Ilustrasi larangan merokok. (Reuters)

Solopos.com, SURABAYA -- Pemerintah Kota Surabaya melengkapi semua puskesmasnya dengan klinik berhenti merokok. Klinik ini untuk memfasilitasi warga yang ingin lepas dari kecanduan merokok.

Klini berhenti merokok sudah diadakan sejak akhir 2017. Di klinik tersebut disiapkan seorang psikolog untuk melakukan hipnoterapi atau SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique).

"Dengan terapi SEFT agar berhenti merokok, ada titik-titik dari bagian tubuh yang dipijit," ujar Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Febria Rachmanita, di Surabaya, Kamis (5/12/2019) seperti dilansir Antara.

Keberadaan klinik tersebut ternyata mendapat respons positif dari masyarakan. Febria mengklaim banyak warga yang memanfaatkan terapi tersebut. Hasilnya, banyak pula masyarakat yang terbebas dari kebiasaan merokok seusai menjalani terapi tersebut.

"Memang ada yang sampai berhenti, tidak merokok lagi," katanya.

Klinik berhenti merokok menindaklanjuti Perda No. 5 Tahun 2008 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan Kawasan Terbatas Merokok (KTM) yang telah direvisi menjadi Perda Nomor 2 Tahun 2019 tentang Kawasan Tanpa Rokok.

Perda tersebut untuk melindungi kesehatan masyarakat dari bahaya merokok. Selain peraturan, Dinas Kesehatan juga menyediakan solusi konkret dengan membuka klinik berhenti merokok.

Febria mengakui tidak mudah untuk berhenti merokok. Apalagi, jika kebiasaan merokok sudah berlangsung lama. Untuk berhenti dari kebiasaan merokok memang membutuhkan kemauan yang kuat.

"Karena berkaitan dengan psikologis, kalau tidak berhasil itu berarti kemauannya tidak begitu kuat," ujarnya.

Menurut Febria, biasanya dorongan ingin merokok adalah karena ingin menghilangkan stres. Namun, dampak negatifnya bisa menderita berbagai penyakit, seperti paru-par dan kemudian stroke.

"Untuk berhenti merokok, selain warga datang ke puskesmas, petugas juga bisa berkunjung ke kantor, jika ada permintaan," katanya.

Sumber: Antara


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten