Seni Bergerak di Ruang Virtual
Damar Tri Afrianto (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Pergelaran Solo International Perfoming Arts beberapa hari lalu atau SIPA 2020 menjadi salah satu penanda bahwa selama pandemi Covid-19 ekspresi kesenian tetap bisa dirawat dan berpotensi dikembangkan.

Mengusung perpaduan format acara langsung (offline) dan tidak langsung (online), SIPA 2020 sebagai sebuah festival dapat menjadi salah satu katalisastor dan penggerak industri seni yang beberapa bulan terkahir ini dihantam pandemi Covid-19.

Suasana pandemi dan pembatasan sosial yang belum usai yang berdampak pada interaksi dan komunikasi mencuatkan gerakan seni virtual sebagai siasat dan alternatif medium. Kesenian teralienasi dari penonton dan bermigrasi ke layar-layar digital.

Pada titik ini teknologi berubah menjadi penjalin bagian-bagian dari sebuah ekspresi artistik. Teknologi digital tak hanya menjadi medium, tapi juga menjadi isu utama yang menjadi diskursus dan wacana. Praktik-praktik seni pada masa pandemi Covid-19 telah bermigrasi dari ruang nyata ke ruang maya. Nilai estetikanya tentulah berbeda.

Keindahan seni harus dimodifikasi dengan perangkat teknologi. Seniman dengan kreativitasnya harus adapatif dengan ruang baru tersebut. Pengalaman estetik mendapat nilai alternatif. Rekayasa teknologi turut mengakomodasi terbentuknya ”rasa” dari karya seni tersebut.

SIPA tahun ini membawa Kota Solo bersanding dengan kota-kota lain yang telah sukses menggelar acara kesenian selama pandemi Covid-19. Art Jog dan tiga asosiasi Biennale, Jogja, Jakarta, dan Makassar, menambah deretan kegiatan seni yang justru berkembang dengan merespons keadaan normal baru dengan  eskplorasi dan eksperimen seni melalui medium digital.

Ekosistem seni dari mulai pergelaran dan karya seni menjalin interaksi dengan ruang virtual. Jalinan ini menimbulkan tren baru yang disebut konvergensi.  John V. Pavlik (1996) menyebut konvergensi merupakan wujud kemampuan digitilasasi ketika seluruh bentuk data seperti gambar, suara, grafik, video bergerak dikonversikan menjadi data digital yang mampu diakses dari perangkat komputer.

Berdasar perspektif Pavlik, seni dan ekosistemnya menjadi data di ruang virtual. Pada titik ini ruang virtual menyediakan akses yang tak terbatas. Tidak ada batas geografi sehingga pergelaran SIPA tahun ini bisa menggandeng seniman dari luar negeri di dalam sebuah kesatuan festival tanpa harus berinteraksi langsung.

Praktik konvergensi menandai sebuah interaksi ruang virtual. Tempat pertemuan dimediasi oleh layar-layar monitor. Dari ruang virtual inilah ekosistem  kesenian kita bergerak. Inovasi dengan medium digital menjadi arus utama gagasan kreatif seniman. Ruang-ruang dalam realitas mampu dimontase sedemikian rupa sehingga makna panggung mampu dipersepsikan ulang.

Masyarakat sebagai penikmat seni diantarkan pada perubahan pola interaksi menyikapi realitas virtual ini. David Holmes (2005) dalam tesisnya menyebut perubahan interaksi manusia pada ruang virtual membuat masyarakat tidak sekadar ditempatkan sebagai objek yang menjadi sasaran pesan, melainkan medium itu telah memperbarui pesan khayalak untuk menjadi lebih interaktif.

Teori Holmes tersebut bisa menjadi rujukan bahwa proes interaktif tetap mampu dicapai dalam ruang virtual. Hal ini penting untuk menjadi pertimbangan praktik penyelenggaraan seni virtual agar tidak terjebak dalam sebuah dokumentasi seni. Seni menjadi elastis. Memungkinkan pertautan dengan beragam kemampuan dunia digital hingga berkembanglah seni virtual di tengah pandemi ini.

Estetika Virtual

Seni virtual itu terpaksa menyeret pada problem estetika. Saya sebut sebagai estetika virtual untuk mengurai secara filosofis tentang praktik seni virtual pada masa pandemi ini. Estetika virtual ini memang tak luput dari kontradiksi, terutama penganut paham estetika formalis dan konvensional yang menggangap relasi fisik (pertemuan antara penonton dan kreator) dan persentuhan merupakan inti dari pengalaman estetik dan dasar lahirnya persepsi.

Oleh karena itu, media virtual dianggap mereduksi yang nyata atau real, menghambat penginderaan manusia untuk bekerja. Sentuhan, penciuman, dan pengalaman relasi kebertubuhan semuanya semakin kehilangan peran. Estetika virtual memang meniadakan pertemuan langsung antara karya seni dan penonton.

Interaksi mereka diperantarai persepsi visual yang tampil di layar dalam sebuah frame. Selayaknya orang yang sedang menonton film atau video di kamar, penonton menjelajahi pengaman estetis berdasar apa yang dirasakan dari karya seni di depannya. Tubuh penonton memang tidak langsung ”ada” di dalam nunasa karya seni selayaknya interaksi langsung.

Komunikasi seperti ini masih menjalin interaksi estetis. Merleau Ponty melalui teori kebertubuhan manusia mengatakan bahwa tubuh dan segenap kebertubuhan adalah cara kita berkomunikasi dengan waktu dan ruang. Artinya tubuh kita menyediakan persepsi di dalam ruang dan waktu mana pun, bisa jadi di dalam ruang virtual sekalipun.

Begitu juga pada aspek karya seni, terutama seni pertunjukan, yang sangat terikat dengan ruang dan waktu. Seniman melalui karya dapat berekspresi dalam ruang dan waktu selama kebertubuhannya masih menjadi medium ekspresi, selayaknya pemikiran Ponty bahwa tubuh kita sesungguhnya adalah asal mula dari semua ruang ekspresif.

Di sini kita dapat merujuk teori Merleau Ponty setidaknya untuk mengurai problem pada seni virtual yang menihilkan interaksi langsung antara karya dan penonton. Terlepas dari perdebatan, di balik pandemi yang belum berakhir, geliat kolektif seni di banyak wilayah justru semakin tampak dan terasa dampaknya.

Praktik kesenian dalam medium baru ini memberi tekanan pada nilai solidaritas, membangun kesadaran untuk tetap berpegang pada nilai humanisme selama pandemi, sehingga diharapkan praktik kesenian tidak menjadi sesuatu yang eksklusif, tapi melebur bersama gerakan sosial masyarakat.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom