Tutup Iklan
Sekolahan Menuju Skema Kenormalan
Astrid Widayani (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Akhir-akhir ini digelar banyak seminar dalam jaringan (daring) atau online atau webinar mengenai persiapan berbagai elemen di sektor pendidikan menghadapi kondisi kenormalan di tengah pandemi Covid-19 yang belum selesai.

Berbagai persiapan dilakukan pengelola sekolahan dan pengambil kebijakan terkait dengan tetap memerhatikan protokol kesehatan untuk mencegah persebaran Covid-19. Banyak pihak yang merasa belum siap memulai kegiatan belajar mengajar secara normal sebagaimana sebelum ada pandemi Covid-19.

Mereka mempertimbangkan risiko persebaran virus corona tipe baru penyebab Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 seperti yang terjadi di beberapa negara lain yang telah terlebih dahulu membuka sekolahan dan kemudian menghadapi gelombang baru persebaran Covid-19.

Istilah new normal atau kenormalan baru pada awalnya digunakan dalam menyikapi perubahan ekonomi yang terjadi pascapandemi atau pascakrisis. Maknanya adalah sebuah upaya menormalkan lagi kondisi perekonomian yang sempat tidak seimbang karena adanya perubahan drastis pada supply (penawaran) dan demand (permintaan) di pasar.

Dalam dunia pendidikan maupun bidang lainnya, new normal didefinisikan sebagai skema perubahan yang terjadi serta menggantikan keadaan sesuai yang diharapkan untuk bisa menjadi sebuah kenormalan atau kebiasaan yang baru.

Sekolahan dan perguruan tinggi sebagai lembaga formal penyelenggara pendidikan memiliki otonomi dalam menentukan proses penyelenggaraan kegiatan belajar dan mengajar sehingga dapat berlangsung sesuai dengan kebutuhan masing-masing supaya hasilnya efektif dan efisien.

Hal yang mendasar dalam menyambut  new normal adalah bagaimana pengelola sekolah menyiapkan tahapan yang jelas agar bisa melaksanakan transformasi dengan baik. Bukan dengan langsung membuka sekolahan lalu menyelenggarakan kegiatan dengan kenormalan baru.

Pengelola sekolah perlu menyiapkan perencanaan bertahap mulai dari jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Pemerintah saat ini masih mengkaji kebijakan pemberlakuan new normal dengan menerbitkan panduan prosedur yang baru.

Salah satu yang menjadi kajian adalah tentang pemberlakuan aturan hanya sekolahan atau perguruan tinggi di wilayah yang berstatus zona hijau—kawasan yang telah bebas dari persebaran Covid-19--yang bisa memulai proses belajar mengajar dengan sistem tatap muka.

Sebaiknya ada pengecualian bagi siswa atau mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir karena harus melakukan penelitian, termasuk akses ke perpustakaan maupum ke laboratorium untuk praktik.

Berkaca pada negara lain yang telah membuka lagi sekolahan dengan skema new normal, hampir semua menerapkan prosedur dan  tahapan yang jelas dan terperinci. Saya merangkum tahapan ini didasarkan pada tiga L sebagai komponen utama.

Tiga L tersebut adalah learning delivery, lifestyle, dan limitation. Learning delivery atau teknik penyampaian materi mengacu pada tahapan baru tatap muka dengan blended learning. Sebagian siswa mulai menjalani kegiatan tatap muka di kelas dengan guru, namun sebagian materi masih disampaikan secara daring.

Lifestyle atau gaya hidup baru dalam konteks ini adalah tetap mengacu pada protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19 serta pola hidup bersih dan sehat atau PHBS. Pengelola sekolah sebaiknya menyiapkan semua standar baru mengenai prosedur kesehatan maupun kebersihan di lingkungan sekolahan.

Limitation atau pembatasan sebagai komponen terakhir artinya sebagai pembatasan waktu, jumlah peserta, atau jarak dalam kelas. Pembatasan waktu bisa digunakan dalam konsep jam pelajaran tatap muka atau pembatasan waktu bertahap dalam memulai kegiatan operasional di sekolahan.

Pembatasan jumlah peserta didik bisa menggunakan teknik penjadwalan (scheduling). Pembatasan jarak adalah penataan tata ruang kelas dan sekolahan sesuai dengan protokol kesehatan yang dianjurkan untuk mencegah persebaran Covid-19.

Kapan pola pembelajaran secara langsung atau tatap muka bisa dimulai? Jawaban bisa diberikan oleh orang tua siswa, pengelola institusi pendidikan, dan pemerintah sebagai pemegang wewenang merumuskan dan memberlakukan kebijakan.

Ketika era new normal mulai diberlakukan, yang terpenting bukanlah kapan siswa atau mahasiswa bisa mulai belajar di sekolahan atau di kampus, tapi bagaimana menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif dengan pembelajaran baru dengan media teknologi serta proses pendidikan yang interaktif dan kolaboratif.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Pasang Baliho