Sempat Mandek Diterpa Pandemi, Usaha Anyaman Kulit di Jogonalan Klaten Bangkit Lagi
Karyawan beraktivitas di home industry anyaman kulit di Karangdukuh, Jogonalan, Klaten, Senin (18/1/2021). (Solopos-Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN -- Usaha anyaman kulit di Karangdukuh, Kecamatan Jogonalan, Klaten, Jawa Tengah, mulai bergeliat di tengah pandemi Covid-19. Produksi anyaman kulit tersebut berkualitas ekspor dan digandrungi warga Benua Eropa, Amerika, dan Asia.

Pemilik usaha anyaman kulit Akar Rumput Leather alias AR-Le 2010, Arie Supriyanto, mengatakan usaha anyaman kulit yang digelutinya sejak 2010 sempat angin-anginan selama pandemi Covid-19.

Sejak Februari 2020-Oktober 2020, usaha yang digelutinya mandek total karena dampak Covid-19.

Pasang Behel Tak Boleh Asal, Ini Tahapannya...

Sejumlah negara di luar negeri yang biasa membeli produk AR-Le 2010 tak lagi memesan karena diterpa pandemi. Produk AR-Le 2010 berupa tas kulit, dompet kulit, furnitur yang dilengkapi bahan kulit, dan aksesori kulit lainnya.

"Sebagai supplier, kami benar-benar berhenti usaha selama kurang lebih delapan bulan. Di bulan ke-11 tahun 2020, mulai ada order. Saat ini juga sudah mulai ada order, tapi intensitasnya belum seberapa dibandingkan sebelum ada Covid-19. Jika dulu kami bisa mengirim enam kontainer, saat ini masih di angka dua kontainer. Omzet sebulan sekarang senilai Rp150 juta. Masih kecil jika dibandingkan sebelumnya, Rp200 juta per bulan," kata Arie Supriyanto, saat ditemui wartawan di Karangdukuh, Kecamatan Jogonalan, Senin (18/1/2021).

Rekanan Mengekspor Barang

Arie Supriyanto mengatakan usaha yang digelutinya masih bertaraf home industry. Usaha tersebut guna melayani sejumlah pabrik yang memiliki jalur ekspor ke luar negeri.

"Jadi kami ini baru supplier ke rekanan kami yang bisa mengekspor barang. Kami berharap, semoga Covid-19 segera hilang dan usaha kami bisa berjalan normal kembali," katanya.

Sejarah Hari Ini: 19 Januari 1795 Republik Batavia Diproklamirkan

Salah seorang karyawan di AR-Le 2010, Purwadi, mengatakan usaha home industry menjadi tumpuan puluhan puluhan karyawan di Karangdukuh dan sekitarnya. Total karyawan di home industry itu kurang lebih sebanyak 40 orang.

"Lantaran macet begitu ada pandemi Covid-19 itu, banyak karyawan yang dirumahkan. Saat ini masih 15 orang. Kami berharap, usaha ini bisa konsisten lagi meski di tengah pandemi Covid-19. Agar seluruh karyawan bisa bekerja lagi seperti sedia kala. Di sini memang spesialis kulit sapi dan kambing," katanya.

Mobil Listrik Renault Twizy Mulai Dijual di Toko Online Indonesia



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom