudah menyebarluaskan karya, bahkan ke seluruh dunia melalui Internet. Seniman tidak perlu bernaung di bawah perusahaan pendistribusi karya agar karya mereka dapat diterima khalayak luas.

Dengan berkembangnya komputer, seniman juga lebih mudah dalam proses berkarya. Tentu saja di balik hal positif tersebut ada dampak yang kurang menyenangkan bagi masyarakat atau seniman. Salah satu dampak bagi seniman adalah karya mereka mudah dibajak, ditiru secara ilegal, dan terdistribusi secara masif dalam sistem Internet.

Dampak bagi masyarakat adalah sering terjadi karya seni yang salah sasaran umur audiens karena terbuka luasnya akses informasi komunikasi. Kini sangat mudah bagi anak-anak mengakses musik, karya seni rupa, teater, atau film yang seharusnya untuk orang-orang dewasa.

Pada akhirnya, seni dan seniman mau tidak mau harus beradaptasi dengan revolusi industri 4.0 agar tetap hidup dan menancapkan kejayaan secara kekaryaan dan finansial. Cara berkarya, produksi karya, serta promosi karya harus selalu berubah mengikuti perkembangan zaman seperti pepatah bijak ”hal yang tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri”.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten