Opik Mahendra/Istimewa

Solopos.com, SOLO--Program vokasi yang gencar diimplementasikan berbagai instansi masih berjalan sendiri-sendiri dengan ego sektoral masing-masing. Dari sekian banyak program vokasi tidak terlihat yang mengurusi demand, semua mengurusi supply dengan pelatihan.

Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2018) menunjukkan jumlah SMK di Indonesia 14.217 sekolahan yang terdiri dari 3.566 SMK negeri dan 10.651 SMK Swasta. Sebanyak 74,9% SMK berada dalam tata kelola pihak swasta. Hanya 25,1% SMK yang berstatus negeri.

Peningkatan kuantitas dan kualitas SMK diharapkan membuat proses pengajaran di sekolah kejuruan mengikuti tren dan teknologi terbaru serta tersedia sarana dan prasarana praktikum yang terbaik.

Pertanian sebagai sektor yang mempunyai andil yang vital bagi Indonesia berkontribusi 13,6% atau sekitar US$136 miliar pada produk domestik bruto Indonesia. Dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018 yang dilaksanakan Badan Pusat Statistik didapatkan data petani miskin di Indonesia sebanyak 13,1%.

Dari hasil survei pertanian pada 2018 didapatkan data jumlah petani guram meningkat 10,95% dari 14.248.864 jiwa pada 2013 menjadi 15.809.398 jiwa pada 2018. Regenerasi petani menjadi penting karena semakin sedikit jumlah penduduk yang bekerja di sektor ini.

Bukan tidak mungkin pekerjaan ini semakin ditinggalkan karena dianggap tak menjanjikan. Pembangunan pertanian yang belum berkembang secara revolusioner ternyata berhadapan dengan era revolusi industri 4.0. Pada era ini, teknologi menjadi hal yang mempermudah aspek-aspek kehidupan manusia.

Perkembangan-perkembangan tersebut telah sampai pada tahap yang lebih jauh, seperti artificial intelligence, Internet of things, nanotechnology, dan 3D printing yang membawa manusia pada teknologi mutakhir. Dalam menjawab tantangan revolusi industri 4.0, seharusnya dikembangkan sekolah-sekolah yang melaksanakan zonasi kurikulum pembelajaran. Artinya, pelajaran di sekolah merupakan ekspresi solusi problem, tantangan, serta potensi di sekitar lingkungan sekolahan.

Tenaga Terampil

Salah satu lembaga pendidikan yang dapat mengimplementasikan adalah lembaga pendidikan vokasi atau SMK berbasis pertanian. Pada 2040 Indonesia akan memiliki 195 juta penduduk usia produktif dan 60% penduduk usia muda pada 2045 harus dikelola dengan baik agar menjadi bonus demografi, bukan beban demografi.

Dengan jumlah angkatan kerja sebanyak itu dan tantangan persaingan ekonomi dunia, kalau sumber daya manusia tidak dipersiapkan secara matang, kita akan tertinggal. Diperkirakan setiap tahun butuh tenaga terampil lima juta orang.

Artinya dalam kurun waktu 15 tahun ke depan dibutuhkan sekitar 75 juta tenaga kerja dengan keterampilan. Untuk menjadi negara maju, dengan kekuatan sumber daya manusia yang terampil, strateginya adalah menguatkan pendidikan kejuruan.

Pembenahan kurikulum pendidikan pertanian harus menjadi poin utama. Kurikulum merupakan roh (core of the core) sekaligus visi pendidikan. Kurikulum harus dirancang dengan survei dan kajian yang mendalam, tertata rapi, dan adaptif dengan perkembangan dunia pertanian.

Dalam pendidikan pertanian perlu dipelajari kiat-kiat kewirausahaan (entrepreneurship) khususnya di bidang pertanian, seperti mental produktif, kreatif, inovatif, tekun, gigih, pantang menyerah, dan menggunakan teknologi secara efektif dan efisien.

Jiwa enterpreunership penting mengingat dunia pertanian berbeda dengan lapangan pekerjaan di bidang industri atau perkantoran. Menurut Pavlova (2009), konsep pendidikan bekerja merupakan pendidikan yang didasarkan pada tiga komponen yang saling terkait, yaitu pembelajaran untuk bekerja (learning for work), pembelajaran tentang bekerja (learning about work), dan pemahaman sifat dasar bekerja (understanding the nature of work).

UU No. 20/2003 menjelaskan pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu, sedangkan pendidikan tinggi kejuruan merupakan pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal setara dengan program sarjana.

Pendidikan kejuruan merupakan jenjang pendidikan yang selalu dinamis dengan pertumbuhan pasar kerja dan beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan kejuruan selalu mengalami pergeseran orientasi, disesuaikan perubahan teknologi yang cepat pada masa mendatang.

Menjawab Tantangan

Orientasi pendidikan kejuruan diarahkan pada pendidikan bekerja (work education) atau pendidikan teknologi (technology education) yang selalu dinamis. Pendidikan kejuruan mempersiapkan peserta didik bekerja dengan menggunakan pendekatan pendidikan berbasis kompetensi.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) 2018, pendidikan menengah--SMA dan SMK--menjadi kontributor utama tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 9,84 %. Perbaikan sistem pendidikan perlu dilakukan melalui revitalisasi pendidikan vokasi dan peningkatan keterampilan pencari kerja dan pekerja.

Pemilihan sektor-sektor prioritas didasarkan pada kebutuhan dominan para pencari kerja dan sektor yang menjadi unggulan pada pertumbuhan ekonomi Indonesia mendatang, antara lain sektor pertanian sebagai sektor penopang negara

Dalam Inpres No. 9/2016, ada penegasan perlunya revitalisasi SMK untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Inpres tersebut menugaskan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membuat peta jalan pengembangan SMK serta menyempurnakan dan menyelaraskan kurikulum SMK dengan kompetensi sesuai pengguna lulusan (link and match).

Berdasarkan data BPS (2013), jumlah petani muda (usia 25 tahunm-35 tahun) 3.129.644 orang sedangkan pada kelompok usia 15 tahun-24 tahun hanya 229.943 orang. Jika diringkas, 60,8 % petani di Indonesia berada dalam usia di atas 45 tahun atau dalam usia yang produktivitasnya sudah menurun cukup drastis.

Kondisi ini dalam konteks pembangunan sering dilihat dari perspektif penurunan jumlah petani merupakan kemajuan karena semakin sedikit jumlah petani, semakin efisien proses budi daya. Pada era milenial, petani dituntut meningkatkan kualitas hasil pertaniannya agar bisa bersaing dengan produk pertanian impor.

Hasil produksi petani tergantung spesifikasi lokasi yang berhubungan dengan cuaca, kondisi tanah, dan kondisi alam lainnya. Stigma sektor pertanian adalah low prestige, low reward, dan kotor membuat generasi muda enggan masuk sektor tersebut. Anggapan sebagian besar masyarakat bahwa masuk pendidikan vokasi seolah-olah pendidikan kelas dua harus terus dikikis.

Penting perubahan paradigma mengenai pendidikan vokasi untuk menarik masyarakat. Ide penyesuaian antara keterampilan SMK dan potensi suatu daerah menjadi solusi logis hari ini.

Jika sistem ini diterapkan, pemerintah daerah harus paham benar potensi daerah. Pengembangan SMK di daerah tersebut fokus pada pengembangan keterampilan yang sesuai potensi daerah


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten