Kategori: Solo

Sejarah Prameks: Bermula dari Kuda Putih hingga Kini Jadi KRL


Solopos.com/Danang Nur Ihsan/Tim Solopos

Solopos.com, SOLO -- Jejak sejarah Kereta Api (KA) Prambanan Ekspres (Prameks) rute Solo-Jogja membentang selama sekitar 27 tahun. Haru biru membuncah saat kereta rel diesel (KRD) ini digantikan dengan kereta rel listrik (KRL) mulai Rabu (10/2/2021).

KRD Prameks yang selama ini rutin melayani rute Solo-Jogja tidak sepenuhnya pensiun. Kereta ini kini melayani rute Kutoarjo-Jogja PP dengan jumlah delapan perjalanan.

“KA Prambanan Ekspres juga tetap hadir melayani para pengguna setianya di Yogyakarta-Kutoarjo," jelas Direktur Utama PT Kereta Commuter Indonesia (KAI Commuter), Wiwik Widayanti, Kamis (4/2/2021).

Sejarah Prameks bermula dari KA Kuda Putih. Pada 1960, nama Kuda Putih disematkan lantaran adanya logo kuda di atas jendela masinis. Kuda Putih adalah rangkaian kereta rel diesel (KRD) pertama di Indonesia. Pada 20 Mei 1994, KA Prameks versi lokomotif resmi diluncurkan.

Baca Juga: Jadwal Pelantikan Gibran-Teguh Belum Jelas, Ahyani Disiapkan Jadi Pj Wali Kota Solo

Bermula dari melayani rute Solo-Jogja, Prameks kemudian merambah rute Kutoarjo-Jogja-Solo. Rata-rata dalam satu hari, kurang lebih ada 22 KA Prameks hilir mudik di 10 stasiun.

Perjalanan Prameks tidak langsung sukses. Bahkan sempat hendak ditutup karena sepi penumpang. Tapi belakangan KA tersebut justru menjadi favorit masyarakat sebagai sarana transportasi yang murah meriah.

Dari tahun ke tahun jumlah penumpang Prameks atau yang akrab disebut Pramekers meningkat. Misalnya pada 2016, jumlah pengguna KA Prameks sekitar 2.973.891 orang. Jumlahnya terus meningkat pada 2017 menjadi 3.650.144 penumpang. Angka ini terus meningkat hingga pada 2018 menjadi 3.940.671 pengguna. Penumpang juga terus meningkat di tahun-tahun berikutnya.

Penantian Panjang KRL

Bagi para Pramekers, Prameks punya sejarah tersendiri bagi mereka. Nadia, 21, mahasiswi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, menyatakan Prameks mempermudah perjalanannya dari Jogja ke Solo dan sebaliknya.

Baca Juga: Ganjar Terima Permintaan Maaf PT Tiga Serangkai, Soal Buku Pelajaran

”Kalau dibanding sama kendaraan pribadi [mobil], lebih enak naik Prameks. Soalnya lebih cepat dan enggak bikin capai,” ujarnya kepada jeda.id, beberapa waktu lalu.

Elis, pengguna KA Prameks dari Klaten, juga mengatakan bahwa penumpang Prameks yang hangat, ramah, dan rela menolong, akan selalu ia rindukan setelah digantikan KRL.

“Saya ingat. Waktu saya hamil, saya diberi tempat duduk sama penumpang lain. Saya dibantu duduk waktu itu,” ungkapnya di Stasiun Maguwo.

Ketua Paguyuban Pramekers, Noor Harsya Aryo Samudro, 45, juga merasa kehilangan. Bagi dia, KA Prameks mengukir banyak sejarah dan telah menciptakan kehidupan saka sepur dadi sedulur atau dari kereta menjadi saudara.

Baca Juga: Hari Pertama KRL Jogja-Solo Beroperasi, Penumpang: Perlu Membiasakan Tapping Kartu

Pada satu sisi, pria yang menjadi staf pendidik di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu merespons baik hadirnya KRL Solo-Jogja.

“Adanya KRL sebenarnya sudah dijanjikan pemerintah sejak 2012. Kami menunggu delapan tahun lebih sehingga saat ini benar-benar ada. Seperti mimpi di siang bolong,” ungkapnya.

Share