Semangat Diaspora Menjaga Kearifan Lokal Jawa di Manca Negara
Forum group discussion (FGD) Ngobrol Bareng Diaspora Pandemi dan Jawa, Kamis (3/12/2020).

Solopos.com, SOLO--Pandemi Covid-19 yang melanda dunia bisa disikapi dengan kearifan lokal termasuk dalam ranah budaya Jawa. Sejatinya di jagad Jawa sudah lama mengenal istilah pandemi dengan nama pagebluk. Pagebluk adalah penyakit menular dengan cepat yang mencakup atau terjadi di wilayah luas.

"Pagi terkena malam meninggal, siang kena malam meninggal, bahkan malam kena malam itu juga meninggal. Jadi menakutkan sekali. Pagebluk juga di cerita-cerita wayang, contohnya Semar Kuning dan Wahyu Tejo Mulya.Manuskrip Jawa Kuno juga menyebutkan bahwa di Jawa pernah ada pagebluk seperti itu yangharus ditanggung oleh masyarakat luas tidak hanya orang Jawa," ujar Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Prof. Sahid Teguh Widodo, M.Hum, Ph.D.

Hal itu diungkapkan Sahid dalam forum group discussion (FGD) virtual yang digelar Solopos melalui chanel Youtube, Kamis (3/12/2020) bertema Ngobrol Bareng Diaspora Pandemi dan Jawa. Acara yang didukung oleh Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 itu dipandu oleh Redaktur Solopos, Ichwan Prasetyo.

Kepala Pusat Unggulan Iptek Javanologi UNS ini menjelaskan pada tahun 1905 dan 1921 ada pagebluk pes dan kolera. Serat Centini mengisahkan pada saat itu desa-desa ditutup menggunakan gedek atau dinding yang terbuat dari anyaman bambu.

Orang tidak bisa keluar atau di-lockdown istilahnya sekarang. Dibatasi jaraknya, tidak boleh keluar dari rumah atau keluar masuk desa. Sejatinya karena ada banyak pagebluk di tanah Jawa, banyak laut, banyak gunung, banyak kampung-kampung yang padat penduduknya sehingga melahirkan kitab-kitab Jawa kuno yang mengulas tentang jamu. bagaimana caranya agar pagebluk itu bisa hilang.

"Dalam Serat Kagungan Dalem buku Racikan Jampi-Jampi Jawi, Serat Kawruh Jampi Jawi, tentang sakit beri-beri, dan lain sebagainya. Saat ini buku-buku tersebut sedang dipelajari oleh Javanologi UNS. Terutama Serat Centini yang dibuat pada masa jumenengan noto Paku Buwono IV-V, sedang ditulis teman-teman untuk membuat buku resep dan sebagianya," ujar Sahid.

Belanja Tanaman Hias Secara Online, Yuk Perhatikan Tips Berikut

Sabar dan Ikhlas

Jagad Jawa juga mengenal rekayasa sosial atau social engineering yang saat ini termasuk ilmu baru. Padahal nenek moyang dahulu kala sudah melakukannya meski berbeda dengan era sekarang.

Masyarakat Jawa waktu itu menggunakan simbol-simbol atau lambang-lambang misalnya rekayasa sosial di dalam bahasa Sastra. Maka saat ini kita mengenal nenek moyang kita punya mantra, cerita rakyat, kitab-kitab mujarabat, dan sebagainya itu sebenarnya adalah wujud untuk mencurahkan ilmu karena waktu itu tidak bisa bebas karena dikungkung oleh penjajah Belanda.

Kemudian lambang-lambang dalam busana dan benda lainnya misalnya ada busana kematian, busana untuk hajatan, semua ada aturannya masing-masing. Bendera merah, kuning, dan putih sebagai tanda duka cita. Kemudian lewat kesenian yang berisi pesan agar kita bisa terhindar dari pagebluk lewat tarian, tembang hingga bersih desa. ada juga tradisi upacara seperti siraman, slametan, grebeg yang bertujuan membersihkan bencana di dunia.

Pranata sosial merupakan spirit Jawa yang diwujudkan dalam sikap tolong menolong hingga gotong royong namun sekarang sudah mulai luntur. Dalam menghadapi pagebluk, menurut Sahid, masyarakat Jawa juga memiliki strategi budaya (cultural strategy). Yang pertama orang Jawa percaya bahwa sesuatu yang berasal dari alam nanti akan kembali ke alam. Jadi tidak mungkin pandemi akan membuat manusia musnah.

Oleh karena itu kita harus sabar, tawakal, dan ikhlas untuk menghadapinya. Kedua, jangan tergesa-gesa, karena nanti semua bakal hilang sendiri. Jadi manusia itu tidak bisa mengatur alam, manusia adalah bagian dari alam yang hanya bisa memayu hayuning alam.

"Jadi hati kita harus senang, duduk bersimpuh dan memasrahkan diri kepada meminta kepada Yang Pencipta agar pandemi cepat berakhir,"ujar Sahid.

Kampanye pemerintah tentang 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak) juga termasuk rekayasa sosial dalam budaya Jawa. Menurut Sahid, ilmu Jawa mengajarkan agar tangannya harus bersih supaya tidak melakukan kesalahan. Mulut juga harus dijaga agar tidak banyak bicara yang sabar dan jangan sampai berbicara jelek terkait pandemi. Menjaga jarak juga bertujuan agar kita tidak melakukan hal-hal yang tidak berdasar.

Siklus Ketiga di Malaysia

Prof Sukiman Sarmani diaspora di Malaysia memberikan gambaran pandemi di Malaysia memasuki siklus yang ketiga. Sejak Maret hingga saat ini tercatat 60.000 lebih kasus Covid-19 di Malaysia, dengan kasus harian sekitar 900- 1000 kasus.

Menurut Sukiman, orang Jawa di Malaysia selalu menurut dan mudah diatur oleh pemerintah yang mengeluarkan SOP (standard operating procedure) seperti memakai masker, sering mencuci tangan, hingga menghindari keramaian. Bahkan masjid-masjid dan musala di Selangor ditutup kemungkinan hingga tahun baru.

"Di kawasan green zone sudah dibuka tapi di Selangor dan Kuala Lumpur masih ditutup. Pemerintah menggunakan pendekatan melalui agama agar warga bisa menerima,"ujar Sukiman.

Selain itu orang-orang Jawa di Malaysia juga meminum jamu dan obat tujuannya bukan untuk mengobati, tapi untuk meningkatkan imunitas. Jamu-jamu yang dikonsumsi dibuat dari bahan-bahan alami seperti jamu beras kencur, kunyit, asem, dan jamu dari akar-akar tanaman.

Semetara itu, Jakiem Asmowidjojo diaspora di Belanda mengungkapkan bahwa terdapat 33.949 kasus Covid-19 di negara itu yang mengakibatkan 406 orang meninggal. Sementara data hingga 2 Desember 2020 tercatat ada 4.942 terkonfirmasi positif.

Tidak ada larangan ke luar rumah, tapi bila keluar rumah seperti ke toko, restoran, museum harus memakai masker."Seperti saya yang sudah berumur 70 tahun juga harus lebih hati-hati dan tetap menjaga kesehatan. Kalau jamu, saya mengonsumi curcuma instan," ujar Jakim.

Jam Malam di Suriname

Sementara itu diaspora di Suriname, Moreno Sastromedjo mengisahkan bahwa kali pertama Covid-19 masuk ke sana semua warga juga takut. Saat ini pemerintah Suriname memberlakukan jam malam yang melarang warga untuk tidak keluar pada pukul 23.00 hingga pukul 05.00 pagi. Warga juga tidak boleh berkumpul lebih dari 30 orang.

Hingga awal Desember 2020 sudah ada turun. Dijelaskan Moreno, saat ini di Suriname mencatat 5.319 kasus yang sudah sembuh 5.197 orang dan 117 orang meninggal dunia. Kasus harian orang yang tertular relatif sedikit tak mencapai 10 orang. "Orang Suriname taat peraturan pemerintah. Bagi yang tidak taat dan keluar rumah di atas jam 11 siang akan ditangkap dan boleh pulang setelah jam 5 pagi," ujarnya.

Di masa pandemi saat ini, warga Suriname juga lebih memilih menggunakan transportasi pribadi dibandingkan transportasi umum sehingga menimbulkan kemacetan lalu lintas.

Tetap Sehat Meski Di Depan Komputer Sepanjang Hari, Yuk Terapkan 4 Kiat Ini

Denda bagi yang Ngenyel

Dari Polandia, diaspora asal Wonogiri, Tresya Yuliana mengatakan tidak ada lockdown atau pun jam malam. Tidak ada kemacetan dan transportasi umum terutama kereta api relatif sepi karena ada kebijakan pengurangan penumpang dan semua orang wajib memakai masker.

"Tapi kalau soal orang yang ngenyel [membangkang] itu juga ada di mana-mana. Menurut saya itu masalah pendidikan. Hal itu terkait bagaimana orang menyadari keadaan diri sendiri, kedaaan orang lain, dan sekitarnya,"ujarnya.

Menurut ahli pendidikan asal Amerika, lanjut Tresya, seseorang yang bisa melakukan hal tersebut adalah orang yang pintar jadi melakukan sesuatu tidak hanya dipikir tapi juga dirasakan.

Sementara terkait data kasus Covid-19, di Polandia yang berpendudukan sekitar 40 juta pada November jumlahnya berkisar antara 16.000-17.000 kasus. "Ibu mertua dan kakak ipar saya juga kena, tapi hanya isolasi di rumah. Ini  bisa dimaklumi karena ibu mertua saya kerja di klinik dan kakak ipar saya adalah polisi yang bertugas mengecek orang-orang di karantina," ujar Tresya.

Diceritakan Tresya, jika ada orang yang sedang dikarantina tapi keluar pergi jalan-jalan ke toko atau lainnya, dia akan didenda hingga Rp100 juta. Berbeda dengan penanganan jenazah korban Covid-19 di Indonesia yang ditangani pihak rumah sakit, menurut Tresya penanganna jenazah Covid-19 di Polandia diserahkan kepada keluarga. Sehingga tak heran, jumlah kasusnya meningkat tajam.

Soal 3M menurut Tresya adalah kebijakan global yang tidak bisa dinegosiasi. Terkait kearifan lokal dari Wonogiri yang masih dibawanya ke Polandia adalah mengonsumsi jamu.

"Saya sekarang minum kunyit dan tumbar. Aku juga mencoba daun kelor. Daun kelor itu luar biasa. Saya juga suka minum kopi yang dicampur rempah-rempah seperti jinten. Jinten itu bagus untuk perempuan untuk mengontrol berat badan, jadi saya merasa lebih langsing," ujar Tresya sambil tertawa.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom