Abu Nadhif/Dokumen Solopos

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (20/5/2019). Esai ini karya Abu Nadhif, jurnalis Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah abu.nadhif@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Final Liga Champions 2005 dijuluki sebagai comeback terbaik sepanjang sejarah turnamen terakbar di Benua Eropa. Kala itu, Liverpool yang tertinggal 0-3 pada babak pertama secara mengejutkan bisa menyamakan kedudukan pada 15 menit babak kedua dan memenangi laga dalam drama adu penalti.

Harapan jutaan Milanisti—julukan pendukung AC Milan—yang telanjur membubung tinggi terbanting keras ke bumi. Milan berubah dari tim superior menjadi tim under pressure. Para pemain level dunia itu bingung dan hanya bisa menjadi saksi gol demi gol ke gawang Nelson Dida.

Bintang AC Milan asal Brasil, Ricardo Kaka, menyebut kekalahan itu merupakan memori terburuk sepanjang sejarah bermain bola. Empat belas tahun kemudian, perasaan gundah Kaka bereinkarnasi ke diri Lionel Messi. Bintang Barcelona dan tim nasional Argentina itu tertunduk lesu saat keluar lapangan Stadion Anfield pada 8 Mei 2019 lalu.

Dua golnya di leg pertama yang membuat satu kaki Barcelona di final Liga Champions 2019 menjadi sia-sia. Mereka seperti diajari bermain bola oleh tim lawan. Pasukan Ernesto Valverde keok empat gol tanpa balas.  Pelakunya sama, Liverpool.

Saya menyebut Si Merah ini dengan raja pemberi harapan palsu atau raja PHP. Seolah-olah akan menyerah kalah, tapi ternyata menikam dengan sangat kejam. Jika saya pendukung Liverpool, jelas saya sangat bahagia dengan mental baja ini.

Meski saya pendukung Chelsea, sebagai penggemar sepak bola saya secara objektif mengakui dua kali kebangkitan mental Liverpool adalah teladan bagi pesepak bola. Liverpool mengajarkan ”tidak ada yang tidak mungkin dalam sepak bola” bukan sekadar slogan.

Bahwa sebagai pesepak bola jangan pernah berhenti berjuang sebelum peluit akhir pertandingan ditiup sang wasit. Karena kisah heroik Liverpool pada 2005 itu, pada 2010 lalu saya membuat tulisan menyemangati tim nasional Indonesia  yang tertinggal 0-3 dari Malaysia di leg pertama Piala AFF.

Banyak Faktor

Ketinggalan tiga gol bukan kiamat bagi Bambang Pamungkas dan kawan-kawan. Semua masih bisa terjadi. Dalam sepak bola tidak ada yang tidak mungkin. Selama bola masih bulat, selama peluit akhir belum ditiup, hasil masih bisa berubah.

Kehadiran motivator Andrie Wongso ketika itu menguatkan harapan Tim Garuda bangkit dari keterpurukan, tapi sejarah membuktikan tim nasional Indonesia tak mampu bangkit. Tim Garuda memang menang 2-1, namun kalah agregat. Tim Harimau Malaya berpesta di kandang Garuda.

Tidak banyak klub yang berhasil comeback dengan defisit tiga gol, apalagi menghadapi tim raksasa seperti AC Milan dan Barcelona. Liverpool adalah pengecualian. Dua tim itu sukses dipermalukan. Faktor apa yang membuat Liverpool mampu melewati mission imposible itu? Banyak.

Kualitas pemain, pastilah. Sikap mental, harus. Lalu, kemampuan pelatih memantik semangat, kondisi tim, dukungan suporter, dan lain sebagainya adalah faktor penunjang yang tak kalah penting. Semuanya berpengaruh.

Tidak bisa tergantung pada satu faktor saja. Itulah yang membuat sepak bola disebut sebagai olahraga tim. Kemampuan individu memang mempunyai pengaruh, tapi tak bisa menjadi penentu hasil. Semua faktor harus bergerak ke arah yang sama, hasil akhir.

Kapten Liverpool Henderson mengakui kunci timnya mengalahkan Barcelona adalah kepercayaan. Jurgen Klopp meminta timnya tidak menyerah dan terus percaya bahwa mereka bisa mengalahkan Lionel Messi dan kawan-kawan.

”Nikmati malam ini dan mungkin suatu hari nanti kami bisa bercerita kepada cucu kami bahwa kami mengalami malam yang spesial," kata Klopp. Bagaimana dengan Indonesia? Bisakah sepak bola Indonesia melewati mission imposible berkiprah di level Asia dan dunia? Sulit, tapi bukan tidak mungkin. Syaratnya, ada ketulusan untuk memperbaiki dan dilakukan secara bersama-sama.

Terlalu Banyak Masalah

Sepak bola Indonesia terlalu banyak masalah. Begitu banyak kepentingan masuk ke olahraga yang paling digandrungi di dunia ini, mulai kepentingan ekonomi hingga ke politik. Sayangnya, semua kepentingan tersebut hanya sebatas untuk sedikit orang atau kelompok. Bukan menciptakan iklim sepak bola sebagai industri seperti Inggris, Jerman, atau Spanyol.

Meski belum sesukses Barcelona, Real Madrid, atau Manchester United, Liverpool adalah salah satu klub di dunia yang manajemen timnya sehat. Kondisi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) yang karut-marut saat ini menjadi hambatan memajukan sepak bola Indonesia. PSSI adalah induk sepak bola dari klub.

Jika ingin sepak bola maju, PSSI harus lebih dulu maju dalam manajemen. Faktanya, pelaksanaan liga masih amburadul. Piala Indonesia yang digelar musim lalu hingga musim ini baru menyelesaikan babak perdelapanfinal. Suporter juga menjadi faktor yang tak kalah penting.

Kedewasaan suporter dalam mendukung tim menjadi bagian dari kesuksesan tim itu sendiri. Suporter yang baik adalah yang total memberi dukungan tapi tetap rasional. Tanpa anarkisme meski tim sedang terpuruk. Kasus kerusuhan suporter dalam laga perdana Liga 1 Shopee antara PSS Sleman versus Arema FC beberapa hari lalu menunjukkan ketidakdewasaan pendukung sepak bola.

Kasus serupa terjadi dan terus terulang. Akhirnya, sepak bola Indonesia lebih dikenang kerusuhannya, bukan prestasinya. Jadi, misi sulit memajukan sepak bola Indonesia hanya bisa dijawab jika semua elemen yang terkait bersedia memperbaiki diri masing-masing. Itu butuh kejujuran dan ketulusan.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten