Selama Pandemi, TPS Liar Kian Bermunculan di Klaten

Keberadaan TPS liar di Klaten tersebut dinilai akan menjadi bom waktu yang akan meledak di tengah masyarakat di waktu mendatang.

 (Espos/Ponco Suseno)

SOLOPOS.COM - (Espos/Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN — Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar kian bermunculan di Klaten selama pandemi Covid-19.

Keberadaan TPS liar tersebut dinilai akan menjadi bom waktu yang akan meledak di tengah masyarakat di waktu mendatang.

Kepala Bidang (Kabid) Kebersihan dan Pertamanan Dinas Pekerjaan Umun dan Penataan Ruang (DPU PR) Klaten, Himawan Pamungkas, mengatakan di setiap kecamatan di Kabupaten Bersinar telah muncul TPS liar.

Baca Juga: PENGELOLAAN SAMPAH KLATEN: Mangkrak, BPD Sumberejo Klaten Kaji Bank Sampah

Jika dikumpulkan, sampah di TPS liar yang tersebar di 26 kecamatan di Klaten itu diperkirakan mencapai lebih dari satu ton per hari.

“Di tengah pandemi Covid-19 ini, pelayanan sampah kami masih sama dengan di waktu sebelumnya [sebelum pandemi Covid-19]. Volume sampah di Klaten setiap harinya mencapai kurang lebih delapan ton,” kata Himawan Pamungkas, saat ditemui wartawan di kantornya, Selasa (28/9/2021).

Munculnya TPS liar itu, kata Himawan, mendakankan kesadaran masyarakat untuk peduli dengan kebersihan lingkungan masih rendah.

Baca Juga: Inilah Data Komunitas Pembudidaya Maggot Si Pemakan Sampah Organik di Klaten

Himawan Pamungkas mengatakan keberadaan TPS liar itu telah mengganggu kenyamanan masyarakat. Selain menimbulkan bau tak sedap, sampah bisa berserakan kemana-mana.

“TPS liar ini tak hanya di kawasan perdesaan atau pinggiran. Tapi juga muncul di kawasan perkotaan. Sering kali kan ada warga pergi kerja sambil nenteng plastik berisi sampah,” kata Himawan.

Sampah dalam plastik itu, kata Himawan, kemudian dibuang begitu saja di pinggir jalan. Lama-lama, terbentuk pola pikir masyarakat terkait cara buang sampah yang tidap patut dicontoh. “Untuk membangun kesadaran masyarakat ini perlu didukung seluruh elemen masyarakat,” katanya.

Baca Juga: Budidaya Maggot Si Pemakan Sampah Organik Marak di Klaten, Ini Kendala yang Sering Muncul

Selain proaktif masyarakat dalam mencegah membuang sampah sembarangan, lanjut Himawan Pamungkas, budaya membuang sampah ke TPS liar dapat dicegah dengan memberikan sanksi ke pembuang sampah sembarangan.

Cara itu dapat dilakukan di setiap pemerintah desa (pemdes) dengan membikin peraturan desa (perdes).

“Buang sampah itu jelas melanggar Perda K3 (ketertiban, keindahan, dan kebersihan). Tapi di desa bisa juga membikin perdes. Tanpa diberikan sanksi/denda, sulit mengatur agar tak ada lagi warga yang membuang sampah sembarangan,” katanya.

Baca Juga: Budidaya Maggot Si Pemakan Sampah Organik Menguntungkan! Pakan Gratis, Harga Jual Rp55.000 per Kg

Himawan Pamungkas mengatakan persoalan sampah perlu ditangani secara bersama-sama dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Dengan demikian, sampah bisa dikelola agar menjadi berkah di tengah masyarakat.

“Jika melihat sampah liar di TPS liar itu, kami juga serba salah. Jika kami angkut, nanti masyarakat akan nggampangke dengan membuang sampah di TPS liar itu. Jika dibiarkan, tentu juga muncul masalah. Peran serta di setiap pemangku wilayah juga sangat diharapkan. Sekarang ini memang sudah ada maggot yang dimaksimalkan mengurai sampah. Tapi, persentasenya masih kecil,” katanya.

Sebelumnya, Sekretaris Forum Komunikasi Maggot Klaten (FKMK), Ahmad Mujahid, mengatakan budidaya maggot telah menjamur di Klaten dalam satu tahun terakhir.

Baca Juga: Warga Gempol Klaten Raup Jutaan Rupiah dari Usaha Maggot, Masalah Sampah Pun Kelar

Budidaya maggot diharapkan dapat terus dikembangkan karena dinilai dapat menjadi solusi efektif menangani sampah organik di Kabupaten Bersinar.

Komunitas budidaya maggot di Klaten tersebar di Kecamatan Tulung, Kecamatan Polanharjo, Kecamatan Ceper, Kecamatan Karanganom, Kecamatan Delanggu, Kecamatan Jatinom, Kecamatan Klaten Tengah, Kecamatan Klaten Selatan, Kecamatan Klaten Utara.

“Keberadaan pembudidaya maggot ini berkontribusi dalam menangani masalah sampah organik. Soalnya, maggot dapat mengurai sampah dengan cepat,” kata Ahmad Mujahid.


Berita Terkait

Berita Terkini

Mi Seblak Ada di Tambongwetan Klaten, Rasa Kencurnya Menggugah Selera

Mi seblak bikinan Teh Nita dinilai sangat kuat dengan citarasa ala Jawa Barat (Jabar), yakni kuat dengan resep kencurnya.

Boyolali Genjot Vaksinasi Pelajar, Berharap PTM Digelar Penuh

Cakupan vaksinasi di Kabupaten Boyolali berdasarkan data kartu tanda penduduk (KTP) mencapai 80,14 persen.

DLH Boyolali Dorong Penanganan Sampah Rampung di RT

RT bisa mengelola sampah melalui bank sampah atau membikin galian kecil yang biasa disebut jugangan untuk menampung sampah organik.

9.000 PKL dan Warung di Wonogiri Dapat Bantuan Rp10,8 Miliar

Polres Wonogiri dan Kodim 0728/Wonogiri menjamin penyaluran bantuan senilai Rp1,2 juta/penerima itu tepat sasaran.

Dana Insentif Pemkot Solo Anjlok, dari Rp78 Miliar Jadi Rp21 Miliar

Dana insentif daerah (DID) yang diterima Pemkot Solo sebagai bentuk penghargaan atas raihan opini WTP tahun ini malah anjlok drastis.

Anggota Tikus Pithi Se-Jawa Dilatih Jurnalistik oleh Solopos Institute

Puluhan anggota Tikus Pithi Hanata Baris dari sejumlah wilayah di Jawa mengikuti pelatihan jurnalistik bersama Solopos Institute di Solo.

Kebakaran di Klandungan Sragen Menimpa Dapur Rumah Warga

Kebakaran yang terjadi di Desa Klandungan, Kecamatan Ngrampal Sragen, menimpa dapur warga yang berdekatan dengan lokasi penyimpanan jerami. Kerugian ditaksir Rp10 juta.

SGS 2021 Jadi Harapan Pusat Perbelanjaan Solo untuk Dongkrak Transaksi

Pengelola pusat perbelanjaan di Kota Solo sangat berharap para event Solo Great Sale atau SGS 2021 bisa mendongkrak jumlah kunjungan dan transaksi di mal.

Peralihan Musim, BMKG Jateng: Waspadai Puting Beliung di Soloraya!

BMKG Jateng mengimbau warga wilayah Soloraya termasuk Sukoharjo untuk mewaspadai potensi bencana angin kencang saat peralihan musim kemarau penghujan.

Picu Kerumunan, Padang Rumput Tegalharjo Wonogiri Ditutup

Padang rumput luas di wilayah Desa Tegalharjo ini ramai dikunjungi warga setelah viral di media sosial Instagram.

Hujan Abu Tipis di Selo Boyolali, Aktivitas Warga Tetap Normal

Gunung Merapi mengeluarkan awan panas pada Selasa malam pukul 19.41 dan 19.48 WIB.

11 Siswanya Terpapar Covid-19, Ini Penjelasan Kepala SMPN 8 Solo

Klaster penularan Covid-19 di sekolah yang menggelar PTM di Solo meluas ke jenjang SMP, yakni SMPN 8 dan SMPN 4 dengan total 12 siswa positif.

Tangkarkan Benih Padi, Pria Asal Kajen Klaten Raup Omzet Rp1 M/Tahun

Dalam setahun, omzet yang diperoleh Suwono, 70, bisa mencapai Rp1 miliar dengan pendapatan bersih sekitar Rp500 juta.

Awas Nabrak Lur! Ada Tiang Listrik di Tengah Jalan Depan TSTJ Solo

Warga berharap tiang listrik di tengah jalan depan objek TSTJ, Jebres, Solo, bisa digeser ke tepi jalan agar tidak membahayakan pengguna jalan.

Wagub Jateng Dorong Adanya Wisata Halal di Tawangmangu, Ini Maksudnya

Wagub Jateng, Taj Yasin Maimoen, mendorong wisata halal di Tawangmangu untuk membidik wisatawan dari negara muslim.