Kompleks sekolah terpadu milik Yayasan Hidayah Klaten di Dukuh/Desa Ngawen, Kecamatan Ngawen, masuk dalam rencana ruas jalan proyek tol Solo-Jogja. (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN -- Kompleks sekolah milik Yayasan Hidayah Klaten di Dukuh/Desa Ngawen, Klaten, masuk kawasan yang bakal terdampak rencana proyek https://soloraya.solopos.com/read/20190212/493/971392/tol-solo-jogja-diharapkan-tak-sampai-merusak-sumber-air-di-klaten" title="Tol Solo-Jogja Diharapkan Tak Sampai Merusak Sumber Air di Klaten">tol Solo-Jogja. Pengelola sekolah meminta ada sekolah pengganti jika benar-benar tergusur proyek tol.

Kompleks sekolah tersebut bersebelahan dengan areal persawahan di wilayah Dukuh Ngawen. Sekolah yang berdiri di lahan seluas 6.000 meter persegi itu memiliki hampir 50 ruang kelas terdiri atas jenjang SD IT, SMPIT, SMAIT, serta pondok putri dengan jumlah total murid mencapai 1.020 orang.

Kepala SMAIT Hidayah Klaten, Wasis Pambudi, mengatakan sekolahnya berdiri sekitar 2008 lalu. Pembangunan dilakukan bertahap, bahkan gedung berlantai dua di sisi utara sekolah setempat belum lama ini rampung dibangun.

Soal rencanahttps://soloraya.solopos.com/read/20190219/493/972931/pemkab-klaten-diminta-siapkan-anggaran-dampak-tol-solo-jogja" title="Pemkab Klaten Diminta Siapkan Anggaran Dampak Tol Solo-Jogja"> proyek tol melintasi sekolah tersebut, Wasis mengatakan masih simpang siur. Hanya, sekitar dua pekan lalu ada petugas yang mengaku dari pelaksana proyek tol datang menyurvei.

Dugaan Wasis jika sekolah Yayasan Hidayah Klaten bakal terdampak proyek jalan tol makin kuat ketika rombongan pejabat Pemkab Klaten serta tim proyek tol Solo-Jogja mendatangi lokasi, Selasa (9/7/2019).

Pengelola mendapatkan informasi sebagian lahan sekolah itu masuk kawasan rencana jalanhttps://soloraya.solopos.com/read/20190207/493/970048/sebelum-ada-rencana-jalan-tol-harga-tanah-di-ngawen-klaten-segini" title="Sebelum Ada Rencana Jalan Tol, Harga Tanah di Ngawen Klaten Segini"> tol Solo-Jogja. “Katanya sebagian bangunan terkena jalan tol,” kata Wasis saat ditemui wartawan pejabat Pemkab dan tim proyek tol mendatangi lokasi, Selasa.

Wasis mengatakan pengelola sekolah hanya bisa pasrah. Namun, mereka meminta ada tempat baru untuk menampung seluruh siswa jika proyek tol benar-benar menggusur sekolah mereka.

“Harapan kami ada pemindahan ke tempat yang lebih baik dan sudah siap untuk menampung seluruh siswa sebelum dibongkar,” kata dia.

Sementara itu, warga Dukuh Sidorejo, Desa Beku, Kecamatan Karanganom, Klaten, meminta proyek jalan tol Solo-Jogja tak melintasi kampung mereka. Selain menerjang permukiman, di kampung tersebut terdapat makam kuno yang diyakini cikal bakal Sidorejo.

Sebelumnya, Bupati Klaten, Sri Mulyani, meminta pelaksana proyek tol menggeser rencana jalur yang melintasi perkampungan serta makam kuno di Beku.

Salah satu warga Dukuh Sidorejo, Desa Beku, Harto, 65, mengatakan keinginan warga agar proyek tol tak melintasi kampung di Sidorejo lantaran sudah tinggal di kampung tersebut secara turun temurun.

“Kalau pun dapat ganti untung, harus cari lokasi baru dan membangun rumah lagi,” kata Harto saat ditemui Solopos.com di Dukuh Sidorejo, Rabu (10/7/2019).

Makam Kuno

Selain permukiman, kompleks makam di dukuh setempat juga bakal terdampak proyek tol. Salah satu makam yang terpisah dengan makam lainnya diyakini sebagai makam tokoh cikal bakal Sidorejo.

“Ada makam kuno yakni makam Kiai Sadji. Sebelum ada orang di sini, sudah ada Kiai Sadji yang tinggal di kampung kami,” kata Harto.

Kadus I Desa Beku, Karyono, mengatakan selain makam Kiai Sadji, di Sidorejo juga terdapat tiga makam kuno lainnya. “Kiai Sadji itu pejuang pada masa zaman kolonial Belanda. Dia merupakan pejuang dari Keraton Yogyakarta. Begitu pula Suromenggolo, Dirjo Suwondo, dan Siti Sundari yang dimakamkan di Sidorejo,” kata Karyono.

Soal rencana proyek jalan tol yang melintasi Desa Beku, Karyono mengatakan itu bukan cerita baru. Pada 1995 atau era Presiden Soeharto, rencana proyek jalan tol Joglosemar pernah muncul.

Beku termasuk desa terdampak rencana proyek tol tersebut. Bahkan lahan di wilayah itu sudah dipasangi patok. Namun, hingga Presiden Soeharto lengser, proyek itu tak terealiasasi.

“Sekarang muncul rencana lagi. Kalau dulu [rencana proyek tol era Soeharto] lokasinya perbatasan Desa Karang dan Beku. Sementara sekarang antara Desa Troso dan Desa Beku. Kalau saya harapannya jangan sampai menerjang permukiman dan makam,” kata Karyono.

Kepala Desa (Kades) Beku, Alex Bambang Wijanarko, mengatakan rencana ruas jalan tol yang melintasi wilayah Desa Beku belum pasti. Pada Rabu, tim survei proyek tol Solo-Jogja kembali menyambangi Desa Beku untuk melihat kawasan-kawasan yang terdampak dari peta rencana jalan tol.

“Belum final untuk jalurnya. Harapan saya itu jalur untuk jalan tol lebih banyak melewati persawahan dengan sedikit perlintasan di permukiman,” kata dia.

Proyek jalan tol direncanakan melintasi 45 desa di sembilan kecamatan dengan total luas lahan 600 ha. Pada Selasa, Bupati Klaten, Sri Mulyani, serta sejumlah pejabat Klaten dan perwakilan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta konsorsium pelaksana proyek tol mengecek sejumlah lokasi dari rencana tersebut.

Sejumlah desa yang disambangi yakni Desa Kapungan di Kecamatan Polanharjo, Desa Kuncen di Kecamatan Ceper, Desa Beku di Kecamatan Karanganom, Desa/Kecamatan Ngawen, serta Desa Borangan di Kecamatan Manisrenggo.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten