Sejoli Remaja SMP Telat Pulang Lalu Dinikahkan Ngaku Tak Ada Paksaan, Ini Kisahnya
Pasangan siswa SMP usia 15 tahun dan 12 tahun dinikahkan karena terlambat pulang di NTB. (Detikcom-istimewa)

Solopos.com, LOMBOK TENGAH -- Pernikahan sejoli di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), S, 15, dan NH, 12, membikin heboh media sosial karena keduanya masih tergolong di bawah umur.

Selain itu, pernikahan sejoli yang masih duduk di bangku SMP atau tepatnya Madrasah Tsanawiyah itu dilatarbelakangi alasan orang tua NH tak terima anaknya telat pulang setelah jalan-jalan dengan S.

Kedua sejoli itu tinggal beda desa yakni di Desa Pengenjek dan Desa Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. S saat dihubungi mengaku NH merupakan cinta pertamanya.

Bukan Arus Pendek, Ternyata Ini Asal Api yang Membakar Gedung Kejagung

Kemudian, S bercerita awal kenalan dengan NH dari temannya pada Agustus lalu. Selang empat hari saling mengenal, S membawa NH jalan-jalan. Karena S pulang malam membuat orang tua NH tidak menerima.

Kepala Dusun asal S sempat melakukan pendekatan bahkan hingga tiga pekan sebelum akad nikah berlangsung. Namun, orang tua dari NH tetap tidak menginginkan anaknya kembali.

Pihak keluarga tak terima dan memutuskan menikahkan S dan NH secara diam-diam tanpa sepengetahuan KUA dan petugas lainnya.

"Saya bawa NH pulang ke rumah dan kakak saya mengantarkan dia ke rumah bibinya di Desa Tanak Beak, Kecamatan Batukliang," ungkap S.

Dibawa Pulang Malam Hari

Tak lama usai NH di rumah bibinya, ternyata orang tua dari NH membawa anaknya ke kediaman S. Orang tua NH tak terima anaknya dibawa pulang malam hari.

"Tapi saya juga mau menikah dan tidak ada paksaan dari orang lain dengan maskawin Rp2 juta," terang S dikutip dari Detikcom, Kamis (17/9/2020).

Tersangka Bantah Sejumlah Adegan Rekonstruksi Kasus Kekerasan Mertodranan Solo

Kini setelah menikah, S berjanji semaksimal mungkin untuk bisa menafkahi NH, terlebih NH masih kelas II Tsanawiyah. S sudah berhenti sekolah dan memilih untuk bekerja menjadi penjual sabun keliling.

"Saya keliling di pasar menjual sabun. Saya juga tidak mau dipisahkan dengan istri saya," ujar S.

Kepala Dusun (Kadus) Montong, Desa Pengenjek, Ehsan, membenarkan cerita sejoli ini. Menurutnya, S dan NH pergi berdua pada siang hari dan pulang sekitar pukul 18.30 Wita.

Penjual Salep Asal Sragen Jadi Korban Pemerasan, Mobil, Motor, dan Uang Rp48 Juta Dikuras

Dia menjelaskan NH sempat diantar pulang ke rumah. Tapi orang tuanya tidak menerima dengan alasan NH akan kembali juga karena keduanya saling mencintai.

"Saya sempat sarankan agar anak ini dipisah dulu karena masih anak di bawah umur dan orang tua NH tetap ngotot. Setelah empat hari saya datangi Kadus asal NH ini dan kadus di sana juga menyampaikan agar nikah di bawah tangan saja," kata Ehsan pada wartawan, Rabu (16/9/2020).

Berusaha Semaksimal Mungkin

Karena tak ada titik temu, Ehsan selaku kadus tidak mengurusnya lagi. Namun, kakak dari S tiba-tiba pergi ke rumah keluarga mempelai perempuan dan sepakat untuk menikahkan kedua anak itu. Pernikahan S dan NH dilangsungkan Sabtu (12/9/2020).

"Saya juga tidak hadir saat pernikahan berlangsung. Padahal saya sudah berusaha semaksimal mungkin agar tidak terjadi," jelasnya.

Keluyuran di Karanganyar Tak Pakai Masker Kena Denda Rp20.000

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Lombok Tengah, Jalalus Sayuty, menyebut pernikahan pasangan di bawah umur itu tidak bisa dicatat dalam aplikasi SIMKAH (Sistem Informasi Manajemen Nikah).

"Secara aturan untuk bisa dicatat dan masuk SIMKAH minimal usia 19 tahun untuk laki-laki dan perempuan. Dan itu (pernikahannya) tanpa diketahui KUA," ungkapnya saat dihubungi detikcom, Kamis.

Jalalus menjelaskan pernikahan sepasang remaja SMP yang berawal karena terlambat pulang ke rumah itu tidak diperbolehkan oleh hukum dan undang-undang.

Sumber: detik.com



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom